- Judul Buku :
Berdamai dengan Rasa Malas
- Penulis :
Munita Yeni
- Penerbit :
Psikologi Corner
- ISBN :
978-623-7324-07-2
- Halaman :
iv + 204
----
Menjadi buku self improvment pertama yang saya baca pada tahun 2020, “Berdamai dengan Rasa Malas” sangat memicu semangat saya untuk benar-benar merubah pola hidup yang bisa dikatakan begajulan di tahun 2019. Untuk kali ini saya hanya akan menulis inti sari dari apa yang saya petik setelah membaca buku ini. Sejauh ini, buku karangan dari Munita Yeni yang saya tahu baru dua yaitu “Baca Buku ini Saat Engkau Lelah” dan “Berdamai dengan Rasa Malas”. Namun, buku yang baru saya sempat baca adalah yang saya sebutkan terakhir.
Sejauh ini, kedua buku dari Munita
Yeni menjadi Best Seller. Tak heran apalagi setelah membaca isi bukunya
benar-benar sangat aplikatif tak hanya sekadar teori saja. Itu menjadi salah
satu faktor yang menyebabkan buku ini laris manis di pasaran. Selain isinya
yang aplikatif, bahasa yang digunakan pun mudah untuk dipahami. Tak banyak kita
jumpai bahasa-bahasa yang ilmiah. Yeni coba menjelaskan dengan bahasa yang umum
kita gunakan dalam komunikasi sehari-hari, ditambah dengan contoh-contoh yang
diberikan tentu makin memudahkan pembaca untuk memahami isi dari buku yang
berjudul Berdamai dengan Rasa Malas ini.
Pentingnya Mengelola Emosi
Buku yang terbit pertama kali pada
Juli 2019 ini terbagi dalam tiga bagian, bagian pertama berjudul Apakah Malas
Sebuah Anugerah? Dalam bagian ini terbagi lagi menjadi dua sub bagian yaitu
kecerdasan emosi dan lagu nina bobo. Secara umum, dalam buku ini memunculkan
beberapa hal yang sering kita alami, tapi baru saya ketahui apa penyebab dan
pengertiannya. Sebut saja Kecerdasan Intrapribadi yang merupakan sebutan lain
dari manusia-manusia yang mampu untuk mengolah kapan dia harus bangkit dari
rasa terpuruk, tersadar dengan segera saat dia marah, atau mereka-mereka yang
mampu untuk menyetel emosi, bukan disetel emosi. Kalimat terakhir rasa-rasanya
sangat menohok bagi kita yang sering dikuasai oleh emosi sesaat yang muncul
pada momen tertentu. Kita tak mampu dengan baik menguasai emosi yang muncul
dalam diri dan cenderung membiarkan emosi untuk mengendalikan akal sehat kita.
Ketika emosi kita mereda, barulah kita merasa malu dengan apa yang telah kita
lakukan sebelumnya (saat tubuh dikuasai oleh emosi). Inti yang dapat dipetik
pada bagian ini adalah kita sebagai manusia haruslah cerdas dalam mengelola
emosi, karena hanya kita yang paling tahu apa yang kita inginkan.
Selain tentang kecerdasan dalam
mengelola emosi, pada bagian ini juga dibeberkan bahwa bagaimana perlakuan
orang tua terhadap kita sejak balita sangat mempengaruhi bagaiman kita
mengelola emosi sesudah dewasa. Dalam buku ini disebutkan bahwa bayi yang
mendapatkan perlakuan yang cepat saat menangis cenderung lebih mampu untuk
mengendalikan emosi karena mendapatkan bantuan dari orang sekitarnya. Berbeda
dengan bayi yang dibiarkan menangis dalam waktu cukup lama, saat bayi itu
beranjak dewasa akan kesulitan dalam mengendalikan emosinya bahkan cenderung
dikuasai oleh emosinya. Hal yang sama juga terjadi dengan bayi yang mendapatkan
perlakuan yang terlalu dimanjakan oleh orang tuanya, saat mereka dewasa akan
cenderung bergantung dengan orang lain untuk menyelesaikan konflik emosinya. Maka,
penting bagi orang tua era sekarang untuk mengetahui cara mendidik anak yang
baik sejak dini, karena hal yang berlebihan tentu akan berdampak tidak baik.
Menjadikan Malas sebagai Teman Jauh
Saja
Tentu kebanyakan dari kita (tentu
termasuk saya) kerap kali menjadikan rasa malas menjadi tameng untuk banyak hal
yang tidak jadi kita kerjakan, atau hal yang sudah kita kerjakan tetapi
hasilnya tidak memuaskan. Ini adalah efek dari menjadikan rasa malas menjadi
teman dekat kita, bahkan cenderung menjadi sahabat hahaha. Dalam buku ini
diungkap betapa rasa malas benar-benar menghambat produktivitas manusia dalam
berkreasi, juga menghambat kita untuk menampilkan hasil terbaik dari kinerja
kita. Hal ini dikarenakan rasa malas mengajak kita untuk melihat sekitar
sebagai pembanding (jadi untuk apa kita melakukan yang terbaik, jika orang lain
melakukan hal yang biasa saja mendapat perlakuan yang sama tak ada bedanya).
Bisa dikatakan malas memberikan kita banyak permakluman untuk segala hal kurang
maksimal yang kita buat.
Kebiasaan-kebiasaan apa saja yang
membuat si malas awet berdiam diri dalam tubuh kita? Salah satunya adalah
kebiasaan kita menangis. Menangis pada umumnya adalah cara manusia menunjukkan
bahwa dirinya sedang dirundung kesedihan, tapi ada juga yang menangis saat ia
sedang merasa sangat bahagia. Intinya menangis adalah salah satu cara manusia
dalam mengekspresikan suasana hatinya. Kesedihan adalah hal yang kerap kali
mengundang tangis itu datang, dan apa yang biasa kamu lakukan saat menangis?
Mengurung diri di kamar sambil memeluk guling? Itulah yang seharusnya
dihindari, kenapa demikian? Karena dengan menangis berlebihan sampai tertidur
dan itu menjadi rutinitas (berulang), otak kita menjadi miskin pengalaman dan
mendapat pemecahan masalah untuk terus berjuang. Dalam buku ini diungkap tempat
apa saja yang harus kita hindari saat menangis, dan kita diberikan solusi untuk
mengelola kesedihan itu menjadi satu hal yang produktif dan cenderung
meningkatkan mood kita yang awalnya buruk menjadi lebih baik.
Pada bagian kedua ini, selain
menangis ada juga yang namanya menguap. Menguap menjadi tanda untuk manusia
bahwa kewaspadaan dalam diri sudah mulai menurun. Kewaspadan menurun otomatis
kinerja indra kita semua pasti menurun, sehingga banyak kita temukan kasus
kecelakaan lalu lintas yang diakibatkan karena mengantuk. Menguap adalah salah
satu pertanda bahwa kita kurang memperhatikan pola hidup seperti pola tidur,
pola makan hingga olahraga. Tanpa menerapkan pola hidup sehat, jangan harap si
malas akan menjauhi dari dalam diri kita, mereka malah mengendap dan nantinya
akan menguasai tubuh kita. Apakah kalian mau dikuasai oleh rasa malas? Jawaban
ada di tangan kalian sendiri.
Menjadikan Malas sebagai Motivasi
untuk Maju
Tentu banyak sekali orang yang ingin move
on dari rasa malasnya, apalagi di awal tahun begini banyak sekali yang
membuat resolusi tahun baru supaya menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya.
Tapi semua resolusi yang telah kita rancang itu akan menjadi sampah ketika tak
ada aksi nyata dari kita sendiri, kalau bahasa kerennya itu “Resolusi Tanpa
Aksi Hanya Sekadar Basa-Basi”. Pada bagian terakhir dalam buku ini, lebih
menjelaskan kepada pembaca bahwa rasa malas ini menjadi alarm bagi kita
bahwa tubuh kita sudah mencapai overload, memang tubuh perlu dimanjakan
tetapi jangan sampai terbuai dengan kondisi nyaman. Karena ketika tubuh sudah
mencapai posisi nyaman, akan sulit bagi kita untuk bangkit dan menjadi
produktif seperti sediakala. Rasa malas yang berhasil menguasai tubuh kita ini
mampu menyebabkan beberapa hal yang harusnya mudah kita lakukan menjadi hal
yang langka cenderung keajaiban bagi kita untuk dilakukan. Misalnya, bangun
pagi yang akan tinggal sejarah, sulit dalam mengambil keputusan dan bersyukur
hanya sekadar bualan saja.
Dalam bagian ini juga, Yeni
memberikan berbagai tips untuk berdamai dengan rasa malas yang bersemayam dalam
diri kita. Salah satunya adalah mencoba menyelesaikan berbagai tugas dalam
waktu singkat. Misalnya nih, saya punya tugas untuk menulis satu essai yang
harus diselesaikan dalam waktu seminggu. Karena tahu deadline tulisan
itu seminggu, maka tentu saya akan leha-leha di empat hari pertama dan baru
mengerjakan essai tersebut di hari kelima. Tentu kalian juga seperti itu kan?
Mengandalkan SKS (Sistem Kebut Semalam). Karena sudah tahu hal tersebut,
alangkah lebih baiknya bagi saya untuk memaksimalkan waktu barang satu hingga
dua jam untuk menyelesaikan essai tersebut dan menyediakan waktu khusus untuk
mengevaluasi essai yang telah dibuat. Dengan demikian tentu penggunaan waktu
akan lebih efektif sehingga akan lebih banyak pula pekerjaan yang bisa kita
lakukan. Produktif bukan? Itu hanya salah satu cara bagaimana kita berdamai
dengan rasa malas, masih banyak lagi cara yang disediakan dalam buku ini.
Menurut saya pribadi, buku ini sagat
bagus bagi kalian yang hingga kini masih memiliki masalah dengan rasa malas
berlebih. Baca buku ini dan terapkan mana yang kalian anggap cocok untuk diri
kalian, maka rasakanlah perbedaan sebelum dan sesudah membaca buku ini. Selamat
membaca kawan. [T]
Denpasar, 24 Januari 2020