Barong dan Rangda Sasuhunan masyarakat Desa Adat Tegal melinggih di BaleAgung pada saat ritual Ngerebeg {foti Adi Gunarta]
Wraspati
kliwon wuku langkir, hampir seluruh warga masyarakat Desa Adat
Tegal, Abiansemal, Badung, Bali, tumpah ruah ke Pura Dalem atau yang lebih populer
disebut Pura Gede. Mereka berpakaian sembahyang dan ekspresi wajahnya tampak
sangat bergembira. Sungguh pemandangan yang menakjubkan.
Hari itu krama Desa Adat Tegal sedang menggelar
ritual Ngerebeg. Sorak sorai
bergemuruh disertai bunyi gambelan menjadikan
suasana desa sangat meriah, ramai, dan tentunya kental dengan nuansa
kesakralannya. Ngerebeg dilaksanakan
setiap enam bulan sekali serta masih serangkaian dengan perayaan Galungan dan
Kuningan, tepatnya pada hari Kamis, lima hari setelah hari raya Kuningan.
Ngerebeg
berasal
dari kata gerebeg/grebeg yang artinya berjejal (orang
banyak), riuh, bergemuruh. Para tetua di desa yang sempat penulis wawancarai
beberapa tahun silam sekitar tahun 2012 mengatakan bahwa, istilah ngerebeg memiliki arti yang sama dengan
kata ngerebak atau ngerejeg yang berarti ‘besar-besaran’.
Berdasarkan arti tersebut
dan dilihat dari prosesi pelaksanaannya, maka ngerebeg dapat dimaknai sebagai suatu upacara yang dilakukan secara
besar-besaran serta melibatkan seluruh krama
desa dari delapan banjar yang ada di desa itu. Warga dari tiap-tiap banjar
tersebut telah dijadwalkan secara bergantian (setiap enam bulan sekali) oleh
pihak prajuru desa adat, baik sebagai
pangiring barong sasuhunan, banjar pengramen/ngeramaiang,dan lain-lainnya, mulai dari awal
sampai berakhirnya ritual ngerebeg. Bahkan
warga setempat yang tinggal di luar desa ataupun telah menikah keluar desa, mereka
akan selalu berusaha menyempatkan diri pulang untuk mengikuti upacara ini.
Tujuan utama dari ritual
ini ialah untuk memohon keselamatan kepada Ida
Sang Hyang Widhi Wasa/betara-betari sasuhunan,agar seluruh warga desa diberikan perlindungan, kemakmuran, dan terhindar
dari wabah penyakit maupun mara bahaya. Tempat pelaksanaan ritual ngerebeg dipusatkan di Pura Gede (Pura
Dalem Batan Dulang), Desa Adat Tegal, tepatnya di Bale Agung.
Iring-iringan pengawin (tombak/panji-panji) dalam ritual Ngerebeg {foto: Adi Gunarta]
Oleh masyarakat setempat,
ngerebeg sering pula disebut wraspatingepik atau wraspatipangepikan. Ngepik artinya menghitung. Hal ini tentunya berkaitan erat dengan
adanya suatu prosesi dalam ritual ngerebeg
yang disebut tek cor, yaitu cara (sistem
cacah jiwa/sensus) yang dilakukan untuk mengetahui atau menghitung jumlah
penduduk (krama)Desa Adat Tegal. Dahulunya dalam tek cor ini setiap keluarga melaporkan jumlah anggota keluarganya
dengan menghaturkan jinah bolong (uang
kepeng), dimana tiap-tiap orang dihitung satu keping jinah bolong. Ini berarti setiap keluarga menghaturkan uang kepeng
sesuai dengan jumlah anggota keluarganya masing-masing. Berdasarkan jumlah dari
seluruh uang kepeng yang terkumpul, maka dapat diketuhui pula jumlah penduduk
desa. Namun kini, oleh karena keberadaan uang kepeng asli ‘cukup sulit’ dan seiring
perkembangan serta perjalanan waktu, uang kepeng tersebut seringkali diganti
dengan uang rupiah.
Di dalam upacara ngerebeg terdapat iring-iringan (arak-arakan)
benda-benda pusaka berupa pengawin (tombak
atau panji-panji kebesaran yang bergambarkan dewata nawa sanga/sejenisnya), keris pusaka, danberbagai macam bentuk barong mulai dari barong ket, barong bangkal, barong macan, barong landung, hingga rangda yang diusung beramai-ramai mengelilingi
desa selama prosesi berlangsung. Barong
dan rangda yang ditarikan dalam
prosesi ngerebeg ini merupakan sasuhunan (disakralkan) serta disungsung dibeberapa pura kahyangan di desa
itu dan sangat dikeramatkan oleh masyarakat setempat. Sebelum upacara ngerebeg di mulai, seluruh barong maupun rangda dari masing-masing pura akan disthanakan di Bale Agung.
Secara keseluruhan jumlah
sasuhunan atau sungsungan yang ada dalam ritual ngerebeg, yaitu: delapan barong yang terdiri dari: satu barong ket, tiga barong bangkal, dua barong
macan, satu pasang atau dua barong
landung (lanang-istri). Kemudian
terdapat dua rangda, satu rarung, dan sepuluh sisia. Di dalam prosesi Ngerebeg
ini, ketika seluruh petapakanbarong, rangda, dan keris pusaka telah melinggih (distanakan) di Bale Agung, maka ritual pun dimulai
sekitar pukul 15.00 Wita. Namun sebelumnya, sekitar pukul 13.30 Wita barong maupun rangda sasuhunan itu terlebih dahulu telah diusung (lunga)menuju Bale Agung.
Para pemangku menghaturkan sesajen pada saat ritual Ngerebeg {foto: Adi Gunarta]
Upacara ini diawali
dengan menghaturkan sesaji berupa perasdaksina atau pejati, segehan agung, dan
penyambleh kucit butuan (persembahan
berupa anak babi, biasanya berwarna hitam) yang dipandu oleh belasan pemangku. Setelah mantra-mantra yang diiringi
dentingan bunyi bajra selesai
dipanjatkan, ritual kemudian dilanjutkan dengan pemotongan penyambleh kucit butuan yang dipotong dengan sebilah keris. Darah
yang ada pada bagian kepala penyambleh itu
kemudian dioleskan pada prerai/tapel (di
bagian dagu) dari tiap-tiap barong,rangda, dan sisia, sertapada keris
pusaka. Darah tersebut dapat dimaknai sebagai simbol sakralisasi pada petapakan ida betara atau barong sasuhunan.
Setelah prosesi
menghaturkan sesaji itu selesai, acara dilanjutkan dengan persembahyangan
bersama. Seluruh krama desa mengikuti
persembahyangan dengan penuh hikmat. Areal pura yang luas itu pun bagaikan
‘lautan manusia’, penuh disesaki oleh krama
yang begitu antusias mengikuti ritual, mulai dari area utama mandala (jeroan pura),
madya mandala (jabatengah), nista mandala (jaba sisi), bahkan hingga sampai memenuhi badan jalan yang berada
di depan (jaba) pura. Selesai
bersembahyang krama diberikan nunas tirta (air suci)dan
bija (biji beras yang telah direndam air)oleh para pemangku pura.
Uniknya ialah bija pada ritual ngerebeg ini dicampurkan dengan darah
dari penyambleh kucit butuan, sehingga
warnanya menjadi agak kemerahan.
Barong dan Rangda Sasuhunan yang telah dihias di sthananya masing-masing, sebelum ritual Ngerebeg dimulai [Foto-foto: Adi Gunarta]
Ritual ini merupakan
salah satu bentuk upacara Dewa Yadnya
dan BhutaYadnya yang pelaksanaannya melibatkan seluruh elemen masyarakat
desa. Tata pelaksanaan prosesi ritual ini terdiri dari beberapa tahapan, yaitu:
Ngiasin, yakni menghias barong dan rangda sasuhunan dengan bunga cempaka di sthananya masing-masing.
Tiap-tiap barong maupun rangda sasuhunan itu penuh dihiasi bunga
cempaka yang jumlahnya bisa mencapai ratusan bahkan mungkin ribuan serta
dipadukan dengan bunga anggrek dan mawar.
Aroma wangi semerbak yang
dihembuskan senantiasa memperkuat nuansa magis dari ritual ini; Mamendak ialah prosesi menjemput betara sungsungan (barong dan rangda sasuhunan)
di sthananya masing-masing untuk diusung (lunga)
menuju ke Bale Agung dengan diiringi tetabuhanbaleganjur; Pujawali,
yakni persembahan sesajen kepada betara-betari
yang dipandu oleh pemangku dan
dilanjutkan dengan persembahyangan; Murwadaksina
atau Mapurwadaksina, ialah
prosesi dimana keris pusaka, barong, dan
rangda sasuhunan berputar (searah
perputaran jarum jam) mengelilingi Bale Agung
sebanyak tiga kali yang diawali arak-arakan pangawin
(tombak/panji-panji).
Prosesi ini diiringi tetabuhan menggunakan gambelan gong kebyar dengan gending gilak dan kale; Ngunya, yakni
prosesi seluruh barong, rangda, dan
keris pusaka mengelilingi wewidangan atau
wilayah desa (diawali dengan arak-arakan pengawin)
dengan menyusuri jalan-jalan desa atau bagian terluar dari desa serta diiringi gambelan baleganjur.
Prosesi Mapurwadaksina di Bale Agung dalam ritual Ngerebeg {foto-foto: Adi Gunarta]
Pada prosesi ngunya, seluruh barong, rangda, dan keris pusakaitu juga dihaturkan sesaji (segehan
cacahan) di setiap pura kahyangan yang tersebar di wilayah Desa Adat Tegal.
Ngunya dimulai dari Pura Gede yang
menjadi pusat berlangsungnya ritual (berada disisi timur desa), selanjutnya
menuju ke Pura Dalem Gegelangyang
letaknya cukup berdekatan dengan Pura Gede (di sebelah barat), lalu menuju ke Catus Pata atau perempatan agung desa.
Dari CatusPata kemudian ke arah utara menuju Pura Desa Kaja/Aban dan Pura Puseh
Kaja/Aban serta ke Pura Dalem Kaja/Aban dan Pura Ntegana, lalu kembali ke selatan
menuju Pura Prajapati Alit(bertempat
di Setra Alit) yang berada disisi
barat desa dan berlanjut ke selatan menuju Pura Dalem Pesanggaran.
Dari Pura Dalem Pesanggaran
dilanjutkan ke arah timur menuju Pura Puseh, kemudian ke utara menuju Pura Prajapati
Agung (bertempat di Setra Agung/Setra
Gede) dan kembali lagi ke Pura Gede. Terakhir, usai prosesi ngunya (sekitar pukul 19.30-an Wita), barong dan rangda sasuhunan itu pun kembali budal ke sthananya masing-masing diiringi dengan gambelanbaleganjur.
Prosesi Ngunya (mengelilingi wilayah desa)padasaat ritual Ngerebeg [Foto_foto: Adi Gunarta]
Prosesi ritual ngerebeg ini merupakan ciri atau identitas
dari Desa Adat Tegal yang menjadi suatu kebanggaan dan memiliki makna
tersendiri dalam kehidupan sosial masyarakatnya. Dalam konteks spiritual, ngerebeg memiliki fungsi utama, yaitu
sebagai sarana ritual yang bertujuan untuk memohon berkah dan keselamatan serta
menetralisir kekuatan-kekuatan negatif (nyomia
bhuta kala) untuk dapat menjadi kekuatan positif (kedewataan). Ritual ini
dipercayai oleh masyarakat dapat memproteksi dari segala bentuk wabah penyakit,
maupun pengaruh-pengaruh negatif lainnya.
Dilihat dari konteks sosialnya, ngerebeg dapat menjadi media untuk mempererat dan mempersatukan masyarakat desa diantara keanekaragaman strata sosial maupun golongan. Selain itu, kebersamaan saat mamundut (mengusung) barong dan rangda dalam ritual ini juga dapat membangkitkan dan memupuk rasa solidaritas, memperkuat rasa keakraban serta kerja sama di antara warga desa, sehingga satu dengan lainnya memiliki rasa saling memiliki, saling menghargai, dan saling menjaga. Semoga tradisi ngerebeg dapat terus dilestarikan, guna menjaga khazanah warisan seni dan budaya daerah. [T]
DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa y...
SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?"
Pertanyaan...
PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 20...
KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang be...
"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Bupati Buleleng, dr. I...
JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dan...
HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara temba...
MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA
mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata
jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta kebijakan berbe...
TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busa...
RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramaya...