Panggung akan kosong, adem-ayem,
kalau tidak ada raja buduh (raja
gila). Pementasan drama gong tidak akan bisa berjalan tanpa raja buduh.
Raja Buduh disoraki sekaligus diam-diam ditunggu. Bahkan pukau dan
tepukan penonton akan lebih bergema ketika raja buduh masuk panggung, ketika
tingkah polah pongah dimulai di atas panggung. Penonton dibuat geregetan,
sekaligus, jika raja buduh dicoret dari panggung, pasti ditunggu dan dirindu.
Raja Buduh adalah peran antara: Ia hadir diantara kevakuman
panggung yang menunggu hadirnya Raja
Bagus (Raja Sejati).
Persoalannya: Bagaimana jika
tiada kunjung tampil si raja sejati? Mungkin sakit perut, atau demam kebanyakan
makan lawar dan urutan? Atau hang over kebanyakan
arak dan tuak lau? Mungkin nervous dan ketug tidak bisa tampil, tidak siap melihat panggung, atau demam
mendadak diserang Coronavirus?
Raja buduh hadir mengisi ruang
jeda, sebagai pemenuhan harapan diam-diam di hati penonton, di dalam situasi
ketidakpastian atau situasi chaos.
Chaos, jika kita simak teorinya, adalah keadaan sistem dinamik yang
situasinya terganggu, penyimpangannya yang acak seringkali diatur oleh hukum
deterministik, terkait kondisi awal. Chaos
adalah dimana situasi dalam situasi acak, atau keacakan, acak-acakan, situasi
nyata dari sistem yang kacau, ada semacam pola yang mendasari, situasi yang
penuh saling keterkaitan, ada keadaan umpan balik konstan, semacam ada
pengorganisasian diri sendiri di baliknya.
Jika panggung vakum atau acak,
atau perlu makin dibuat acak, agar situasi ada yang mengisi sebelum muncul
ketenangan, agar tidak melempem dan jenuh, sang sutradara biasanya mengirim
tokoh kontraversial yang di Bali kita kenal sebagai Raja Buduh.
Raja Buduh adalah maskot dalam situasi menunggu.
Sering terjadi situasi menunggu
alias antara dalam pemanggunggan. Menunggu entah apa yang akan muncul. Menunggu
entah apa yang jadi polah tingkahnya yang harus ditelan penonton.
Kesiapan apa yang diperlukan
penonton ketika Raja Buduh masuk
panggung?
Penonton harus siap mengusap
dada. Penonton harus siap menggerutu kecewa. Penonton harus siap menerima
tontonan panggung apa adanya, tanpa berdaya, tiada kuasa untuk melempar handuk
tanda tidak setuju. Penonton harus siap berkompromi dengan Raja Buduh yang sedang memegang alur dan jalan cerita. Penonton
harus siap menghadapi dilema dan tutup mata (dan tutup telinga) apakah yang
dipidatokan Raja Buduh mengandung
kebenaran atau sekedar busa-busa kata yang menggelumbung ke udara, lalu meletus
tanpa jejak.
Penonton tidak punya hak menuntut
pada Raja Buduh pada isi kebenaran
omongan si Raja Buduh. Bahkan, maaf,
jika Raja Buduh kentut di atas
panggung, penonton harus siap menikmatinya sebagai bagian dari pementasan.
Bisakah penonton melarang?
Atau...
Kalau terlalu bosan dengan polah
raja buduh yang kelamaan berputar di panggung, dan raja sejati tidak muncul
kelamaan di balik kelambu, bersolek mengulur waktu bagai ABG tidak berani
keluar, penonton harus siap meninggalkan alun-alun. Dan atau? Memaksa raja
sejati keluar. Pertanyaannya: Adakah Raja
Bagus (raja sejati) dipaksa masuk panggung oleh penonton?
Paling celaka adalah ketika
penonton tidak tahu kalau Raja Buduh sudah
dikira raja sejati. Penonton kagetan atau penonton terlambat yang tidak kenal
pemain drama gong bisa tertipu seperti ini. Penonton seperti ini bisa jadi
penonton yang tidak tahu panggung pementasan apa yang sedang tampil di atas
panggung.
Ada punya penonton yang suka
ngantuk di alun-alun, tidak sadar kalau Raja
Buduh dikira raja sejati di tengah pementasan, sampai ujung pementasan pun
tidak tahu karena terkantuk ketiduran. Penonton seperti ini dianggannya terselip,
sampai esoknya terbangun, bahwa Raja
Buduh itulah ada raja sejati, sampai akhir pementasan, bahkan sampai seumur
hidup tidak mendapat kejelasan tentang apa yang terjadi.
Bayangkan jika ada Raja Buduh yang lebih elegan dan mampu
berteater melebihi raja sejati. Tutur katanya meyakinkan. Penampilan dan
tongkrongannya lebih memukau dari raja darah biru paling biru selangit biru?
Bayangkan jika Raja Buduh naik joli yang lebih mewah
dan penuh regalia tanda-tanda kebesaran raja yang tertata dan seremonialnya
lebih raja dibandingkan raja-raja yang terlambat datang dan telat berdandan
asal-asalan tampil di panggung dengan pakaian ketinggalan di rumah atau tidak
dipakai memadai di atas panggung?
Bayangkan jika ada Raja Buduh lebih ganteng daripada raja
yang konon sejati tapi kusam dan nervous, demam panggung berhadapan dengan
sambutan penonton di alun-alun kerajaan?
Bayangkan jika ada Raja Buduh lebih mampu berdebat dan
berorasi di depan publik penonton dibandingkan raja darah biru selangit biru
yang hanya terdiam seribubasa di pojokan, modalnya hanya mengandalkan garis
silsilah dan cicin pusaka serta keris leluhur yang telah kehilangan tuah?
"Paman patih, tidak ada yang
perlu diragukan. Jika ada orang aneh bin cupu muncul di panggung mengaku raja, panggil
dia. Ajak adu debat denganku. Ajak tarung pamor denganku: Siapa yang mampu
mengumpulkan kerumunan lebih besar, maka ia raja yang sejati?", demikian
kira-kira tantangan yang diujarkan meyakinkan oleh Raja Buduh.
Bayangkan jika ada Raja Buduh yang kata-katanya dieja
dengan fasih dan lincah. Wajahnya bersih dan tumitnya licin. Ia didampingi
bukan oleh satu dua paman yang bertindak sebagai patih, tapi gerombolan pengawal
muda ganteng yang bersih dan tegap, saudari-saudari terdidik berias molek dan
jelita, dan dayang-dayang yang siap perintah paduka raja.
Sayangnya, belum ada sutradara drama
gong yang nyetrik di Bali yang memenangkan Raja
Buduh di atas raja sejati. Padahal, di dalam catatan sejarah masa silam, sebut
saja Ken Arok, dia menumbangkan Akuwu Tumapel, dan mengangkat dirinya sebagai
raja. Ken Arok yang masa lalunya sebagai pendosa alias bromocorah, yang
meresahkan warga dengan kelihaiannya mencuri dan menguasai tipu sana tipu sini
di kampung-kampung, dari garis darahnya yang samar-samar dan abu-abu bahkan
diragukan kejelasannya ia anak siapa: Ia menyulap masa silamnya menjadi pendiri
silsilah raja-raja Jawa.
Sayangnya, belum ada sutradara
drama gong di Bali yang mampu membuka mata penonton bahwa bisa jadi Raja Buduh lebih efektif dikirim sebagai
duta kerajaan dalam berdiplomasi karena jurus buduh-nya tidak bisa ditebak dalam diplomasi, yang umumnya standar
dan mudah ditebak? Lagi pula, belum ada sutradara yang berani mengetengahkan di
atas panggung Raja Buduh sepanjang
pementasan, tanpa susah payah mencari raja sejati. Toh, penonton bisa jadi
lebih menikmati jumpalitan dan maneuver
politik Raja Buduh dibandingkan
kehadiran raja-raja waras yang tidak bernyali dan hanya bisa menunjukkan cincin
permata emas manik manikam sekalipun berkilau berkilo-kilo tersimpan di gedong
berkilau prada.
Ken Arok adalah tokoh Raja Buduh yang dalam panggung sejarah
Jawa telah membuktikan bahwa silsilah tidak lebih penting dari nyali. Ken Arok
membuktikan bahwa nama besar orang tua, kejelasan babad dan silsilah, tidak
menjadi persyaratan mutlak mendirikan dinasti.
Ken Arok membuktikan bahwa Raja Buduh bisa menformat ulang dan reset factory sebuah mekanisme lama yang
hanya berurusan dengan darah, bukan berbasis kapasitas personal yang adaptif
dan aktif menjawab tantangan zaman.
"Paman patih... Jika ada
orang membawa cincin kuno datang dan mengaku dia berdarah biru, paling biru, lebih
biru dari laut biru, apakah paman langsung percaya? Tidakkah ia harus adu nyali
dan adu debat, adu pukau dan adu wibawa?", demikian kira-kira tandangan si
Raja Buduh.
Raja Buduh melanjutkan: "Jika aku yang dicintai di panggung
ini, jika akulah yang ditunggu penonton di alun-alun ini, dan penonton tidak
berharap menunggu kehadiran sosok lain yang pongah ngaku-ngaku berdarah biru, tidak
mampu berucap apapun di hadapanku, lalu apa gunanya kehadirannya? Lihatlah,
paman, penonton tidak sedang menunggu sosok siapa yang akan datang ke atas
panggung. Penonton menikmati dan menunggu gerak-gerikku, penonton mengharapkan
kejutan-kejutan besar dalam gerak dan cakapku. Mereka tidak menunggu sosok yang
lain. Mereka telah puas dengan kehadiranku."
Dalam sejarah seni Drama Gong di
Bali ada sosok Raja Buduh yang sangat
populer bahkan bisa dikatakan lebih populer dibandingkan dengan pemeran raja-raja
waras atau raja bagus lainnya.
Namanya: I Gede Yudana. Almarhum sangat dicintai penonton. Perannya bisa
dikatakan paripurna. Dibenci dan dirindu. Disoraki dan ditawai. Dihujat dan
dipuji. Ia adalah salah satu pemain drama gong terhitung paling tenar di
zamannya. Ia adalah sosok favorit dalam kesenian yang paling digemari di
masyarakat Bali pada masanya, di tahun semenjak akhir 1970-an sampai 1990-an. I
Gede Yudana tumbuh bersama pemain-pemain drama gong lainnya seperti: Luh
Mongkeg, Petruk, Dolar, Gangsar, Gingsir, Lodra (raja bagus/raja sejati), dkk.
Grup Drama Gong Bhara Budaya bisa dikatakan tidak bisa gerak tanpa kehadiran Gede Yudana. Setiap panggung menunggu celoteh dan keterampilannya dalam memenangkan hati penonton. Panggung-panggung penuh dan banyak yang harus loncat pagar atau naik pohon menunggu Gede Yudana beraksi di atas panggung. Kegilaannya telah membuatnya jadi idola.
Sebagai Raja Buduh, Gede Yudana bermain dalam ruang kejengkelan dan
kejenakaan, dipadukan dengan taksunya yang membuat orang menyorakinya, tapi
memujanya setinggi-tingginya pencapaian sosok seniman. Penonton terlena,
dihipnotis dengan kehadirannya, diajak tertawa terpingkal-pingkal, mengejek
penuh cibir, mangkel dan jengkel, tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena
kepiawaiannya membolak-balik perasaan penonton dengan kata-katanya yang
ditembakkan ke udara seperti kembang api penuh warna.
Gede Yudana telah memberikan bukti bahwa peran paling terhormat di panggung drama gong bukanlah raja bagus atau raja sejati. Karena diperankan dengan taksu yang penuh pukau dan cerdik, sosok raja buduh yang diperankan Gede Yudana telah membuat raja buduh jadi sosok favorit yang dinanti-nanti. Seandainya Lodra (pemeran raja bagus atau raja sejati) dari Grup Drama Gong Bhara Budaya berhalangan hadir, rasanya panggung tetap akan penuh dikunjungi penonton dengan cukup kehadiran Gede Yudana; Raja Buduh mentas solo-run sendiri dari awal pementasan sampai ujung, tanpa raja sejati.
Di dunia seni Drama Gong di Bali,
Raja Buduh yang ternama ini tidak
tersaingi oleh sosok lain, pamornya bersinar sampai mengembuskan nafas
terakhir, 16 Januari 2010 sekitar pukul 21.30 Wita, di RSUP Sanglah, berpulang
karena sakit.
Setelah berpulang, ia amor tapi monumental, para penggemarnya
tidak pernah melupakannya. Ia sosok legenda dalam sejarah (kesenian) Bali.
I Gede Yudana, sekali lagi, telah
memberikan bukti terbalik bahwa tidak ada jaminan peran sentral dan paling
terhormat di panggung drama gong adalah raja
bagus (raja sejati). Raja Buduh jika
diperankan dengan total akan berbalik menjadi pusat pementasan. Bayangkan jika
tidak ada Lodra ketika itu...
Jangan pernah anggap enteng
kemunculan Raja Buduh. Ia bisa tampil
menjadi sosok legenda, sosok monumental yang dibenci sekaligus dirindu, yang
dicibir habis tapi sekaligus tidak henti-henti digossipkan serasa tiada lengkap
pertemuan dengan teman-teman tanpa mengossipkannya.
Jangan pernah anggap enteng kemunculan sosok Raja Buduh, karena: Kalau diperankan secara total ia akan mampu membolak-balik perasaan Anda. Ia akan membuat Anda hanya bisa mengeluh, mengusap dada, mangkel di tempat, sementara panggung dikuasainya sampai akhir pertunjukan. Dan Anda? Tidak mampu berbuat apa-apa. Paling hanya bisa mesem-mesem. [T]