Yang
saya hormati, Bapak Menpora RI Zainudin Amali. Bagaimana kabarnya, Pak? Semoga
sehat selalu di mana pun dan kapan pun. Perkenalkan Pak, saya I Made Julio
Saputra, akrab disapa Julio. Saya bukan siapa-siapa Pak, hanya seorang pemuda
dari suatu desa kecil di tengah-tengah Pulau Bali yang hobi membuat status
galau di media sosial. Percayalah Pak, kenyataannya saya memang bukan
siapa-siapa, karena kata mantan saya tempo hari, saya bukan siapa-siapa lagi.
Hiks sedihnya hati saya Pak.
Baiklah, lupakan mantan sejenak. Sejujurnya Pak, saya itu ngefans banget sama Bapak. Sumpah. Saya memang suka ngefans sama pejabat-pejabat negara Pak, tapi tidak semuanya lho, hanya yang berkaitan dengan hal-hal yang saya suka saja. Contohnya ya Bapak sendiri. Kebetulan saya suka olahraga, dan saya juga masih muda, bujang, dan perjaka, masih bisa dikategorikan sebagai pemuda. Terlebih 2 tahun lalu, saya mengikuti program Kapal Pemuda Nusantara (KPN), salah satu program kenamaan milik Kemenpora RI yang sudah dilakukan sejak tahun 2005. Makin ngefanslah saya sama pejabatnya.
Pokoknya Bapak itu idola saya banget Pak. Semoga saya bisa bertemu Bapak lagi di kemudian hari. Sesekali boleh juga saya diundang untuk makan siang bersama Pak. Hehehe. Oh ya Pak, saya bermaksud membuat surat terbuka ini karena ada yang ingin saya sampaikan Pak. Saya ingin heart to heart ke Bapak, karena heart to heart ke mantan saya sudah tidak mungkin lagi. Dia sudah menikah dengan lelaki yang tentu saja lebih baik dari saya. Jadi saya berharap sekali Bapak membaca surat terbuka saya ini, karena kalau tidak dibaca, waduh tambah sakit hati dong saya Pak.
Oh, satu
lagi, dalam surat terbuka ini, saya tidak bermaksud menggurui Bapak, saya yakin
Bapak sudah lebih tahu dari saya. Bapak sudah lebih awal menikmati asam garam pahit
manis kehidupan, pun sekarang sudah menjadi salah satu pejabat negara.
Penjelasan-penjelasan saya dalam surat ini dimaksudkan agar bisa juga
tersampaikan kepada pembaca setia di rumah, karena memang beginilah tujuannya
adanya surat terbuka. Bertukar ide, bertukar pikiran. Bertukar hati? Waduh saya
belum siap. Masih trauma sakit hati.
Jadi
begini Pak, ada kabar yang berhembus bahwa mulai tahun ini, program Kapal
Pemuda Nusantara (KPN) tidak akan diadakan lagi untuk seterusnya. Entah ini
benar atau tidak, tapi begitulah kata salah satu sumber yang dirasa
menyakinkan. Duh Gusti Prabu….
Mendengar kabar itu, hati saya sakit bukan main Pak, remuk seremuk-remuknya,
perih seperih-perihnya. Terkoyak-koyak hati ini Pak. Kualitas sakit hati saya
bahkan bisa disamakan ketika saya ditinggal selingkuh oleh pacar saya yang saya
cintai segenap hati saya. Luka lama yang sudah terkubur dalam tiba-tiba
menganga kembali dengan lebarnya. Sakit sekali Pak. Saya secara pribadi tidak
rela jika kemudian program KPN benar-benar dihapuskan. Hiks.
Sama
seperti tulisan saya sebelumnya di tahun 2018 yang berjudul “Pak Menteri, Mohon Pertahankan Program Kapal Pemuda
Nusantara!” melalui surat terbuka ini, tanpa mengurangi rasa hormat,
saya memohon kepada Bapak agar program KPN tetap diadakan Pak, agar tetap
dipertahankan. Tentu permohonan saya ini disertai alasan yang jelas Pak, tidak
seperti mantan saya yang pergi tanpa meninggalkan alasan apapun. Nah, alasannya,
bagi saya, atau mungkin bagi teman-teman saya, KPN adalah program berbasis
kepemudaan yang berkaitan erat dengan kemaritiman dan kelautan Indonesia dan sebenanrnya
itulah yang menjadi keunggulan dalam program ini Pak, sehingga KPN menjadi
program yang sangat pantas diadakan mengingat Indonesia adalah negara maritim.
Berbicara
tentang Indonesia sebagai negara maritime, barangkali penting bagi kita semua
untuk tahu tentang sejarah peradaban maritim dunia, tentang teori hukum laut
atau konsep Mare Liberum yang
dicetuskan Hugo Grotius, atau juga tentang jaringan pelayaran nusantara yang
dikuasai VOC dengan mengubah konsep laut terbuka menjadi konsep laut tertutup,
yang kemudian diceritakan Pramudya Ananta Toer dalam karyanya berjudul Arus
Balik. Hhhmmm, sebenarnya ini sedikit agak panjang kalau diceritakan.
Namun, terlepas
dari hal-hal di atas, yang paling penting dan wajib untuk diketahui adalah
kenyataan bahwa Indonesia memiliki luas perairan lebih besar dari pada luas
daratan. Kalau saya tidak salah Pak (mudah-mudahan saya tidak salah), Indonesia
memiliki 17.499 pulau dari Sabang sampai Merauke dengan luas total wilayah
Indonesia 7,81 juta km2, terdiri dari 2,01 juta km2
daratan, 3,25 juta km2 lautan, dan 2,55 juta km2 Zona Ekonomi
Eksklusif (ZEE). Jika dipresentasekan, 75% wilayah Indonesia adalah perairan,
dan sisanya 25% adalah daratan. Wow. Luar biasa sekali Pak. Tak heran jika
nenek moyang saya dulunya adalah seorang pelaut, pandai mengarungi luas
samudra, menanjak ombak menembus badai sudah biasa.
Nah, bisa dibayangkan Pak, karena hal tersebut, Indonesia tentu memiliki keindahan bahari dan hasil laut dengan kualitas terbaik. Mulai dari pulau-pulau yang cantik lengkap juga dengan terumbu karang dan tumbuhan laut yang tak kalah cantik, bahkan lebih cantik dari mantan-mantan saya. Eh lagi-lagi saya malah teringat mantan. Hehehe. Mohon maaf, Pak, bayangan masa lalu memang kadang suka menghantui gitu, terutama bagi budak-budak sakit hati seperti saya ini.
Oke, lanjut ya Pak. Kalau saya tidak salah lagi, luas terumbu karang di Indonesia mencapai 50.875 kilometer persegi yang kemudian menyumbang 65% luas total turumbu karang di coral triangle dan 18% luas total terumbu karang dunia. Di samping itu, Indonesia juga memiliki kekayaan laut lainnya, seperti kan, udang, dan berbagai jenis hewan laut lainnya yang memikat hati masyarakat dunia. Sayangnya, keindahan dan kekayaan laut Indonesia juga menjadi daya tarik bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan illegal fishing, trafficking, bahkan penyelundupan senjata. Ini serius. Saya tidak bohong.
_____
Para pemuda peserta program Kapal Pemuda Nusantara [Foto: Ist]
Itulah
barangkali yang kemudian melatarbelakangi adanya program yang kedepannya
mengharapkan peran pemuda Indonesia untuk menjaga sekaligus membangun kelautan
Indonesia, mengingat laut juga memiliki peran yang sangat penting karena
menyimpan potensi yang sejatinya luar biasa bermanfaat, dan program Kapal
Pemuda Nusantara (KPN) itulah yang menjadi salah satu cara pemerintah untuk
memajukan, mengembangkan, dan memanfaatkan potensi laut Indonesia melalui
perantara pemuda. Ya, pemuda seperti saya ini Pak, juga seperti teman-teman
saya yang lain. Tugas untuk melindungi kemaritiman dan kelautan Indonesia,
mencakup pertahanan, keamanan, kelestarian dan pengelolaan sumber daya kelautan
Indonesia, bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, namun juga tanggung
jawab semua masyarakat Indonesia, terutama generasi muda penerus tongkat
estafet pembangunan bangsa.
Melalui
perantara pemuda, tentu sangat diharapkan dapat mendukung Indonesia untuk
mencapai tujuannya sebagai poros maritim dunia, sebagai negara maritim yang
besar, kuat, dan makmur melalui pengembalian identitas Indonesia sebagai bangsa
maritim, pengamanan kepentingan dan keamanan maritim, memberdayakan potensi
maritim untuk mewujudkan pemerataan ekonomi Indonesia. Kata kebanyakan orang,
sudah saatnya Indonesia bangun dari tidur lelapnya sebagai bangsa maritim jika
tidak ingin tertindah oleh bangsa lain. Ayo banyun.
Selama
pelaksanaan program KPN, selama kurang lebih 2 sampai 3 minggu (mungkin juga
lebih, seperti KPN Sail Tomini 2015 yang berlayar hampir satu bulan), pemuda-pemudi
dari seluruh Indonesia yang ikut di dalamnya diajak berlayar mengarungi beberapa
sudut lautan Indonesia. Jujur saya suka sekali bagian mengarungi lautan
Indonesia ini, karena mengarungi lautan hatinya hanya membuat saya tenggelam
dalam kesedihan yang ngilu dan pilu. Huhuhuhu.
Peserta
program juga diajak bersentuhan langsung dengan segala hal yang berhubungan
dengan laut, melakukan aktivitas kebaharian, mengunjungi tempat-tempat
konservasi laut dan hasil laut, mengunjungi daerah pesisir termasuk berinteraksi
dengan masyarakatnya. Pemuda diajak membuka wawasan mereka sebagai anak anak
bangsa akan kelautan dan kemaritiman. Mereka diberikan berbagai wawasan,
tentang laut yang dulu menjadi media transportasi utama antardunia, tentang
laut yang menjadi jalur lalu lintas pelayaran dan perdagangan antarwilayah di
Indonesia bahkan juga negara-negara lain.
Mereka juga mendapat wawasan tentang potensi laut Indonesia yang menjadi salah satu sumber pangan masyarakat Indonesia, terutama protein hewani dalam bentuk ikan dan hasil laut lainnya. Mereka juga mendapat wawasan tentang peran laut dalam bidang lainnya, seperti konservasi dan pelestarian alam,sumber ilmu pengetahuan alam, sarana rekreasi dan pariwisata, dan lain sebagianya. Hal ini dimaksudkan sebagai salah satu wujud kepedulian pemerintah terhadap perkembangan dan kelestarian kelautan Indonesia yang mengutamakan peran pemuda Indonesia sebagai pelaku utamanya dengan cara menggugah, memunculkan, membangkitkan motivasi pemuda untuk mau ke laut serta merangsang tumbuhnya jiwa wirausaha pemuda di bidang kelautan.
Mantap kan Pak? Tentu saja hal-hal tersebut utamanya dimaksudkan agar pemuda-pemudi setelah mengikuti program KPN nantinya dapat menjadi pemuda bahari yang lebih cinta terhadap laut, memiliki tanggung jawab tinggi, memiliki rasa kepedulian terhadap sesama, mampu meningkatkan kemitraan untuk pembangunan pengelolaan sumberdaya alam, siap menghadapi tantangan global di masa yang akan datang.
Nah, bukan hanya itu saja Pak, pemuda-pemudi dari seluruh Indonesia tersebut juga dapat membentuk karakter karena dalam pelaksanaan kegiatannya, berbagai kedisiplinan lebih ditanamkan lagi pada diri masing-masing peserta KPN. Mereka juga dapat mengenali keberagam dan kekayaan budaya daerah di Indonesia karena pemuda-pemudi Indonesia juga diberikan panggung untuk menampilkan kesenian dan kebudayaan yang mereka miliki. Saya bersama teman-teman dari Bali saat itu berusaha setotalitas mungkin memperkenalkan realisme magis seni Bali dengan menghadirkan drama tari Calonarang lengkap dengan topeng rangda berukuran besar yang sangat ikonik. Kalau boleh saya jujur lagi Pak, ini salah satu hal yang tidak akan saya lupakan seumur hidup saya.
_____
Nilai-nilai keberagaman dalam program Kapal Pemuda Nusantara
Kebaragaman
yang dirayakan selama program KPN tentu dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap
tanah air. Mereka diberikan berbagai motivasi untuk menjadi warga negara
Indonesia seutuhnya, yang sadar akan keberadaan bangsanya, yang senantiasa
berjuang untuk memajukan negaranya, dan memiliki Indonesia sepenuhnya, bersyukur
dan berbangga sepenuh hati terhadap kekayaan dan keanekaragaam suku, adat, dan
budaya yang dimiliki oleh tanah air Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai
Merauke, Itulah kemudian disebut mencintai negeri dan menjaga NKRI dengan
memiliki kebanggan terhadap tanah air, bangsa dan persatuan.Sangat nasionalis
Pak.
Melalui
program KPN juga, para pemuda dapat mempererat persahabatan, persaudaraan dan
kerjasama serta saling pengertian. Selain itu juga membentuk jaring kerja
nasional pemuda, memperkuat, dan meningkatkan jiwa dan semangat NKRI sekaligus
memperdayakan diri sebagai kader bangsa. Bahkan mereka juga dapat menjunjung
tinggi nilai kemanusian dengan melakukan bakti sosial kepada masyarakat,
seperti program KPN Tahun 2018 yang saya ikuti 2 tahun lalu, para peserta KPN
diterjunkan langsung dalam kegiatan membangun kembali Palu, Sigi, dan Donggala
yang terkena bencana alam gempa dan tsunami. Harus saya ucapkan terima kasih
sebesar-besarnya kepada Kemenpora RI karena sudah memfasilitasi saya dan
teman-teman saya sehingga bisa mmeberikan uluran tangan secara langsung di
Palu, Sigi, dan Donggala. Uluran tangan kami tidak seberapa, namun tentu sangat
bermakna, pun sangat berarti.
Perjalanan
peserta KPN tidak serta merta berhenti saat mereka selesai menjalankan program,
namun tetap berlanjut sebagai pemuda bahari yang siap menjadi ujung tombak
pelestarian lingkungan hidup dengan memberikan kontribusi nyata terhadap
kelautan Indonesia. Kontribusi nyata tersebut dapat dilihat dari kegiatan
pascaprogram yang sudah mereka rancang di provinsinya masing-masing. Contohnya
bisa jadi penanaman mangrove di daerah pesisir pantai, pemberian edukasi bahari
kepada anak-anak, pelatihan pengolahan sampah dari laut menjadi barang bernilai
jual tinggi, kegiatan susur pantai, penanaman terumbu karang, workshop
kebaharian, dan masih banyak lagi. Teman-teman saya di program KPN 2018 bersama-sama
mengadakan sebuah gerakan bertajuk “Siaga Nusantara” – Aksi Jaga Air Nusantara
di provinsinya masing-masing.
Gerakan ini bertujuan untuk peminimalisiran sampah plastik di perairan (danau, sungai, dan laut) untuk keberlangsungan kehidupan biota air dengan membersihkan daerah perairan (danau, sungai, dan laut) dari sampah, terutama plastik. Gerakan ini sekaligus memperingati hari air sedunia yang jatuh ada tanggal 22 Maret 2019 yang dimaksudkan untuk mengajak setiap orang untuk sadar akan penghematan dalam penggunaan air, seperti menggunakan air secukupnya untuk aktivitas MCK (mandi cuci kakus), konsumsi (minum) dengan cukup dan tidak menyisakan dan penghematan dalam penggunaan air dalam rumah tangga (mencuci pakaian dan piring).
_____
Pemuda dari berbagai daerah di Indonesia dalam program Kapal Pemuda Nusantara [Foto: Ist]
Kami memimpikan sebuah dunia perairan di Indonesia yang bersih dari sampah dan berjuang mewujudkannya bersama-sama. Contoh lain adalah KAKPN Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada tanggal 15 Maret nanti akan melaksanakan kegiatan “Memelaut – Mengenal dan Memahami Biota Laut” bagi Komunitas Sekolah Marjinal Kledokan, Caturtunggal, Depok, Sleman, D.I. Yogyakarta. Kegiatan yang dicanangkan oleh peserta KPN 2019 merupakan acara edukasi bahari yang dikemas dengan ide-ide kreatif dan menyenangkan, seperti mendongeng biota laut, melukis biota laut, dan sosialisasi makan-makanan bergizi. Keren betul mereka ini. Asli. Harus diapresiasi ini Pak. Hehehe.
Sebenarnya
masih ada banyak lagi alasan mengapa saya tidak rela program Kapal Pemuda
Nusantara dihapuskan Pak. Saya secara pribadi merasa program Kapal Pemuda Nusantara
sebaiknya memang harus dilaksanakan tiap tahunnya mengingat program KPN sangat
berdampak positif terhadap perkembangan Sumber Daya Manusia (Pemuda) dan
perkembangan kelautan Indonesia. Program KPN melahirkan pemuda bahari, yang
diharapkan dapat menjadi apa yang diharapkan di penjelasan saya di atas. Ketimbang dihapuskann atau diganti, jujur
saya lebih memilih program KPN ini dievaluasi segala kekurangannya, sehingga
dapat dilaksanakan lebih baik lagi kedepannya. Jauh di lubuk hati saya yang
paling dalam Pak, saya tentu berharap program KPN masih tetap dijalankan. Saya
ingin ada lebih banyak lagi pemuda yang mencintai laut Indonesia, yang secara
tidak langsung juga mencintai negeri ini. Pemuda Maju, Indonesia Jaya.
Demikian
dengan surat ini saya sampaikan permohonan saya Pak. Saya meminta maaf
sebesar-besarnya apabila dirasa ada kesalahan dalam surat saya ini. Jujur, saya
tidak ada maksud lain selain memohon, seletingan-selentingan saya soal mantan
hanya pemanis Pak, karena memang dialah yang pernah membuat hidup saya manis
setelah program KPN 2018. Hehehe. Nah, untuk mengakhiri surat ini, mari Pak,
bersama-sama kita serukan dengan lantang semangat kita.
“Pemuda?
Maju, Olahraga? Jaya. Siapa kita? Indonesia. NKRI? Harga Mati”
“Di laut kita berlayar, di laut kita belajar, di laut kita bersama, kembali ke laut kita jaya” – JALESVEVA JAYAMAHE. [T]
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...