Belajar Kesetiaan dari Anjing Bali
JANGAN mengaku setia kalau belum pelihara anjing bali. Jangan mengaku pecinta anjing kalau makan daging anjing. Jangan mengaku petugas peternakan kalau kerjanya membunuh anjing sem...
Dulu, ketika wayang berjaya, semua lapisan masyarakat sangat menyukai menonton. Termasuk anak-anak. Walaupun yang diceriterakan dalam pertunjukan wayang itu dunia orang dewasa. Meskipun, pertunjukan wayang itu tidak pernah mempertontonkan dunia mereka. Seperti, bermain bersama, berpetualang bersama, belajar bersama, menyanyi bersama. Meskipun tidak pernah mempertontonkan ceritera yang bernuansa dunia anak. Meskipun juga, tidak pernah menceriterakan kehidupan masa kecil Pandawa dan Kurawa bila mementaskan ceritera Mahabharata. Atau mementaskan ceritera masa kanak-kanak Sang Rama dan Rahwana bila menggelar Ramayana dalam pertunjukan wayang.
Anak-anak dulu suka, bisa jadi, disebabkan ingin menghadirkan diri dalam keramaian yang memberi hiburan. Bisa jadi juga, disebabkan wayang mempunyai daya pikat tersendiri bagi anak-anak. Sebab, wayang sebagai tontonan, tampil beda dengan pentas lain seperti Arja, Topeng, Prembon, Gambuh atau Janger maupun Cak.
Anak-anak dulu, sebagai penonton jelas berbeda arti kehadirannya dalam menonton wayang dibandingkan penonton dewasa. Anak-anak menonton apa adanya. Tanpa berusaha mengapresiasi lebih jauh. Tidak bermaksud, hadir, menonton, menyimak lebih jauh. Mengkaji lebih detail atau mencari makna filosofis yang tersirat di dalamnya. Tidak juga bertujuan mencari panutan atau teladan dari tokoh yang dikisahkan dalam tontonan wayang. Pun, hadir menonton tidak untuk mencermati alur cerita, mencermati untuk mencari kesalahan modulasi vokal dalang ketika tokoh-tokoh wayang mengadakan dialog di balai rung atau di…….
Bila dicermati lebih jauh, ada hal-hal yang menyebabkan anak-anak dulu suka menonton wayang. Ceritera yang dipertunjukkan sebagai lakon wayang, di luar pentas, diceriterakan oleh orang tua saat menjelang tidur. Diceriterakan cara bertutur yang menarik dengan pemaparan alur ceritera yang linier. Dan, dengan bahasa yang mudah dicerna dan dipahami anak-anak. Diceriterakan juga, dengan ekspresi sederhana tetapi memikat.
Terkadang, pada bagian yang menarik, mendadak ceritera dihentikan. Tujuannya agar anak yang mendengar penasaran. Karena penasaran, meminta ceritera wayang yang dihentikan dilanjutkan malam berikutnya.
Lain dari yang disebut di atas, ceritera wayang juga diceriterakan oleh orang dewasa atau orangtua. Diceriterakan di depan anak-anak yang duduk mendengarkan dengan khidmat. Yang bercerita menyajikan ceritera yang runut. Bahasa yang digunakan cepat dicerna anak-anak. Dibumbui humor segar yang mengundang tawa. Ekspresi saat berceritera disesuaikan dengan suasana ceritera. Juga disesuaikan dengan jiwa tokoh yang diceriterakan. Volume suara, diselaraskan dengan situasi ceritera.
Anak-anak yang diberi sajian ceritera wayang tidak sadar, sang penceritera menanamkan rasa cinta ke dalam hatinya. Sudah jelas rasa cinta kepada wayang yang dimaksud di sini. Rasa cinta yang ditanamkan ini, tanpa disadar, membangun kerinduan anak-anak pada pertunjukan wayang. Kerinduan ini menjadi pemicu untuk menonton bila mendengar aka ada pertunjukan wayang.
Anak-anak yang mendengar ceritera wayang ketika itu, tidak sadar, dunia dongeng membentangkan jembatan di dalam dirinya. Jembatan menuju dunia pentas: pertunjukan wayang. Tidak menyadari pula dunia dongeng yang disampaikan secara lisan menggiring dirinya agar mewujudkan keinginan untuk dapat menonton pertunjukan wayang. Pertunjukan yang ditampilkan oleh seseorang yang perannya sebagai penceritera sama dengan pendongeng yang membedakan: properti, ilustrasi gender yang mengiringi. Ada satu lagi yang membedakan, dalam pertunjukan wayang, penceritera tidak terlihat dari depan. Sebab, ditutupi kelir.
Sekarang, mendongeng wayang sebelum tidur merupakan peristiwa langka. Penyebabnya, kesibukan orang tua yang kian suntuk untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin kompleks. Penyebab lain tidak setiap orang tua mengetahui dengan detail ceritera wayang. Bahkan ada sama sekali tidak tahu. Ada satu penyebab lagi, tayangan untuk anak-anak ditelevisi makin marak dan makin menarik hati mereka. Yang ditayangkan dunia mereka sendiri. Bermain bersama, belajar bersama, adu ketangkasan, adu kecerdasan. Dan penayangannya, disertai latar sesuai dunia anak-anak. Ceritera yang disajikan tidak jauh dari dunia anak-anak.
Sangat ekstrim, bila dikatakan, wayang sebagai tontonan dijauhi oleh anak-anak. Sangat ekstrim juga, bila dikatakan, lambat laun, wayang sebagai dunia pertunjukan akan ditinggal anak-anak. Siapa tahu, ada pihak yang masih mencintai wayang membuat tokoh wayang anak-anak dan mempertontonkan sebagai pertunjukan. [T]
JANGAN mengaku setia kalau belum pelihara anjing bali. Jangan mengaku pecinta anjing kalau makan daging anjing. Jangan mengaku petugas peternakan kalau kerjanya membunuh anjing sem...
MAHASISWA baru, di mana pun, mau tak mau, akan mengawali “kuliah” dengan melakukan adaptasi dan pengenalan lingkungan kampus. “Kuliah” awal itu di Indonesia biasa disebut Ospek (Or...
TANGGAL tujuh belas Agustus adalah peringatan, perayaan, dan perenungan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Semua orang tahu itu. Pada tanggal 17 Agustus pada setiap tahunnya, sej...
KALAU seseorang dinilai bicara panjang lebar tetapi tak ada isinya, lazimnya orang itu disebut mengumbar omong kosong. Orang macam begini dianggap lebih buruk tinimbang seorang pen...
KAMPUS adalah tempat kaderisasi bagi para pemimpin bangsa dan negara. Di suatu negara kita mengenal adanya pemerintahan, pada umumnya pemerintahan diselenggarakan dan dijalankan ol...
“DENGAN melewati tahapan hidup dari Sudra menuju Wesya, dari Wesya menuju Satria, dari Satria menuju Brahmana, seseorang mencapai Moksha,” guru saya pernah berucap demikian suatu h...
UNTUK yang ketiga kalinya, saya menginjakkan kaki di Desa Mausamang Kiralela di Kecamatan Alor Timur, NTT. Bersahabat lebih dekat dengan desa ini membuat saya kecanduan untuk pergi...
ADA banyak cara merayakan Kemerdekaan. Seperti warga sekitar sungai Tukad Unda, Klungkung. Di situ, suasana 17 Agustus 2016 berbeda dari sebelumnya. Dari jembatan Tukad Unda terben...
Indonesia tanah airku Tanah tumpah darahku Di sanalah aku berdiri Jadi pandu ibuku ……. TIAP kali menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya atau mencermati teksnya, saya selalu te...
MUNGKIN banyak yang belum tahu bahwa salah satu putra Buleleng ikut berperan dalam terbentuknya Republik Indonesia. Namanya, Mr. I Gusti Ketut Pudja. Dia menjadi satu-satunya waki...