Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
Bayangkanlah sebuah pemandangan yang indah:
Sejumlah laki-laki dan perempuan pengalu atau pedagang di pesisir Buleleng, Bali utara, berjalan di tepi pantai atau di jalan-jalan kecil berliku di sebuah desa, di kiri-kanan adalah rerimbun pohon yang sejuk dan segar.
Yang laki-laki memanggul keranjang, yang perempuan menyunggi kerangjang juga. Di dalam keranjang terdapat bahan makanan seperti garam, rempah atau bumbu-bumbuan, hasil bumi, dan lain-lain. Kadang mereka bergerak menggiring kuda untuk mengangkut barang ke pasar.
Sungguh indah. Yang membuat suasana itu makin indah, para pengalu atau pedagang itu bernyanyi riang sepanjang jalan. Lagu-lagu yang sederhana, tentang kisah hidup mereka, hubungan pemuda dan pemudi, juga kecintaan mereka terhadap lingkungan. Lagu-lagu yang dinyaikan oleh para pengalu atau pedagang itulah yang kemudian ditata oleh para seniman di Bali Utara untuk dijadikan gending-gending janger yang kita saksikan sekarang.
Pemandangan itulah yang dilihat oleh I Made Kredek (1906-1979), seorang maestro arja dari Singapadu, Gianyar, yang kerap mengadakan pementasan ke Bali Utara. Saat itu Made Kredek tentu sedang muda-mudanya, mungkin sekitar tahun 1920-an.
Apa yang disaksikan oleh I Made Kredek itu diceritakan kembali oleh anaknya, Prof Dr I Made Bandem, yang kini kita kenal sebagai maestro seni yang juga guru besar bidang Etnomusikologi Prof Dr I Made Bandem
“I Made Kredek mendengar lagu-lagu Janger dinyanyikan oleh para pengalu atau pedagang yang menjajakan bahan makanan seperti garam dan bumbu-bumbuan, menggiring kudanya ke pasar, sambil bernyanyi, lagu-lagu itu kemudian ditata menjadi gending janger yang kita saksikan sekarang ini," kata Prof. Bandem saat menjadi narasumber dalam acara Kriyaloka (workshop) Janger Melampahan yang merupakan rangkaian kegiatan Pesta Kesenian Bali ke-42, di Taman Budaya, Denpasar, Jumat 6 Maret 2020.
Pada tahun 1920-an banyak berkembang tari Janger di daerah Badung (kini Kota Denpasar) seperti di Abiantimbul, Banjar Kedaton, Banjar Bengkel, Desa Sanur dan Desa Penatih. Sedangkan di daerah Gianyar dikenal adanya Janger di Desa Peliatan, Ubud dan Singapadu. Sedangkan di kawasan Bali Utara (Kabupaten Buleleng) terkenal dengan Janger Menyali.
"Dulu di Buleleng punya gaya Janger tersendiri, Denpasar apa lagi, dimana-mana ada Janger yang memiliki pilihan gaya dan gending yang berbeda-beda. Tetapi, sekarang yang paling banyak berkembang gaya Singapadu, Peliatan, dan Kedaton," ucap seniman yang pernah menjabat sebagai Ketua STSI Denpasar dan Rektor ISI Yogyakarta itu
Namun sekarang ini, kata Bandem, kesannya janger itu ada penyeragaman dari sisi pilihan gaya tari maupun gending-gending Janger yang dibawakan. “Dan saya merindukan gaya tari dan gending Janger Klasik yang dulunya begitu beragam dan khas dari sejumlah daerah di Pulau Dewata,” katanya.
Menurutnya, janger merupakan salah satu tari pergaulan muda dan mudi khas Bali yang dipadukan dengan menyanyikan lagu-lagu rakyat. Janger diperkirakan muncul pada awal abad ke-20 di Bali Utara dan kemudian berkembang cepat ke Bali tengah dan selatan.
Bahkan, lanjut Bandem, kini ada fenomena saling menggunakan gending satu daerah dengan dengan yang lain sehingga kesenian Janger terkesan monoton. "Pementasan Janger di beberapa tempat, seringkali juga kurang memenuhi pakem dari Janger Klasik, tetapi malah meloncat pada Janger gaya kontemporer, dengan menggabungkan musik-musik Barat dan musik Indonesia," ucapnya.
_____

Prof Bandem mengkhawatirkan jika kondisi penyeragaman terus berlarut dan pakem-pakem Janger Klasik ditinggalkan, maka generasi muda Bali akan kehilangan landasan untuk melestarikan kesenian Janger. "Oleh karena itu, kriyaloka ini penting supaya kita memiliki landasan yang kokoh untuk memajukan Janger Klasik di era modern," kata seniman peraih Lencana Kebudayaan dari Presiden Republik Indonesia pada 2015 itu.
Melalui kriyaloka (workshop) tersebut, sekaligus untuk menyepakati pakem-pakem dari Janger Klasik. Ini yang perlu disepakati bersama karena bagaimanapun juga pementasan Janger Klasik dalam pementasan Pesta Kesenian Bali tetap harus menunjukkan keragaman dan kekhasan masing-masing kabupaten.
Dalam kesempatan itu, seniman yang telah menerbitkan lebih dari 170 karya ilmiah bidang seni dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris menjelaskan sejumlah pakem Janger Melampahan yakni dimulai dari Gending Pategak (lagu pembukaan dari sebuah pertunjukan Janger) dan Gending Pangaksama (lagu ungkapan selamat datang dan lagu memperkenalkan Janger itu dari mana asalnya).
Kemudian ada Pepeson Kecak, yakni sebanyak 12 orang Kecak memiliki tari yang disebut tari ngugal (papeson), dilanjutkan dengan Pepeson Janger dengan keindahan penampilannya dari posisi berderet dan seterusnya.
Prof Bandem mengemukakan, mengenai ide, tema, dan isi dari sebuah Janger Melampahan bersumber dari cerita seperti Kidung Sejarah (Mahabharata, Ramayana; Kidung Roman (Panji, Sampik Ing Tay, Sri Tanjung; Kidung Magis (Calonarang, Basur, Japatuan, dan Balian Batur).
Selain menjelaskan berbagai materi sejarah hingga pakem-pakem Janger Klasik, Prof Bandem dengan didampingi Suasthi Bandem, juga langsung mengajak para peserta "workshop" mempraktikkan gerak tari dan menyanyikan gending-gending Janger, sembari dilakukan diskusi mengenai tantangan yang masih dihadapi peserta untuk persiapan garapan dalam ajang Pesta Kesenian Bali ke-42 yang dimulai 13 Juni mendatang.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesenian dan Tenaga Kebudayaan Disbud Provinsi Bali Ni Wayan Sulastriani saat membuka acara berharap dengan dilaksanakannya kriyaloka tersebut agar duta kabupaten/kota yang akan tampil di PKB lebih maksimal.
"Pakem-pakemnya bisa diketahui, sekaligus menyamakan persepsi bagaimana Janger Melampahan, yang di dalamnya mencakup tembang, tari dan gamelan. Apalagi menari Janger itu memang memerlukan strategi tersendiri, karena menari sambil bernyanyi," ucapnya.
Dengan mengangkat kembali seni-seni klasik, Sulastriani berharap generasi milenial bisa melestarikan nilai budaya Bali, khususnya di ranah seni Janger Melampahan. "Akan sulit melestarikan, kalau tidak mengetahui dan memiliki teknik yang benar," ujarnya.
Diapun mengingatkan supaya tema PKB ke-42 yakni "Atma Kerti, Penyujian Jiwa Paripurna" jangan sekadar dicantolkan saja di akhir dalam garapan Janger Melampahan. "Tetapi harus bercerita dari awal, bisa mengambil lelampahan (lakon) dari kearifan lokal yang ada di masing-masing daerah," katanya. [T] [*]
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...