Setelah hampir sebulan penuh pada Februari lalu Bali marak menggelar aneka macam kegiatan dalam rangka Perayaan Bulan Bahasa Bali, tibalah kita pada bulan Maret. Bulan usai perayaan. Bulan yang barangkali akan kita lewati dengan biasa-biasa saja. Seperti melewati ulang tahun, esoknya kita jalani dengan rutinitas biasanya. Seperti perayaan pada hari ibu yang kita siapkan sungguh-sungguh, atau upacara kemerdekaan RI yang kita jalani penuh seluruh lalunsetelahnya, kembali kita lewati hari dengan perasaan yang pula bisa-biasa saja. Maka apalagikah yang harus diluarbiasakan di bulan Maret ini, apabila hal-hal di luar kebiasaan kita, semacam Perayaan Bulan Bahasa Bali misalnya, telah purna, usai kita lakukan?
Mungkin karena hakikat perayaan, pesta, festival
dan sebangsanya, biasa digelar hanya untuk kepentingan euphoria dalam rangka. Hal-hal
yang sebenarnya biasa dilakukan sehari-hari menjadi tampak luar biasa. Yang
biasa menggunakan bahasa Bali, menjadi luar biasa memakainya saat perayaan. Yang
biasa bekerja pada bidang keaksaraan Bali jadi merasa berdaya guna. Kebiasaan
yang diluarbiasakan ini, hadir juga dalam seni teater, contohnya pada proses
membangun pemeranan. Sederet watak manusia yang biasa hadir dalam realitas
sehari-hari, diobservasi, disadari, lalu direspon oleh para aktor sebagai
sesuatu yang luar biasa untuk kemudian dihayati dalam latihan menuju pentas. Sampai
titik ini, penyelenggaraan perayaan dan penyelenggarakan teater memiliki
kualitas yang sama.Yakni sama-sama membuat hal-hal yang biasa jadi luar biasa. Mewujudkan
realitas sehari-hari biasanya, jadi luar biasa di atas panggung pertunjukan dan
panggung perayaan.
Menjadi berbeda ketika permainan peran watak
manusia yang luar biasa ini mampu hadir sebagai ruang refleksi dalam kehidupan
biasa sehari-hari para penontonnya. Dalam teater, ada daya gugah yang terbangun
untuk membandingkan watak manusia di atas pentas dengan watak diri sendiri. Ada
pertanyaan yang berkecamuk atas situasi yang diperlihatkan dalam panggung
pertunjukan dengan situasi nyata sehari-hari. Refleksi menjadi penting
kehadirannya karena mampu membuka ruang renung penonton akan realitas hidup yang
tengah mereka hadapi. Lalu bagaimana dengan penyelenggaraan Perayaan Bulan
Bahasa Bali? Sudahkah segala kegiatan, segala kerja yang dilakukan mampu
berperan menjadi ruang refleksi atas realitas yang tengah dihadapi masyarakat dalam
konteks bahasa Bali? Sebagai bahasa lokal yang tiap tahun kian berjarak dipakai
oleh penggunanya. Hal-hal apa saja yang sudah tercapai? Hal-hal apa yang mesti
diperbaiki?
Beberapa pertunjukan teater yang telah
digelar sepanjang Februari di Ksirarnawa, Art Centre lalu, boleh jadi merupakan
bahan refleksi penting untuk mengidentifikasi kemungkinan potensi, masalah,
kelebihan dan kelemahanatas kerja Perayaan Bulan Bahasa Bali tahun ini. Pada
pentas kelompok teater SMA misalnya, kita cukup dikejutkan dengan usaha
kawan-kawan pelajar menghadirkan teater di luar kebiasaan mereka dengan
menggunakan bahasa Bali sebagai bahasa utama pertunjukan. Beberapa kelompok
yang tampil diantaranya adalah Teater Angin SMA N 1 Denpasar yang membawakan
naskah Ketemu ring Tampak Siring, Teater
Topenk SMA N 2 Denpasar yang membawakan naskah Togog, Teater Tiga SMA N 3 Denpasar dengan naskah Kilang, dan Teater Antariksa SMA N 7
Denpasar memainkan naskah Tresnane Lebur
Ajur Satonden Kembang.
Dilihat dari lakon yang dimainkan, bagi
para pembaca Sastra Bali Modern tentu sudah tak asing lagi kedengaran. Sebab
lakon-lakon ini adalah hasil adaptasi dari karya sastra para penulis Sastra
Bali Modern. Naskah Ketemu ring Tampak
Siring adalah cerpen karya Made Sanggra, Togog adalah cerpen karya Nyoman Manda, Kilang adalah adaptasi novel Malancaran
ka Sasak karya Gde Srawana dan Tresnane
Lebur Ajur Satonden Kembang adalah novel karya Djelantik Santha. Pada
pentas yang terselenggara, penonton dapat menyaksikan beragam hasil adapatasi
yang dipentaskan, mulai dari teater dengan bentuk realis, surealis dan operet.
Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangan
yang menyertai, pentas kawan-kawan teater SMA ini menjadi hal yang luar biasa
untuk diapresiasi, karena mampu merespon Sastra Bali Modern menjadi pertunjukan
teater berbahasa Bali. Cara kerja adaptasi semacam ini, selain mampu
meningkatkan minat baca anak-anak terhadap karya Sastra Bali Modern, juga
memungkinkan terjadinya praktik belajar bahasa Bali secara langsung. Bahasa
Bali tak hanya dihayati sebagai bagian mata pelajaran yang hadir dalam pembelajaran
di kelas, yang cenderung kaku dan membosankan, melainkan menjelma menjadi
kebutuhan menggunakan bahasa Bali sebagai media komunikasi antarpemainnya. Pun
demikian dengan para penonton yang mau tidak mau mesti terbiasa atau sedikit
tidaknya belajar bahasa Bali jika ingin mengerti tentang cerita pentas yang
disajikan.
Sayangnya, format pentas yang begitu apik
ini tak disertai dengan kerja diskusi karya sastra lebih lanjut. Pentas hanya
usai sebagai pentas. Padahal jika ingin dikembangkan, acara bisa dilengkapi
dengan diskusi sastra. Mengkaji karya sastra yang telah dimainkan oleh
kawan-kawan teater, sembari menghubungkannya dalam konteks pertunjukan. Apalagi
beberapa pengembangan naskah dari kelompok teater SMA ini mengalami penyesuaian
di sana-sini atas cerita karya sastra yang dimainkan. Hal ini bisa jadi bahan pemantik
diskusi. Dalam diskusi ini pula, terbuka pontensi lahirnya kritikus-kritikus Sastra
Bali Modern untuk diperkenalkan dan dipersilakan hadir sebagai narasumber di
hadapan publik.
Keluarbiasaan pentas dari kawan-kawan teater
SMA juga tak diimbangi dengan pentas kawan-kawan teater kampus yang justru
hanya pentas sekadarnya alias biasa-biasa saja. Kampus yang seharusnya memiliki
penalaran dan pemahaman lebih kritis dan matang daripada kelompok teater SMA,
malah terjebak pada bentuk-bentuk pentas improvisasi semacam bondres, arja,
sendratari, dan lain sebagainya. Pilihan bentuk semacam ini sah-sah saja jika
ingin digunakan apabila diimbangi dengan adanya upaya merespon karya sastra.
Alih-alih mengadaptasi karya sastra, kebanyakan dari teater kampus ini justru
memainkan cerita-cerita semacam Jaratkaru, Swarga Rohana Parwa, dan Atma
Prasangsa.
Yang tak kalah lucu, saat menautkan
cerita-cerita yang dimainkan oleh kawan-kawan teater kampus pada halaman google.
Muncul berita Bali Post (http://www.balipost.com/news/2019/07/11/80576/Atma-Kertih-Penyucian-Jiwa-Paripurna,...html)
yang mengatakan bahwa cerita Jaratkaru, Swarga Rohana Parwa, dan Atma Prasangsa
adalah contoh-contoh cerita yang berpotensi untuk digarap dalam acara PKB tahun
ini yang notabene mengusung tema Atma Kertih. Apakah pentas memang dimaksudkan
untuk acara PKB mendatang? Atau hanya kebetulan belaka? Saya pribadi berharap
bahwa semoga saja hanya kebetulan. Alangkah tak eloknya, menjadikan Perayaan
Bulan Bahasa Bali hanya sebagai batu loncatan untuk pentas di PKB. Sudah
sama-sama acara disbud provinsi, membawakan pentas bondres, sendratari, dan
sebangsanya dengan judul cerita yang sama pula. Betapa biasa. Betapa tak punya
visi meluarbiasakan pentas.
Kemandulan kreativitas ini adalah salah
satu indikator penting yang semestinya dijadikan bahan evaluasi lebih lanjut. Mengingat
acara Perayaan Bulan Bahasa Bali baru menginjak tahun kedua penyelenggaraan. Begitu
jomplangnya jika mau dibandingkan dengan Festival Bahasa Sunda se-Jawa Barat yang
diselenggarakan setiap tahun sejak 1990 oleh kawan-kawan Teater Sunda Kiwari.
Festival yang diniatkan dalam rangka memelihara rasa memiliki masyarakat
terhadap Bahasa Sunda ini mampu bertahan setiap tahun lantaran konsep dan
format kerja yang terus menerus berusaha untuk dievaluasi, diperbakai dan
dikembangkan lebih lanjut.
Salah satu caranya, yakni menyajikan
naskah yang berbeda setiap tahunnya. Penyajian naskah bisa berangkat dari hasil
adaptasi karya sastra Sunda, karya sastra Indonesia bahkan karya sastra dunia
yang diterjemahkan dalam bahasa Sunda. Strategi semacam ini secara tidak
langsung mampu membuka ruang ulang alik kerja penerjemahan antarbahasa ke dalam
bahasa lokal yang dalam konteks ini jarang dilakukan oleh kebanyakan pegiat bahasa
Bali. Lebih jauh, pentas juga memproduksi naskah-naskah teater yang dibuat
khusus berbahasa Sunda. Ditambah dengan menggunakan pendekatan modern dalam
pertunjukannya, walhasil pentas dalam festival menyajikan bentuk dan konteks
yang lebih cair dengan masyarakat dan zamannya. Luar daripada itu, Festival
Bahasa Sunda juga membuka kemungkinan bagi kelompok teater Jawa Barat yang di
daerahnya tak memakai bahasa Sunda untuk mementaskan pertunjukan dengan ragam
bahasa asalnya masing-masing, bahasa Indramayu, misalnya. Yang meski sama-sama dari
Jawa Barat, namun punya varian bahasa yang berbeda.
Hal ini jadi penting jika dikaitkan dengan
tulisan Eriadi (jro Penyarikan Duuran Batur) dalam http://www.tatkala.co/2020/02/01/bahasa-bali-berkibar-oke-bee-dapatkah-bertahan-catatan-bulan-bahasa-bali/
yang mempersoalkan tentang terhimpitnya kosakata bahasa Bali Aga karena lebih
berkembangnya anggah-ungguhing bahasa Bali dalam masyarakat. Bagaimanakah pihak
panitia dan tim kreatif merespon fenomena ini? Sementara jika diperhatikan
seksama, teater-teater yang pentas dalam Perayaan Bulan Bahasa hampir semua berasal
dari wilayah Denpasar. Jika pun ada pentas yang memakai dialek Buleleng,
Negara, dan sebagainya, kebanyakan hanya disikapi sebagai bahan banyolan
semata. Alih-alih membuka peluang jelajah bahasa, strategi semacam ini justru
jadi bumerang tersendiri meneguhkan varian bahasa satu, mengesampingkan varian bahasa
lainnya.
Kehadiran teater dalam Perayaan Bulan
Bahasa Bali semestinya bukan hanya disikapi sebagai pengisi acara saja.
Melainkan diniatkan sebagai gerakan membangun politik bahasa agar segala varian
bahasa Bali, dari bahasa Bali Aga sampai Majapahitan, dari bahasa gunung sampai
pesisir, dari bahasa asli sampai pendatang, dari segala lini di Bali, mampu
tampil percaya diri di hadapan publik. Visi dan gagasan pertunjukannya jelas,
yaitu mengeksplorasi bahasa Bali dengan segala macam varian yang hadir dalam
realitas sehari-hari masyarakatnya.
Alhasil, pentas teater bahasa Bali tak hanya diwarnai dengan ragam bahasa sor singgih, kidung atau kekawin yang sudah biasa dihadirkan di pura-pura. Apalagi menghubungkannya dengan cerita Prabu Aji Saka, hanya gara-gara ceritanya berkaitan dengan aksara Bali. Kalau gagasan dan interpretasinya sebatas itu, baca komik anak dancow saja sebenarnya sudah cukup. Tak perlulah susah-susah menampilkan teater, apalagi menyajikan slide aksara hanacaraka sebagai artistik pertunjukan. Sajian yang mengingatkan kita pada rupa aksara Bali yang ditulis di papan kelas. Di bulan Maret ini, usai Perayaan Bulan Bahasa Bali, anak-anak SD di kelas-kelas mungkin tengah kembali pada rutinitas belajar bahasa Bali biasanya. Mengantuk menyaksikan guru bahasa Balinya menerangkan aksara Bali. Ala kadarnya, dengan pola biasa, dengan semangat yang biasa-biasa saja. [T]
Denpasar,
2020