Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
BACA JUGA:
Pertunjukan ke-7 teater tari The Seen and Unseen (Sekala-Niskala) di Martin Myer Arena, Melbourne, Australia, berjalan lancar. Saya merasa telah mempertunjukkan sesuatu yang serius dengan penampilan diri saya yang juga serius di hadapan penonton. Di sisi lain, saya juga merasa biasa-biasa saja, artinya sama seperti penampilan-penampilan sebelumnya. Sebuah perasaan tumpang-tindih yang jarang-jarang saya hadapi saat berada di panggung, seperti saat pentas di Bali misalnya.
Yang terasa jadi aneh adalah ketika salah satu teman pemain mengalami kejadian di atas panggung. Boleh dibilang peristiwa berbau mistis. Mungkin ada penjelasan wajar soal peristiwa itu, namun usai pentas peristiwa itu menjadi cerita seru. Jika itu terjadi di Bali mungkin itu biasa, namun ini terjadi di Australia, sehingga rasanya menjadi beda, dan ceritanya pun jadi lebih seru.
Usai pentas, seperti biasa, teman-teman jalan-jalan berbelanja, tetapi saya merasa tidak ingin untuk berbelanja. Sehingga saya pulang sendiri, naik angkutan umum, berjalan kaki, dan ditemani suara kendaraan. Saya kerasan memang tinggal di sini, di kota yang sangat-sangat jauh dari kampung saya di Tabanan.
Pada tanggal 29 Februari pertunjukan ke-8. Saya merasa sedikit lelah, tenaga terasa terkuras. Tetapi, saya tetap tampil maksimal. Itu sudah menjadi komitmen saya, dan juga selalu diingatkan oleb Dayu Ani untuk tetap menjaga stamina. Justru, pada penampilan terakhir saya merasa lebih mantap dan terasa tampil sangat baik. Mungkin karena sempat tertidur di tempat berias. Mungkin juga pementasan kami yang ke 9 merupakan pertunjukan terakhir, dan setelah itu kami harus terbang balik ke Bali.

Usai pentas terakhir, saya dan teman makan bersama di sebuah restoran. Makan malam itu undangan dari tim pertunjukan Australia yang menjamu para penari. Di meja sepeti ada kompor terus ada api, menunya daging sapi. Di atas meja ada banyak menu. Setelah itu istirahat di hotel.
Saya tidak bisa tidur selama semalan, adik Made Manipuspaka tertidur lelap. Jam 5 waktu australia, saya dan teman teman mempersipakan diri berangkat ke bandara untuk pulang ke Bali. Saya dan tim yang lain melakukan foto bersama di bandara sebelum naik ke pesawat. Jam 9 disana pesawat mulai terbang, selamat tinggal melbourne saya berharap bisa kembali mengunjungi kawan saya yang ada di sana.
Jam 12 kebih waktu Bali, saya sampai di Bali. Terasa seperti terlepas dari sesuatu yang aneh, sekaligus terjerat oleh rasa kangen yang entah karena apa. Rasanya seperti mendapatkan sesuatu, sekaligus juga meninggalkan sesuatu. Rasanya seperti sudah sampai, sekaligus merasa baru berjalan.
Orang tua saya sudah menunggu di terminal kedatangan. Saya kesal juga karena tidak terlihat pekak (kakek) ikut. Karena tanpa saya sadari, kakek adalah orang yang sangat saya kangeni selama di Australia. Saya selalu membayangkan, jika saja kakek menonton saya di Martin Myer Arena, tentu saja saya senang, dan merasa saya sudah memberi hadiah bagi pekak yang turut memberi warna pada perjalanan kreatif saya. Juga mbah (nenek) yang sudah pergi setahun lalu, saya ingat dia.
Waktu mau berangkat dua minggu lalu, saya merayu pekak untuk mau ikut mengantar ke bandara. Namun rayuan saya gagal karena pekak harus ke sawah mengurus abian atau kebun.

Selama dua minggu di Australia dan melakukan 9 kali pentasan, saya rasa hari-harinya berjalan sangat lancar. Semua itu karena dukungan dari tim. Semua itu juga berkat dukungan dari orang tua, dan yang terpenting dukungan Kepala SMA Negeri 1 Kuta Utara dan guru wali yang selalu memberikan ijin melakukan aktivitas seni. Baik dalam latihan ataupun ijin pentas. Ijin itu bukan sekali tetapi, berkali- kali, untuk itu saya ucapkan terima kasih.
Demikian pula teman-teman Teater Ombak yang selalu mengerti dan toleransi ketika saya harus mengatur waktu latihan The Seen and Unseen di ISI teater dan di tim The Seen and Unseen. Teman teman di sekolah dan semuanya. Dan untuk Dewa Hyang (Mbah) yang dulu selalu cerewet sama saya yang ternyata itu memberikan dorongan untuk membuat selalu kreatif. [T]
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas di jalan-jalan kampung, menyelinap di antara...
DENPASAR – TATKALA.CO | Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 202...
Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentuka...
Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang disajikan secara megah dengan iringan...
“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….” Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hu...
JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya seperti temayang berpindah...
BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat memperkuat jati diri d...
Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar. Selain lukisan, Gus Saka juga memajang hasil ngebo...
SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan meluas. Bagi seorang epigraf dan arkeolog, kata ...