Sejumlah laki-laki dan
perempuan pengalu atau pedagang di pesisir Buleleng, Bali utara, berjalan di tepi
pantai atau di jalan-jalan kecil berliku di sebuah desa, di kiri-kanan adalah
rerimbun pohon yang sejuk dan segar.
Yang laki-laki memanggul keranjang, yang perempuan menyunggi kerangjang juga. Di dalam keranjang terdapat bahan makanan seperti garam, rempah atau bumbu-bumbuan, hasil bumi, dan lain-lain. Kadang mereka bergerak menggiring kuda untuk mengangkut barang ke pasar.
Sungguh indah. Yang membuat
suasana itu makin indah, para pengalu atau pedagang itu bernyanyi riang sepanjang
jalan. Lagu-lagu yang sederhana, tentang kisah hidup mereka,
hubungan pemuda dan pemudi, juga
kecintaan mereka terhadap lingkungan. Lagu-lagu yang dinyaikan oleh para pengalu atau pedagang itulah yang
kemudian
ditata oleh para seniman di Bali Utara untuk dijadikan gending-gending janger yang kita saksikan
sekarang.
Pemandangan itulah yang dilihat
oleh I Made Kredek
(1906-1979), seorang maestro arja dari Singapadu, Gianyar, yang
kerap mengadakan pementasan ke
Bali Utara. Saat itu Made Kredek tentu
sedang muda-mudanya, mungkin sekitar tahun 1920-an.
Apa yang disaksikan oleh I
Made Kredek itu diceritakan kembali oleh anaknya, Prof
Dr I Made Bandem, yang kini kita kenal sebagai maestro
seni yang juga guru besar bidang Etnomusikologi Prof Dr I Made Bandem
“I Made Kredek mendengar lagu-lagu Janger dinyanyikan oleh para pengalu atau pedagang yang menjajakan bahan makanan seperti garam dan bumbu-bumbuan, menggiring kudanya ke pasar, sambil bernyanyi, lagu-lagu itu kemudian ditata menjadi gending janger yang kita saksikan sekarang ini," kata Prof. Bandem saat menjadi narasumber dalam acara Kriyaloka (workshop) Janger Melampahan yang merupakan rangkaian kegiatan Pesta Kesenian Bali ke-42, di Taman Budaya, Denpasar, Jumat 6 Maret 2020.
Pada tahun 1920-an banyak berkembang tari
Janger di daerah Badung (kini Kota Denpasar) seperti di Abiantimbul, Banjar
Kedaton, Banjar Bengkel, Desa Sanur dan Desa Penatih. Sedangkan di daerah
Gianyar dikenal adanya Janger di Desa Peliatan, Ubud dan Singapadu. Sedangkan
di kawasan Bali Utara (Kabupaten Buleleng) terkenal dengan Janger Menyali.
"Dulu di Buleleng punya gaya Janger
tersendiri, Denpasar apa lagi, dimana-mana ada Janger yang memiliki pilihan
gaya dan gending yang berbeda-beda. Tetapi, sekarang yang paling banyak
berkembang gaya Singapadu, Peliatan, dan
Kedaton," ucap seniman yang pernah menjabat sebagai Ketua STSI Denpasar
dan Rektor ISI Yogyakarta itu
Namun sekarang ini, kata Bandem, kesannya janger
itu ada penyeragaman dari sisi pilihan gaya tari maupun gending-gending Janger
yang dibawakan. “Dan saya merindukan
gaya tari dan gending Janger Klasik yang dulunya begitu beragam dan khas dari sejumlah
daerah di Pulau Dewata,” katanya.
Menurutnya, janger
merupakan salah satu tari pergaulan muda dan mudi khas Bali yang dipadukan
dengan menyanyikan lagu-lagu rakyat.
Janger diperkirakan muncul pada awal abad ke-20 di Bali Utara dan kemudian
berkembang cepat ke Bali tengah dan selatan.
Bahkan, lanjut Bandem, kini ada fenomena saling menggunakan gending satu daerah dengan dengan yang lain sehingga kesenian Janger terkesan monoton. "Pementasan Janger di beberapa tempat, seringkali juga kurang memenuhi pakem dari Janger Klasik, tetapi malah meloncat pada Janger gaya kontemporer, dengan menggabungkan musik-musik Barat dan musik Indonesia," ucapnya.
_____
Prof. Bandem saat menjadi narasumber dalam acara Kriyaloka (workshop) Janger Melampahan yang merupakan rangkaian kegiatan Pesta Kesenian Bali ke-42, di Taman Budaya, Denpasar, Jumat 6 Maret 2020.
Prof Bandem mengkhawatirkan jika kondisi
penyeragaman terus berlarut dan pakem-pakem Janger Klasik ditinggalkan, maka
generasi muda Bali akan kehilangan landasan untuk melestarikan kesenian Janger. "Oleh karena itu,
kriyaloka ini penting supaya kita memiliki landasan yang kokoh untuk memajukan
Janger Klasik di era modern," kata seniman peraih Lencana Kebudayaan dari
Presiden Republik Indonesia pada 2015 itu.
Melalui kriyaloka (workshop) tersebut,
sekaligus untuk menyepakati pakem-pakem dari Janger Klasik. Ini yang perlu
disepakati bersama karena bagaimanapun juga pementasan Janger Klasik dalam
pementasan Pesta Kesenian Bali tetap harus menunjukkan keragaman dan kekhasan
masing-masing kabupaten.
Dalam kesempatan itu, seniman yang telah
menerbitkan lebih dari 170 karya ilmiah bidang seni dalam bahasa Indonesia dan
bahasa Inggris menjelaskan sejumlah pakem Janger Melampahan yakni dimulai dari
Gending Pategak (lagu pembukaan dari sebuah pertunjukan Janger) dan Gending
Pangaksama (lagu ungkapan selamat datang dan lagu memperkenalkan Janger itu
dari mana asalnya).
Kemudian ada Pepeson Kecak, yakni sebanyak
12 orang Kecak memiliki tari yang disebut tari ngugal (papeson), dilanjutkan
dengan Pepeson Janger dengan keindahan penampilannya dari posisi berderet dan
seterusnya.
Prof Bandem mengemukakan, mengenai ide,
tema, dan isi dari sebuah Janger Melampahan bersumber dari cerita seperti Kidung
Sejarah (Mahabharata, Ramayana; Kidung Roman (Panji, Sampik Ing Tay, Sri
Tanjung; Kidung Magis (Calonarang, Basur, Japatuan, dan Balian Batur).
Selain menjelaskan berbagai materi sejarah
hingga pakem-pakem Janger Klasik, Prof Bandem dengan didampingi Suasthi Bandem,
juga langsung mengajak para peserta "workshop" mempraktikkan gerak
tari dan menyanyikan gending-gending Janger, sembari dilakukan diskusi mengenai
tantangan yang masih dihadapi peserta untuk persiapan garapan dalam ajang Pesta
Kesenian Bali ke-42 yang dimulai 13 Juni mendatang.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesenian dan
Tenaga Kebudayaan Disbud Provinsi Bali Ni Wayan Sulastriani saat membuka acara
berharap dengan dilaksanakannya kriyaloka tersebut agar duta kabupaten/kota
yang akan tampil di PKB lebih maksimal.
"Pakem-pakemnya bisa diketahui,
sekaligus menyamakan persepsi bagaimana Janger Melampahan, yang di dalamnya
mencakup tembang, tari dan gamelan. Apalagi menari Janger itu memang memerlukan
strategi tersendiri, karena menari sambil bernyanyi," ucapnya.
Dengan mengangkat kembali seni-seni
klasik, Sulastriani berharap generasi milenial bisa melestarikan nilai budaya
Bali, khususnya di ranah seni Janger Melampahan. "Akan sulit melestarikan,
kalau tidak mengetahui dan memiliki teknik yang benar," ujarnya.
Diapun mengingatkan supaya tema PKB ke-42
yakni "Atma Kerti, Penyujian Jiwa Paripurna" jangan sekadar
dicantolkan saja di akhir dalam garapan Janger Melampahan. "Tetapi harus
bercerita dari awal, bisa mengambil lelampahan (lakon) dari kearifan lokal yang
ada di masing-masing daerah," katanya. [T] [*]
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...