‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
Gerimis yang membasihi Singaraja akhir-akhir ini mengingatkan saya dengan kampung halaman. Semasa kecil, di musim seperti ini, sajian mewah bagi saya adalah jagung bakar bikinan bapak. Memang tidak ada “sajian mewah” selain mengolah hasil cocok tanam sendiri.
Saya semakin rindu kampung halaman saat adik saya memposting foto jagung bakar di sebuah grup di Facebook. Foto jangung itu begitu menggiurkan walaupun tanpa dioles mayones. Di saat seperti ini, saya membayangkan, kampung halaman saya adalah satu-satunya tempat ternyaman di muka bumi ini. Tempat “ketenangan mewah” yang luar biasa. Tempat kedamaian abadi, tempat para rahib bermeditasi, penyair merenung, dan semua orang menjalani kehidupan yang amat panjang dan memuaskan. Tempat yang terpencil, terisolasi dari berbagai ketakutan dunia luar—dan ketakutan kelaparan—, meskipun tidak dari kenyamanan yang dapat dirasakan.
Tempat ternyaman, seperti Shangri-La dalam buku Lost Horizon karangan James Hilton. Tempat yang dibuat Hilton untuk kepala dan hati, yang di dalamnya keduanya hidup dalam perpaduan yang membahagiakan sampai usia matang 250 tahun.
Eric Weiner menuliskan: ketika buku dan filmnya diluncurkan pada 1930-an, Lost Horizon menangkap imajinasi publik Amerika dalam cengkerama Depresi Besar, terhuyung-huyung keluar dari satu perang dunia dan terikat dalam perang dunia lainnya. Franklin D. Roosevelt menamakan tempat peristirahatan kepresidenannya Shangri-La (kemudian diubah menjadi Camp David). Hotel, baik yang mewah maupun yang penuh kutu busuk, sama-sama menamakan diri mereka Shangri-La, berharap terkena kilau utopisnya.
Shangri-La berisi semua unsur klasik surga. Pertama, kata Eric, tempat itu sulit dijangkau. Yang benar saja, bagaimanapun, surga bukanlah surga jika Anda dapat naik taksi ke sana. Lebih lanjut, terdapat pemisah antara surga dan kehidupan biasa, dipisahkan oleh dunia rahasia yang hanya dapat ditempuh oleh sedikit orang yang beruntung. Dengan kata lain, surga adalah, barangkali seperti kelas bisnis, yang kesenangannyaa didapat dari keberadaan pelancong lain yang lebih kurang beruntung daripada Anda sendiri.
Tidak. Kampung halaman saya dan jagung bakar bikinan bapak bukan Shangri-La. Kampung halaman saya nyata. Bukan fiksi. Shangri-La tentu saja merupakan tempat rekaan. James Hilton, sang pengarang, bahkan tidak pernah beranjak lebih jauh dari British Museum di London untuk melakukan risetnya, kata Eric. Perihal di awal saya katakan sama, toh saya cuma membayangkan. Bukan berarti kampung halaman saya persis sama seperti tempat rekaan orang Inggris itu, bukan.
Akan tetapi, di saat seperti ini, saat saya merasa tercengkeram depresi besar, terhuyung-huyung keluar dari perang satu dan terikat dalam perang lainnya, rasanya kampung halaman dan jagung bakar bikinan bapak memang seperti Shangri-La. Bedanya, sekali lagi, kampung halaman saya itu nyata, sedangkan Shangri-La itu fiksi.[T]
(2020)
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...