Pelaksanaan hari raya Nyepi dilaksanakan
setiap satu tahun sekali dan sudah ditetapkan sebagai hari libur nasional. Sehari
sebelum perayaan nyepi biasanya akan dilaksanakan yang namanya pengerupukan asal katanya dari kata
ngerupuk yang dipercaya umat Hindu
sebagai upacara mengusir para bhutakala atau segala kekuatan negatif.
Hari pengerupukan jatuh tepat pada saat
tilem sasih kasanga dimana seluruh umat Hindu melaksanakan upacara bhuta yadnya
yaitu Tawur Agung Kasanga. Pada hari yang sama sorenya atau biasa disebut
sandikala akan diadakan pertunjukan ogoh-ogoh yang dibuat oleh masing-masing
sekaa truna-truni dengan ukuran besar serta ditambah beberapa sosok menyeramkan
sebagai perwujudan dari bhuta-bhuti yang akan diarak keliling dengan diiringi gambelan
baleganjur atau tektekan.
Dari kegiatan tersebut ada dua alat musik yang
akan dipakai yakni gambelan yang terbuat dari tembaga untuk kesenian baleganjur
dan gambelan tektekan yang dibuat dari bambu. Keduanya memiliki alunan suara
yang berbeda yang dihasilkan untuk mengiringi pementasan ogoh-ogoh.
Kedua jenis seni music itu dibawakan oleh
para penabuh dengan kreasi mereka masing-masing, sehingga bunyi yang dihasilkan
bisa menghibur penonton yang datang langsung menyaksikan pawai ogoh-ogoh. Akan tetapi
ada hal yang lebih spesial akan dibahas ditulisan ini, bukan tentang upacara
pengerupukan ataupun gambelan baleganjur, melainkan alat musik tradisional yang
dibuat dari bambu (kulkul/kentongan) yang lebih dikenal dengan nama kesenian tektekan.
Menurut sumber yang pernah saya baca kesenian
tektekan merupakan salah satu warisan budaya tak benda yang berasal dari Desa
Kerambitan, Tabanan, bahkan kesenian ini sudah mendapat penghargaan sebagai
Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada tahun 2014 oleh Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan (Kemendikbud).
Namun entah apa penyebabnya tektekan
sendiri saat ini sudah mulai jarang dijumpai semenjak kesenian Baleganjur mulai
merambah dan lebih dominan dipakai, bahkan tidak hanya itu di beberapa wilayah justru
pernah sampai memakai soundsystem dengan musik yang bukan gambelan bali untuk
mengiringi ogoh-ogoh. Hal tersebut sontak mendapat teguran keras dari beberapa
pejabat pada tahun 2016 yang mungkin sudah pernah diberitakan oleh media cetak,
online dan lainnya karena dikatakan tidak layak dan bisa menghilangkan unsur
ritual Bali saat pelaksanaan pengerupukan.
Tak berhenti disana pada tahun-tahun
berikutnya sejak mendapat teguran ada pro dan kontra yang terjadi dikalangan
masyarakat terkait hal tersebut bahkan mereka memiliki pendapat dengan latar
belakang yang berbeda untuk menguatkan opini masing-masing.
Tektekan dari Desa Penuktukan
Kesenian tektekan ternyata masih bisa
ditemukan selain di Desa Kerambitan,
Tabanan, namun kali ini cukup jauh dari wilayah asalnya yaitu di Desa
Penuktukan, Buleleng disini setiap kali pelaksanaan pengerupukan kesenian
tektekan tidak pernah absen. Kesenian ini seolah sudah menjadi kebiasaan yang
sudah dilakukan secara terus-terusan setiap pelaksanaan pawai ogoh-ogoh. Meski
setiap banjar hampir sudah memiliki kelengkapan untuk gambelan Baleganjur
anak-anak justru lebih senang memainkan
tektekan yang dikolaborasikan dengan beberapa gerakan yang memacu semangat
mereka pada saat hari pengerupukan dilaksanakan.
Khusus di Desa Penuktukan Tektekan hampir
seperti alat gambelan Baleganjur hanya saja terbuat dari bambu yang beberapa
memiliki nama tersendiri seperti kulkul (kecek) yang dipukul dengan alunan nada
saling menyahut biasanya dimainkan minimal oleh sepuluh orang, selanjutnya ada
kemong yang terbuat dari bambu dimainkan oleh satu orang yang mengatur ritme
suara dari semua gambelan agar bisa didengar bagus oleh telinga, berikutnya ada
ponglang terbuat dari bambu yang dimainkan oleh dua orang, kemudian ada
klenting yang dimainkan oleh satu orang dan saling membalas dengan gejir atau
gong dimainkan oleh satu orang serta terbuat dari bambu, dan yang terakhir dua
kulkul yang dipukul dengan nada dua satu oleh dua orang.
Kesenian tektekan diharapan kedepannya
bisa tetap bertahan khususnya di Buleleng dan Tabanan, namun tidak menutup
kemungkinan di seluruh Bali pada umumnya karena ini sebuah budaya yang memiliki
keunikan tersendiri saat pelaksanaan malam pengerupukan yang jatuh tepat pada
saat tilem sasih kesanga.
Ya, daripada pakai alat pengeras suara semacam soundsistem, lebih baik menggunakan gamelan tektekan. Membuatnya gampang, suasana yang tercipta akan lebih klasik, meriah dan enak masuk di telinga, apalagi musik tektekan kini juga bisa digubah dengan berbagai kreasi yang unik dan kreatif. [T]