Buku, Gaya Hidup, dan Keterasingan...
HARI ini sama seperti hari-hari lalu. Seperti biasa aku membaca buku sebelum berangkat kuliah. Di kos yang sempit, panas, dan berdebu. Kos yang selalu kotor dengan puntung kretek b...
----
Menjadi buku self improvment pertama yang saya baca pada tahun 2020, “Berdamai dengan Rasa Malas” sangat memicu semangat saya untuk benar-benar merubah pola hidup yang bisa dikatakan begajulan di tahun 2019. Untuk kali ini saya hanya akan menulis inti sari dari apa yang saya petik setelah membaca buku ini. Sejauh ini, buku karangan dari Munita Yeni yang saya tahu baru dua yaitu “Baca Buku ini Saat Engkau Lelah” dan “Berdamai dengan Rasa Malas”. Namun, buku yang baru saya sempat baca adalah yang saya sebutkan terakhir.
Sejauh ini, kedua buku dari Munita Yeni menjadi Best Seller. Tak heran apalagi setelah membaca isi bukunya benar-benar sangat aplikatif tak hanya sekadar teori saja. Itu menjadi salah satu faktor yang menyebabkan buku ini laris manis di pasaran. Selain isinya yang aplikatif, bahasa yang digunakan pun mudah untuk dipahami. Tak banyak kita jumpai bahasa-bahasa yang ilmiah. Yeni coba menjelaskan dengan bahasa yang umum kita gunakan dalam komunikasi sehari-hari, ditambah dengan contoh-contoh yang diberikan tentu makin memudahkan pembaca untuk memahami isi dari buku yang berjudul Berdamai dengan Rasa Malas ini.
Pentingnya Mengelola Emosi
Buku yang terbit pertama kali pada Juli 2019 ini terbagi dalam tiga bagian, bagian pertama berjudul Apakah Malas Sebuah Anugerah? Dalam bagian ini terbagi lagi menjadi dua sub bagian yaitu kecerdasan emosi dan lagu nina bobo. Secara umum, dalam buku ini memunculkan beberapa hal yang sering kita alami, tapi baru saya ketahui apa penyebab dan pengertiannya. Sebut saja Kecerdasan Intrapribadi yang merupakan sebutan lain dari manusia-manusia yang mampu untuk mengolah kapan dia harus bangkit dari rasa terpuruk, tersadar dengan segera saat dia marah, atau mereka-mereka yang mampu untuk menyetel emosi, bukan disetel emosi. Kalimat terakhir rasa-rasanya sangat menohok bagi kita yang sering dikuasai oleh emosi sesaat yang muncul pada momen tertentu. Kita tak mampu dengan baik menguasai emosi yang muncul dalam diri dan cenderung membiarkan emosi untuk mengendalikan akal sehat kita. Ketika emosi kita mereda, barulah kita merasa malu dengan apa yang telah kita lakukan sebelumnya (saat tubuh dikuasai oleh emosi). Inti yang dapat dipetik pada bagian ini adalah kita sebagai manusia haruslah cerdas dalam mengelola emosi, karena hanya kita yang paling tahu apa yang kita inginkan.
Selain tentang kecerdasan dalam mengelola emosi, pada bagian ini juga dibeberkan bahwa bagaimana perlakuan orang tua terhadap kita sejak balita sangat mempengaruhi bagaiman kita mengelola emosi sesudah dewasa. Dalam buku ini disebutkan bahwa bayi yang mendapatkan perlakuan yang cepat saat menangis cenderung lebih mampu untuk mengendalikan emosi karena mendapatkan bantuan dari orang sekitarnya. Berbeda dengan bayi yang dibiarkan menangis dalam waktu cukup lama, saat bayi itu beranjak dewasa akan kesulitan dalam mengendalikan emosinya bahkan cenderung dikuasai oleh emosinya. Hal yang sama juga terjadi dengan bayi yang mendapatkan perlakuan yang terlalu dimanjakan oleh orang tuanya, saat mereka dewasa akan cenderung bergantung dengan orang lain untuk menyelesaikan konflik emosinya. Maka, penting bagi orang tua era sekarang untuk mengetahui cara mendidik anak yang baik sejak dini, karena hal yang berlebihan tentu akan berdampak tidak baik.
Menjadikan Malas sebagai Teman Jauh Saja
Tentu kebanyakan dari kita (tentu termasuk saya) kerap kali menjadikan rasa malas menjadi tameng untuk banyak hal yang tidak jadi kita kerjakan, atau hal yang sudah kita kerjakan tetapi hasilnya tidak memuaskan. Ini adalah efek dari menjadikan rasa malas menjadi teman dekat kita, bahkan cenderung menjadi sahabat hahaha. Dalam buku ini diungkap betapa rasa malas benar-benar menghambat produktivitas manusia dalam berkreasi, juga menghambat kita untuk menampilkan hasil terbaik dari kinerja kita. Hal ini dikarenakan rasa malas mengajak kita untuk melihat sekitar sebagai pembanding (jadi untuk apa kita melakukan yang terbaik, jika orang lain melakukan hal yang biasa saja mendapat perlakuan yang sama tak ada bedanya). Bisa dikatakan malas memberikan kita banyak permakluman untuk segala hal kurang maksimal yang kita buat.
Kebiasaan-kebiasaan apa saja yang membuat si malas awet berdiam diri dalam tubuh kita? Salah satunya adalah kebiasaan kita menangis. Menangis pada umumnya adalah cara manusia menunjukkan bahwa dirinya sedang dirundung kesedihan, tapi ada juga yang menangis saat ia sedang merasa sangat bahagia. Intinya menangis adalah salah satu cara manusia dalam mengekspresikan suasana hatinya. Kesedihan adalah hal yang kerap kali mengundang tangis itu datang, dan apa yang biasa kamu lakukan saat menangis? Mengurung diri di kamar sambil memeluk guling? Itulah yang seharusnya dihindari, kenapa demikian? Karena dengan menangis berlebihan sampai tertidur dan itu menjadi rutinitas (berulang), otak kita menjadi miskin pengalaman dan mendapat pemecahan masalah untuk terus berjuang. Dalam buku ini diungkap tempat apa saja yang harus kita hindari saat menangis, dan kita diberikan solusi untuk mengelola kesedihan itu menjadi satu hal yang produktif dan cenderung meningkatkan mood kita yang awalnya buruk menjadi lebih baik.
Pada bagian kedua ini, selain menangis ada juga yang namanya menguap. Menguap menjadi tanda untuk manusia bahwa kewaspadaan dalam diri sudah mulai menurun. Kewaspadan menurun otomatis kinerja indra kita semua pasti menurun, sehingga banyak kita temukan kasus kecelakaan lalu lintas yang diakibatkan karena mengantuk. Menguap adalah salah satu pertanda bahwa kita kurang memperhatikan pola hidup seperti pola tidur, pola makan hingga olahraga. Tanpa menerapkan pola hidup sehat, jangan harap si malas akan menjauhi dari dalam diri kita, mereka malah mengendap dan nantinya akan menguasai tubuh kita. Apakah kalian mau dikuasai oleh rasa malas? Jawaban ada di tangan kalian sendiri.
Menjadikan Malas sebagai Motivasi untuk Maju
Tentu banyak sekali orang yang ingin move on dari rasa malasnya, apalagi di awal tahun begini banyak sekali yang membuat resolusi tahun baru supaya menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya. Tapi semua resolusi yang telah kita rancang itu akan menjadi sampah ketika tak ada aksi nyata dari kita sendiri, kalau bahasa kerennya itu “Resolusi Tanpa Aksi Hanya Sekadar Basa-Basi”. Pada bagian terakhir dalam buku ini, lebih menjelaskan kepada pembaca bahwa rasa malas ini menjadi alarm bagi kita bahwa tubuh kita sudah mencapai overload, memang tubuh perlu dimanjakan tetapi jangan sampai terbuai dengan kondisi nyaman. Karena ketika tubuh sudah mencapai posisi nyaman, akan sulit bagi kita untuk bangkit dan menjadi produktif seperti sediakala. Rasa malas yang berhasil menguasai tubuh kita ini mampu menyebabkan beberapa hal yang harusnya mudah kita lakukan menjadi hal yang langka cenderung keajaiban bagi kita untuk dilakukan. Misalnya, bangun pagi yang akan tinggal sejarah, sulit dalam mengambil keputusan dan bersyukur hanya sekadar bualan saja.
Dalam bagian ini juga, Yeni memberikan berbagai tips untuk berdamai dengan rasa malas yang bersemayam dalam diri kita. Salah satunya adalah mencoba menyelesaikan berbagai tugas dalam waktu singkat. Misalnya nih, saya punya tugas untuk menulis satu essai yang harus diselesaikan dalam waktu seminggu. Karena tahu deadline tulisan itu seminggu, maka tentu saya akan leha-leha di empat hari pertama dan baru mengerjakan essai tersebut di hari kelima. Tentu kalian juga seperti itu kan? Mengandalkan SKS (Sistem Kebut Semalam). Karena sudah tahu hal tersebut, alangkah lebih baiknya bagi saya untuk memaksimalkan waktu barang satu hingga dua jam untuk menyelesaikan essai tersebut dan menyediakan waktu khusus untuk mengevaluasi essai yang telah dibuat. Dengan demikian tentu penggunaan waktu akan lebih efektif sehingga akan lebih banyak pula pekerjaan yang bisa kita lakukan. Produktif bukan? Itu hanya salah satu cara bagaimana kita berdamai dengan rasa malas, masih banyak lagi cara yang disediakan dalam buku ini.
Menurut saya pribadi, buku ini sagat bagus bagi kalian yang hingga kini masih memiliki masalah dengan rasa malas berlebih. Baca buku ini dan terapkan mana yang kalian anggap cocok untuk diri kalian, maka rasakanlah perbedaan sebelum dan sesudah membaca buku ini. Selamat membaca kawan. [T]
Denpasar, 24 Januari 2020
HARI ini sama seperti hari-hari lalu. Seperti biasa aku membaca buku sebelum berangkat kuliah. Di kos yang sempit, panas, dan berdebu. Kos yang selalu kotor dengan puntung kretek b...
Musik baru adalah kesinambungan tradisi musik klasik, yang mewakili perintisan dan kreativitas dari musik klasik tersebut. Lagi pula, musik baru dapat merangkum elemen dari banya...
NYEPI merupakan hari raya umat Hindu yang diperingati setiap tahun. Menjelang tahun baru Saka, berbagai ucapan sudah dipasang dan dipajang di sepanjang jalan. Berbagai lembaga, o...
Rekan-rekan seniman, penikmat seni, kaum terpelajar, budayawan, dan hadirin sekalian. Perkenankan saya mengucapkan terima kasih kepada panitia “Festival Monolog 100 Putu Wijaya” y...
//Meong meong alih ja bikule/ Bikul gede gede / Buin mokoh mokoh /Kereng pesan ngerusuhin/Juk meng… Juk kul..// BEGITU lagu ‘Meong-meong’ mengalun lincah dan meriah di kalangan An...
Buku : Celia dan Gelas-Gelas di Kepalanya Penulis : Lugina W.G dkk Hal : 256 hlm ISBN : 978-602-391-147-9 Cetakan 1 : Mei 2016 Penerbit : DIVA Press MERAWAT tradisi, itulah...
PRAMOEDYA Ananta Toer menyatakan bahwa, Negara yang tidak tahu sejarah adalah negara budak, budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain. Sebab, sejarah sebagai guru da...
TEPUK tangan bersahutan usai tarian “Sesapi Ngundang Ujan” dipentaskan di atas panggung. Pandangan mata ratusan pengunjung di Bentara Budaya Bali masih terpaku pada bentangan layar...
KEMARIN sore Pekak Renes main ke rumah. Tumben lumayan rapi, bercelana panjang berkemeja putih, mirip Jokowi. Sambil ngopi ia bercerita kangin-kauh, mulai dari krisis ekonomi sampa...
ADA yang dilupakan oleh sebagian besar masyarakat Bali dalam menata pembangunan Bali, yaitu air. Air dalam sejarah peradaban Bali memiliki peran paling vital, baik secara spiritua...