Hari-hari serius, menegangkan, sekaligus juga menyenangkan dalam proses pementasan The Seen And Unseen di Melbourne Australia, dimulai Senin 17 Februari 2020, setelah pada Minggu malam, kami, anak-anak Sanggar Bumi Bajra tertidur pulas, termasuk saya.
Pagi, terdengar pintu digedor. Seseorang membangunkan saya. Tapi saya masih ingin tidur. Perlahan suara itu semakin keras dan saya pun terbangun dengan mata masih mengantuk. Ini baru jam 7, dan kami memang berjanji kepada teman-teman akan bangun jam 7. Ya, tapi ini jam 7 waktu Bali. Di Melbourne jam sudah menunjukkan pukul 10. Saya, juga anak-anak lain seperti kepupungan.
Setelah bangun dengan mata
masih mengantuk, kami sarapan, lalu bersiap siap untuk olahraga pagi.
Kami olahraga di taman yang kemarin
kami kunjungi ketika baru tiba di
Melbourne. Kami melakukan jogging, yoga, dan latihan akrobatik ditemani
hangatnya matahari pagi. Setidaknya kami bisa mengahatkan tubuh dan menjaga
stamina, karena cuaca dingin sekitar 20 derajat celcius.
Anak-anak Bumi Bajra pemanasan di taman menjelang latihan serius di Martin Myer Arena
Dua jam berlalu, olahraga selesai. Tubuh kami terasa hangat. Senin pagi itu sebenarnya masih
bebas, artinya kami belum dijadwal latihan koreografi dan mencoba-coba panggung. Kami masih bisa duduk-duduk agak santai di pojokan gues house, di sebuah taman kecil dengan
begitu banyak pepohonan.
Di tengah kami ada Ayu
Laksmi (dalam film The Seen And
Unseen berperan sebagai ibu Tantra dan Tantri). Kami menganggap Ayu Laksmi sebagai ibu kami, seperti juga Dayu Ani.
Ibu Ayu Laksmi ngobrol bersama kami tentang banyak hal, terutama tentang
bagaimana pentingnya kita bisa
menguasai Bahasa Inggris dan informasi teknologi alias IT
untuk bisa menguasai dunia di masa
depan.
Sekitar jam
3 kami akan pergi ke Melbourne
Central untuk membeli makanan. Kami berjalan sejauh 1,7 kilometer. Ditengah
perjalanan ada seorang pengamen yang lihai memainkan perkusi. Kami tertarik,
dan langsung menghampiri. Lima menit pertunjukan dan kami tiba-tiba diajak
bermain bersama. Namanya Duckman, dia sangat ramah dengan pengunjung. Dan saya
tertarik dengan kisah hidupnya yang tinggal sebatang kara karena dibuang oleh
orangtuanya. Kami sempatkan berfoto dengannya. “Agar saya
juga bisa terkenal,”
katanya.
Setelah melihat pertunjukan yang cukup
menarik, kami melanjutkan perjalanan. Sekitar
20
menit kami sampai. Satu jam kami habiskan untuk berbelanja. Lalu kami
mengunjungi Victoria Museum walaupun tidak sampai ke dalam. Kami hanya
mengabadikan moment diluar museum. Hari sudah malam, kami pun balik ke gues
house dan langsung tertidur lelap.
Selasa 18 Februari 2020. Hari ketiga kami
di Melbourne. Dan ini hari pertama kami latihan dengan sungguh-sungguh. Pada jam sembilan waktu setempat kami sudah siap
untuk berangkat ke Martin Myer Arena untuk latihan dan mencoba setingan
panggung. Saat itu hujan,
dan udara sangat dingin. Kami harus
membawa baju yang tebal supaya tidak kedinginan.
Jam 9.30 kami sudah sampai di Martin Myer.
Kami langsung masuk studio. Di sini
kami diperkenalkan dengan crew Asia Topa. Basa basi sedikit untuk menghangatkan
suasana, karena diluar sangat dingin usai hujan. Setelah itu Kami pemanasan
seperti biasa, mencoba latihan dari awal sampe akhir.
Kami juga diundang makan siang bersama
team dari Teater Planet (Garin Nugroho) beserta team Asia Topa. Sangat senang
karena dapat berkenalan dengan orang baru
dengan obrolan yang mengesankan.
Sejam berlalu, kami langsung mencoba
latihan di panggung. Kaget, saat latihan kami diawasi seorang petugas dari Australia. Istilahyang tepat sebenarnya kami dijaga, karena kami
anak-anak. Orang itu mengamati, mengawasi dan
mengingatkan kami jika
setiap jam kami harus istirahat 10 menit.
Dayu Ani, sang koreagrafer mendampingi kami latihan
Dari
Dayu Ani saya mendengar bahwa di Australia pekerjaan atau kegiatan yang bersentuhan dengan anak-anak harus memiliki
surat ijin dari pemerintah bahwa yang bersangkutan layak bekerja dengan anak-anak. Dan karena
kami memang anak-anak, maka kami diawasi dan dijaga agar tak terjadi hal-hal
yang membahayakan untuk anak-anak.
Saya terkesan,
betapa seriusnya pemerintah Australia menjaga anak-anak, melindungi, dan
mengawasinya, meski kami anak-anak dari Indonesia. Bayangan saya melayang ke
Bali, ke sejumlah sekaa gong kebyar anak-anak yang pentas di Pesta Kesenian
Bali. Mereka biasanya latihan sampai malam. Adakah mereka sudah mendapat
perlindungan sebagai anak-anak?
Di Martin
Myer Arena itu dua orang pengawas kemudian juga berkunjung. Mereka memastikan set panggung dan semuanya aman untuk anak-anak. Jam 6 latihan usai.
Kami beristirahat untuk mempersiapkan hari yang lebih menegangkan, besoknya.
Latihan di Gedung Martin Myer Arena kami diawasi, tepatnya dijaga dan dilindungi petugas dari pemerintah Australia
Galungan
Besoknya, Rabu 19 Februari 2020, adalah Hari Raya Galungan. Dan untuk kali pertama saya merayakan Galungan di negara lain. Tentu saya tak dapat merasakan lawar, urutan, dan kuah jukut. Ada sedikit rasa sedih. Namun anak-anak Sanggar Bumi Bajra menyempatkan diri untuk maoton Galungan dengan banten yang sangat sederhana. Pagi hari ini kami juga sembahyang seperti biasa untuk memohon kelancaran dari pementasan The Seen And Unseen.
Dan tibalah saat yang
benar-benar menegangkan. Rabu ini adalah waktunya dress
reherseal. Ya bisa dibilang pementasan pertama. Untuk persiapan, kami latihan sederhana di
dalam kamar.
Dress reherseal, pementasan pertama kami di Martyn Myer Arena, Victorian College of The Arts, Australia
Sekitar satu jam kami selesai latihan. Jam
12.30 kami harus sudah berada di panggung untuk mencoba dress rehearsal. Mandi,
makan kami lakukan dengan cepat, supaya tidak telat sampai disana. The Seen And
Unseen pentas perdana pada tanggal 20 Februari jam 19.00 di Martyn Myer Arena,
Victorian College of The Arts. Pementasan
pun lancar.
Dan hari-hari lain masih menunggu, Kami selanjutnya pentaskan tanggal 22 - 23 Februari jam 17.00, tanggal 24 Februari jam 14.00, tanggal 26 - 28 Februari jam 19.00, dan terakhir tanggal 29 Februari jam 13.00 dan 17.00. [T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...