Silakan buka semua buku tentang kesehatan dan kedokteran, saya jamin tak satu pun membahas topik seperti judul di atas. Lagipula jika menulis topik medis yang sudah lazim dibahas, saya jamin akan membuat pembaca jemu dan tak tertarik untuk membacanya. Ini mirip dengan penampilan seorang dokter.
Dokter yang rapi konservatif takkan menarik perhatian dibandingkan dengan dokter yang berpenampilan slengean dengan rambut gondrong berwarna plus tindik di telinganya sebelah misalnya. Sudah menjadi satu takdir budaya, masyarakat kita cenderung menilai seseorang dari balutannya semata. Maka seorang dokter pun harus klimis, rapi, wangi pun riang. Namun jika kita simak gaya seorang dokter bernama Sarah Gray, kita dibuatnya takjub. Ia seorang dokter cantik ahli bedah tulang berusia 31 tahun tinggal di Adelaide, Australia dengan tubuh penuh tato dan tindik!
Sarah Gray [Foto IG]
Mengapa kita perlu mikirin sakit justru saat tubuh kita sehat? Strategi ini justru sangat praktis untuk mencegah penyakit dan menjaga kesehatan kita. Saat sehat, secara naluriah kita cenderung abai dengan kehati-hatian alias cuek dengan risiko penyakit. Karena saat sehat kita tak kenal dengan rasa nyeri kolik yang menyiksa, sesak yang mencekik, atau demam menggigilkan juga rasa pusing berputar yang mencemaskan.
Yang kita nikmati hanyalah rasa maknyus steak sapi, hangatnya wine, serunya duduk berlama-lama ngobrol bareng sahabat atau sensasi gagahnya berganti-ganti pasangan seks. Segala kenikmatan adalah pangkal ketidakpedulian. Maka pikirkanlah segala sakit itu biar kita siaga.
Bayangan akan nyeri kolik setidaknya membawa kita cukup minum air dan giat berlari. Rasa takut akan sesak yang mencekik niscaya kita sepakat untuk berhenti merokok atau rajin mengenakan masker. Demi tak ngilu semua sendi akibat demam kita kan termotivasi mengenyahkan genangan air dan vertigo yang membuat hidup terasa tak lama lagi membuat kita rutin periksa tekanan darah dan gula.
Jika imajinasi sakit itu belum juga cukup meyakinkan, pergilah dan mendekat kepada mereka yang sudah sakit. Bayangan-bayangan itu akan menjadi lebih mengesankan untuk rasa takut kita. Saat melihat tubuh ODHA yang tersisa tulang, saat rasa kasar kita raba kulit mereka yang gagal ginjal atau mencium bau bangkai kaki penderita diabetes yang membusuk. Motivasi menjadi sehat tak cuma lantaran takut melihat kisah-kisah mengerikan itu, namun segalanya dapat menciptakan kasih sayang untuk memberi dukungan dan simpati kepada mereka. Kasih sayang dalam jiwa manusia adalah terapi tanpa zat kimia untuk sesama maupun diri sendiri.
Lalu, mungkinkah kita berpikir sehat saat tubuh ini telah terkapar diterjang penyakit? Prinsip inilah yang harus dibangun sebagai modal utama kesembuhan. Kita adalah apa yang kita pikirkan. Saat didiagnosis satu penyakit, hanya ada 2 hal yang harus dilakukan, yaitu berobat dan berpikir sehat. Sederhananya, jika sakit maka dengan berobat akan sehat.
Seorang pasien tak baik dan tak perlu memikirkan penyakitnya. Itu jatah hanya untuk dokter dan orang sehat. Ini logis, bagaimana mungkin seorang pasien ngerti mikirin penyakit, sementara seorang dokter ahli konsultan yang sudah belajar penyakit hingga 12 tahun dan tetap ikut seminar sampai sekarang saja masih sering bingung dengan penyakit yang ditanganinya? Maka biarin saja dokter berpikir keras soal penyakit sementara pasien cukup pikirkan sehatnya saja. Ini cukup adil!
Pikiran sehat memang terbukti membuat seorang pasien menjadi waras. Misalnya, seorang pasien darah tinggi akan merasa sehat saat mengetahui pasien lain yang menderita diabetes dan kakinya telah diamputasi. Atau pasien diabetes yang bahkan saat kedua kakinya telah dipotong merasa lebih sehat saat menyadari pasien diabetes lain yang harus menjalani terapi cuci darah dua kali seminggu.
Pasien gagal ginjal yang harus cuci darah dua kali seminggu seumur hidupnya pun boleh merasa lebih beruntung ketimbang seorang pasien kanker yang usianya hanya empat bulan lagi. Demikian seterusnya hingga rasa syukur itu membawa seorang pasien menerima dengan ikhlas penyakitnya. Seorang penderita kanker yang dalam empat bulan sisa hidupnya dapat tersenyum ikhlas, menghabiskan waktunya bersama pasangan, anak-anak atau cucunya adalah sebuah kesembuhan yang begitu nyata.
Seorang dokter harus belajar menjadi “pasien” demi menciptakan rasa empati kepada pasien-pasiennya dan seorang pasien harus belajar menjadi “dokter” untuk membangun rasa peduli dengan kesehatannya sendiri. (Obat Bagi Yang Sehat - Kisah-kisah Konyol Ala Dokter, Mahima 2019) [T]
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...