Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
Pelaksanaan hari raya Nyepi dilaksanakan setiap satu tahun sekali dan sudah ditetapkan sebagai hari libur nasional. Sehari sebelum perayaan nyepi biasanya akan dilaksanakan yang namanya pengerupukan asal katanya dari kata ngerupuk yang dipercaya umat Hindu sebagai upacara mengusir para bhutakala atau segala kekuatan negatif.
Hari pengerupukan jatuh tepat pada saat tilem sasih kasanga dimana seluruh umat Hindu melaksanakan upacara bhuta yadnya yaitu Tawur Agung Kasanga. Pada hari yang sama sorenya atau biasa disebut sandikala akan diadakan pertunjukan ogoh-ogoh yang dibuat oleh masing-masing sekaa truna-truni dengan ukuran besar serta ditambah beberapa sosok menyeramkan sebagai perwujudan dari bhuta-bhuti yang akan diarak keliling dengan diiringi gambelan baleganjur atau tektekan.
Dari kegiatan tersebut ada dua alat musik yang akan dipakai yakni gambelan yang terbuat dari tembaga untuk kesenian baleganjur dan gambelan tektekan yang dibuat dari bambu. Keduanya memiliki alunan suara yang berbeda yang dihasilkan untuk mengiringi pementasan ogoh-ogoh.
Kedua jenis seni music itu dibawakan oleh para penabuh dengan kreasi mereka masing-masing, sehingga bunyi yang dihasilkan bisa menghibur penonton yang datang langsung menyaksikan pawai ogoh-ogoh. Akan tetapi ada hal yang lebih spesial akan dibahas ditulisan ini, bukan tentang upacara pengerupukan ataupun gambelan baleganjur, melainkan alat musik tradisional yang dibuat dari bambu (kulkul/kentongan) yang lebih dikenal dengan nama kesenian tektekan.
Menurut sumber yang pernah saya baca kesenian tektekan merupakan salah satu warisan budaya tak benda yang berasal dari Desa Kerambitan, Tabanan, bahkan kesenian ini sudah mendapat penghargaan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada tahun 2014 oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Namun entah apa penyebabnya tektekan sendiri saat ini sudah mulai jarang dijumpai semenjak kesenian Baleganjur mulai merambah dan lebih dominan dipakai, bahkan tidak hanya itu di beberapa wilayah justru pernah sampai memakai soundsystem dengan musik yang bukan gambelan bali untuk mengiringi ogoh-ogoh. Hal tersebut sontak mendapat teguran keras dari beberapa pejabat pada tahun 2016 yang mungkin sudah pernah diberitakan oleh media cetak, online dan lainnya karena dikatakan tidak layak dan bisa menghilangkan unsur ritual Bali saat pelaksanaan pengerupukan.
Tak berhenti disana pada tahun-tahun berikutnya sejak mendapat teguran ada pro dan kontra yang terjadi dikalangan masyarakat terkait hal tersebut bahkan mereka memiliki pendapat dengan latar belakang yang berbeda untuk menguatkan opini masing-masing.
Tektekan dari Desa Penuktukan
Kesenian tektekan ternyata masih bisa ditemukan selain di Desa Kerambitan, Tabanan, namun kali ini cukup jauh dari wilayah asalnya yaitu di Desa Penuktukan, Buleleng disini setiap kali pelaksanaan pengerupukan kesenian tektekan tidak pernah absen. Kesenian ini seolah sudah menjadi kebiasaan yang sudah dilakukan secara terus-terusan setiap pelaksanaan pawai ogoh-ogoh. Meski setiap banjar hampir sudah memiliki kelengkapan untuk gambelan Baleganjur anak-anak justru lebih senang memainkan tektekan yang dikolaborasikan dengan beberapa gerakan yang memacu semangat mereka pada saat hari pengerupukan dilaksanakan.
Khusus di Desa Penuktukan Tektekan hampir seperti alat gambelan Baleganjur hanya saja terbuat dari bambu yang beberapa memiliki nama tersendiri seperti kulkul (kecek) yang dipukul dengan alunan nada saling menyahut biasanya dimainkan minimal oleh sepuluh orang, selanjutnya ada kemong yang terbuat dari bambu dimainkan oleh satu orang yang mengatur ritme suara dari semua gambelan agar bisa didengar bagus oleh telinga, berikutnya ada ponglang terbuat dari bambu yang dimainkan oleh dua orang, kemudian ada klenting yang dimainkan oleh satu orang dan saling membalas dengan gejir atau gong dimainkan oleh satu orang serta terbuat dari bambu, dan yang terakhir dua kulkul yang dipukul dengan nada dua satu oleh dua orang.
Kesenian tektekan diharapan kedepannya bisa tetap bertahan khususnya di Buleleng dan Tabanan, namun tidak menutup kemungkinan di seluruh Bali pada umumnya karena ini sebuah budaya yang memiliki keunikan tersendiri saat pelaksanaan malam pengerupukan yang jatuh tepat pada saat tilem sasih kesanga.
Ya, daripada pakai alat pengeras suara semacam soundsistem, lebih baik menggunakan gamelan tektekan. Membuatnya gampang, suasana yang tercipta akan lebih klasik, meriah dan enak masuk di telinga, apalagi musik tektekan kini juga bisa digubah dengan berbagai kreasi yang unik dan kreatif. [T]
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas di jalan-jalan kampung, menyelinap di antara...
DENPASAR – TATKALA.CO | Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 202...
Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentuka...
Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang disajikan secara megah dengan iringan...
“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….” Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hu...
JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya seperti temayang berpindah...
BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat memperkuat jati diri d...
Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar. Selain lukisan, Gus Saka juga memajang hasil ngebo...
SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan meluas. Bagi seorang epigraf dan arkeolog, kata ...