Pertunjukan ke-7 teater tari The Seen and Unseen (Sekala-Niskala) di Martin Myer Arena, Melbourne, Australia, berjalan lancar. Saya merasa telah mempertunjukkan sesuatu yang serius dengan penampilan diri saya yang juga serius di hadapan penonton. Di sisi lain, saya juga merasa biasa-biasa saja, artinya sama seperti penampilan-penampilan sebelumnya. Sebuah perasaan tumpang-tindih yang jarang-jarang saya hadapi saat berada di panggung, seperti saat pentas di Bali misalnya.
Yang terasa jadi aneh adalah
ketika salah satu teman pemain mengalami
kejadian di atas panggung. Boleh
dibilang peristiwa berbau
mistis. Mungkin ada penjelasan wajar soal peristiwa itu, namun
usai pentas peristiwa itu menjadi cerita seru. Jika itu terjadi di Bali mungkin itu biasa, namun ini
terjadi di Australia, sehingga rasanya menjadi beda, dan ceritanya pun jadi
lebih seru.
Usai pentas, seperti biasa, teman-teman
jalan-jalan berbelanja, tetapi saya merasa tidak ingin untuk berbelanja.
Sehingga saya pulang sendiri, naik angkutan umum, berjalan kaki, dan ditemani
suara kendaraan. Saya kerasan memang tinggal di sini, di kota yang sangat-sangat jauh dari kampung saya di
Tabanan.
Pada tanggal 29 Februari pertunjukan ke-8.
Saya merasa sedikit lelah, tenaga terasa terkuras. Tetapi,
saya tetap tampil maksimal. Itu
sudah menjadi komitmen saya, dan juga selalu diingatkan oleb Dayu Ani untuk
tetap menjaga stamina. Justru, pada penampilan terakhir saya merasa lebih
mantap dan terasa tampil sangat baik. Mungkin karena sempat tertidur di tempat
berias. Mungkin juga pementasan kami yang ke 9 merupakan pertunjukan terakhir,
dan setelah itu kami harus terbang balik
ke Bali.
Bermain di jalanan Melbourne
Usai pentas terakhir, saya dan teman makan bersama di sebuah
restoran. Makan malam itu undangan dari tim pertunjukan Australia yang menjamu
para penari. Di meja sepeti ada kompor terus ada api, menunya daging sapi. Di atas meja ada banyak
menu. Setelah itu istirahat di hotel.
Saya tidak bisa tidur selama semalan, adik Made Manipuspaka tertidur lelap. Jam 5 waktu australia, saya dan teman teman mempersipakan diri berangkat ke bandara untuk pulang ke Bali. Saya dan tim yang lain melakukan foto bersama di bandara sebelum naik ke pesawat. Jam 9 disana pesawat mulai terbang, selamat tinggal melbourne saya berharap bisa kembali mengunjungi kawan saya yang ada di sana.
Jam 12 kebih waktu Bali, saya sampai di
Bali. Terasa seperti terlepas dari sesuatu yang aneh,
sekaligus terjerat oleh rasa kangen yang entah karena apa. Rasanya seperti
mendapatkan sesuatu, sekaligus juga meninggalkan sesuatu. Rasanya seperti sudah
sampai, sekaligus merasa baru berjalan.
Orang tua saya sudah menunggu di terminal kedatangan.
Saya kesal juga karena tidak terlihat pekak
(kakek) ikut. Karena tanpa saya sadari, kakek adalah orang yang
sangat saya kangeni selama di Australia. Saya selalu membayangkan, jika saja
kakek menonton saya di Martin Myer Arena, tentu saja saya senang, dan merasa saya sudah
memberi hadiah bagi pekak yang turut memberi warna pada perjalanan kreatif
saya. Juga mbah (nenek) yang sudah pergi setahun lalu, saya ingat dia.
Waktu
mau berangkat dua minggu lalu,
saya merayu pekak untuk mau ikut mengantar ke bandara. Namun rayuan saya gagal karena pekak
harus ke sawah mengurus
abian atau kebun.
Mendapatkan teman baru di sela-sela pentas
Selama dua minggu di Australia dan melakukan 9 kali pentasan, saya rasa hari-harinya berjalan sangat lancar. Semua itu karena dukungan dari tim. Semua itu juga berkat dukungan dari orang tua, dan yang terpenting dukungan Kepala SMA Negeri 1 Kuta Utara dan guru wali yang selalu memberikan ijin melakukan aktivitas seni. Baik dalam latihan ataupun ijin pentas. Ijin itu bukan sekali tetapi, berkali- kali, untuk itu saya ucapkan terima kasih.
Demikian pula teman-teman Teater Ombak
yang selalu mengerti dan toleransi ketika saya harus mengatur waktu latihan The
Seen and Unseen di ISI teater dan di tim
The Seen and Unseen. Teman teman di sekolah dan semuanya. Dan untuk Dewa Hyang (Mbah) yang dulu selalu
cerewet sama saya yang ternyata itu memberikan dorongan untuk membuat selalu kreatif. [T]
Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran
TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah kalimat sederhana. Itulah yang say...
ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk memenuhi kepentingan m...
SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada akhir tajuknya Festival Cerita Rasa 0.4. Ang...
PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini dialami oleh banyak sekali cerita rakyat...
TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring Balé Gedé: Pupulan Puisi Bali Anyar’, ‘Geguritan D...
MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak jauh dari kota kabupaten. Daerah yang...
MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB). Yang kedua, Seleksi Penerimaan Murid...
Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan Sadmerta, Desa Dangin...
SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna, editor yang mengolah naskah, literary...
SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu malam, 16 Juni 2026, yang ditampil...