Rumor Demo 4 November - Provokasi Media dan Jurnalisme Damai
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
Dalam gaguritan Katuturan Ki Balian Batur, karya Made Sanggra, diceriterakan Luh Wali menjual nasi. Luh Wali berjualan di Desa Cau. Ada judi sabungan ayam ketika itu. Sedang sibuk melayani pembeli, tiba-tiba seorang lelaki bertubuh pendek tetapi kekar datang ke tempatnya berjualan.
Lelaki itu berjalan terhuyung-huyung. Kata-kata tidak enak didengar berhamburan dari mulutnya. Tiba di depan tempat Luh Wali berjualan, setelah meludahkan dahak berkali-kali, laki-laki itu menyemburkan kata-kata. Kata-kata mana tersembur dengan nada keras.
“Hai kalian yang berbelanja di sini, apa kalian tidak tahu, perempuan ini menjual daging manusia?”
Diam sesaat. Lelaki itu menatap Luh Wali dengan pandangan tajam. Masih dengan nada keras setelah meludahkan dahak berkata, “Mengapa perempuan laknat ini menjual daging manusia? Ayahnya Raja Ngiwa. Setiap malam menggali kuburan dan membawa jenazah yang ada di dalamnya pulang.”
Judi sabungan ayam itu geger seketika. Para penjudi meninggalkan gelanggang menuju tempat Ni Luh Wali berjualan. Di depan tempat Luh Wali berjualan mereka berdiri melingkar memandang dengan tatapan kebencian. Agar tidak dituduh menjual daging manusia, dengan sekuat tenaga Luh Wali menjelaskan. Bukan rasa maklum yang dia terima, tetapi sorakan bernada mempermalukan.
Dalam gaguritan Basur, yang ditulis Ki Dalang Tangsub diceritakan. I Gede Basur datang ke rumah I Nyoman Karang. Tujuannya meminang Ni Sokasti menjadi menantu. Ni Sokasti menolak. I Gede Basur murka. Dengan kekuatan teluh terangjana, Ni Sokasti disakiti.
Hikmah apa yang bisa dipetik dari kedua gaguritan di atas?
Melakukan tindakan kekerasan, bukan saja terjadi sekarang di Bali. Sejak dulu sudah dilakukan. Terbukti, Luh Wali dan Ni Sokasti mengalami hal itu. Bedanya, Ni Sokasti mengalami tindakan kekerasan di rumahnya. Luh Wali ditimpa tindakan kekerasan di tempat umum. Alat yang digunakan tindakan kekerasan juga berbeda. Yang pertama dengan tuduhan menyakitkan. Ini dialami Ni Luh Wali. Lalu dengan teluh terangjana. Ini menimpa Ni Sokasti.
Boleh jadi, terhadap yang diuraikan di atas, muncul pertanyaan. Bukankah indikasi melakukan tindakan kekerasan itu adalah pukulan, tendangan, menyetrika badan, menyiram dengan air keras, memukul dengan benda tumpul, membegal dengan paksa, dan menyiksa? Bisakah mempermalukan dan menyerang dengan ilmu yang pembuktiannya sulit dilakukan bisa dikategorikan dengan kekerasan?
Mempermalukan dengan kata-kata menyakitkan di depan umum, bisa dikategorikan tindakan kekerasan. Sebab, secara langsung membuat sakit hati yang dipermalukan. Tindakan ini lebih keji dari pencemaran nama baik. Pada umumnya, tindakan mencemarkan nama baik, dilakukan tanpa sepengetahuan yang dikenai. Bisa saja melalui fitnah, atau penggunaan sarana informasi teknologi informasi yang tersebar secara luas.
Walau sulit dibuktikan, tindakan menyakiti melalui teluh terangjana dan sejenisnya juga termasuk tindakan kekerasan. Bukankah tindakan ini, menyebabkan yang diserang sakit bahkan nyaris menemui ajal.
Makna apa lagi bisa dipetik?
Dilihat dari sudut korban, perempuan Bali, sejak dulu mengalami kekerasan di ruang publik (masyarakat) dan di ruang pribadi (rumah) pelakunya adalah laki-laki Bali. Gaguritan ini menunjukkan, perempuan Bali adalah sasaran tembak kekerasan yang dilakukan laki-laki Bali. Dan ini, sejak dulu terjadi. Hal ini, hingga kini, walau sudah berkurang, masih terjadi.
Dilihat dari sisi pelaku, lelaki Bali, menempati posisi sebagai tokoh antagonis yang tega, telah termodifikasi sejak dulu. Sebagai figur antagonis yang tega melakukan kekerasan telah tercatat sejak dulu. Tertunjukkan pula, betapa kuasa patriarki telah berurat berakar. Betapa kuasa patriarki yang menyebabkan lahirnya tindakan kekerasan telah lama tertanam di tanah Bali. Tertanam dan tumbuh dengan subur sebagai pohon.
Hingga kini, pohon itu masih ada, tetapi secara perlahan tumbang. Ditumbangkan oleh kemajuan pendidikan. Ditumbangkan oleh pengertian lelaki Bali yang semakin terbuka: perempuan Bali juga makhluk ciptaan Tuhan yang harus diberi tempat yang layak. Tempat yang layak di sisi lelaki Bali terhadap hak-hak azasi manusia yang menempatkan insan ciptaan Tuhan dalam posisi sejajar. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Ditumbangkan oleh kesadaran: kuasa patriarki di Bali adalah kuasa untuk melindungi. [T]
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
Hai Gess! Kenken Kabare, Gess? Nu inget nyoblos, Gess? Calon Tunggal di Buleleng jani, Gess. Memusuh jak KOTAK KOSONG, Gess. Musuh ngenah aluh ngelawan! Musuh sing ngenah, kaden al...
Sekilas MEA ASEAN sebagai pasar tunggal kemudian disebut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), seperti dimuat pada laman Kementerian Luar Negeri RI (www.kemlu.go.id), Selasa 17 Maret 20...
BELAJAR dari figur dan tokoh perempuan, itulah barangkali pesan utama dari buku kumpulan cerpen berbahasa Bali terbaru I Made Suarsa, “Luh-Luh”. Buku ini memuat 19 cerpen yang kese...
Dear para jomblo di muka Bumi ini, Aku adalah kawanmu yang masih setia. Menjomblo bersama kalian adalah sebuah anugerah tak terbatas. Terima kasih karena kalian juga masih setia...
TIDAK banyak yang mengira bahwa kini masyarakat Eropa ternyata malas dalam mempelajari bahasa asing. Meski perkembangan pendidikan di Eropa sangatlah pesat, siapa sangka bahwa mere...
Prodi Pendidikan Seni Rupa, FBS, Undiksha, Singaraja, menggelar pameran bertajuk “Qilin” (Membaca Sosial Budaya Warga Pecinan Kota Singaraja) di Neka Art Museum, Jalan Sanggingan C...
SARJANA. Bak mobil yang telah turun kastanya dari kebutuhan tersier menjadi kebutuhan primer. Sarjanapun, maknanya semakin memudar. Terlalu banyak sarjana modern yang merasa sal...
ANDA pernah jatuh cinta? Baiklah, yang sudah pernah jatuh cinta sebelumnya pasti akan mengerti tentang pembahasan kali ini. Jika belum pernah, sayang sekali, anda hanya akan bisa...
Cerpen: Komang AstiariAKU rindu kampung halaman. Aku rindu nenek. Kepergiannya masih menyakitkan bagiku, batinku belum mampu menerima dia sudah pergi, selamanya. Apakah Tuhan mengg...