Jurnalis. Saya tidak pernah berpikir
pernah menekuni profesi itu. Sama sekali tidak pernah. Yang diinginkan, bekerja
di kantoran, berangkat pagi, pulang sore. Sabtu dan Minggu bisa libur. Belum
lagi terkadang menghayal bisa memakai pakaian rapi, dengan sepatu kinclong.
Mungkin sudah takdir yang mengharuskan
sebagai kuli tinta. Di awali pada tahun 2014, saya mengakhiri pendidikan S-1.
Saya bukan lulusan Ilmu Komunikasi. Apalagi khusus bidang photografi. Saya yang
lahir di desa, jauh dari pusat kota Singaraja, Kabupaten Buleleng hanya lulusan
Sastra Bali. Jurusan yang pernah orang katakan kepada saya tidak punya masa
depan. Hanya bisa untuk mencari kerja di Bali saja. Bahkan sempat dikatakan
cocok untuk bekal jadi bendesa. Cukup tersentil memang mendengar pernyataan
itu.
Pendidikan yang dianggap bukan menjadi
pemberi “keberuntungan” itu tetap saya jadikan “senjata”. Saya putuskan untuk
melamar di salah satu perusahaan media cetak ternama di Bali. Berselang tiga
hari, lalu dipanggil untuk mengikuti seleksi. Saya dinyatakan diterima. Merasa
bersyukur sudah pasti. Apalagi pekerjaan pertama ini saya dapatkan tepat dengan
hari kelahiran.
Jujur, di awal profesi jurnalis saya
anggap sebagai pelarian sekaligus jembatan untuk mengenalkan dengan pejabat,
kalangan birokrat. Pertama bekerja, saya mendapat tugas di Denpasar. Selama
tiga bulan bergelut dengan hirup pikuk, panas dan kemacetan. Bahkan saya sempat
sakit. Pasar Badung dan Pasar Batu Kandik menjadi tempat setia untuk mencari
ide berita. Kalau tidak soal ekonomi, bisa tentang human interest. Topik itu
memang sangat ringan. Bahkan sudah menjadi pemandangan biasa oleh masyarakat
umum. Tetapi dari itu saya belajar untuk menapaki topik yang lebih berat.
Pasca itu, Kabupaten Bangli menjadi
“hadiah” untuk saya dalam melanjutkan perjalanan sebagai kuli tinta. Sejak
lahir sampai lulus kuliah, tidak pernah saya menginjakkan kaki di bumi berhawa
sejuk itu. Saya terima, meskipun cukup berat meninggalkan Denpasar yang sudah
memberikan pengalaman selama tujuh tahun. Tinggal di Bangli, awalnya harus
memaksakan diri. Jalanan jam 8 malam sudah sepi. Tidak ada tempat hiburan.
Hanya ada warung senggol yang sudah siap-siap tutup jam setengah 10 malam.
Di tempat ini saya banyak mendapat
pengalaman. Bukan sebatas liputan tentang tanah longsor, mengelilingi Gunung
Batur dengan motor butut, kasus pembunuhan, perselingkuhan, gantung diri, dan
pertanian yang terserang hama atau harga jeruk anjlok. Apalagi di kejar dead
line di tengah paceklik berita yang membuat pusing.
Tetapi banyak hal yang membuat lebih
bersyukur. Berapa kali saya menemukan warga yang hidup dalam jeratan
kemiskinan. Salah satunya di wilayah Desa Pengotan. Seorang perempuan tua
tinggal di sebuah gubuk kecil di dasar lembah. Gubuk berdinding gedek yang
bolong di sejumlah sisi. Tempat tidur dan dapur menjadi satu dan hanya
berlantai tanah. Saya lupa nama perempuan itu.
Ia tinggal bersama anak laki-laki semata
wayangnya. Saya lupa juga namanya. Anak itu polos dan sangat ramah. Ia yang
duduk di bangku kelas VI SD memberikan saya sebuah motivasi. Ia sudah terbiasa
bekerja berat sejak masih duduk di kelas I. Pekerjaannya sebagai buruh potong
kayu yang membuatnya kehilangan empat jari pada salah satu tanganya. Yang
tersisa hanya jari kelingking. Banyak orang, yang sebatas diputusi pacar sudah
galau berat. Ada yang seolah suah tidak sanggup hidup lagi. Tapi tidak dengan
anak itu. Tetap semangat menjalani hidup, berbalut keceriaan senyuman.
Sebuah pelajaran juga saya ambil dari
seorang perempuan yang tinggal di wilayah Kecamatan Tembuku. Perempuan paruh
baya yang bertahan hidup menjadi tukang petik kelapa. Memanjat pohon tinggi
sudah biasa. Ada yang membuat hati pilu. Ia mengalami luka cukup parah pada
payudara yang membuatnya merintih kesakitan. Luka itu muncul setelah tertusuk
tajamnya pelepah kelapa. Saya disini berpikir dan lagi-lagi bersyukur memiliki
seorang ibu yang masih bisa bekerja lebih layak dan tidak terlalu berisiko.
Kepiluan juga muncul dari hidup seorang
kakek di wilayah Batu Meyeh, Kecamatan Kintamani. Usianya yang sudah renta
tinggal sebatang kara di rumah kecil. Berdinding batu, beratap terpal yang
sudah robek. Saat turun hujan, air sudah pasti masuk. Hal lain yang juga
menjadi pelajaran bagi saya adalah ketika bertemu dengan seorang anak di Desa
Belandingan, Kintamani.
Ketika itu ia masih duduk di kelas I.
Sebagian besar anak kini sudah beruntung. Ke sekolah tinggal diantar, pulangnya
di jemput. Uang jajan pun tak pernah jadi masalah. Bahkan ada sebelum sampai
rumah, diajak belanja duku. Namun keberuntungan itu tidak ada padanya. Ia harus
menempuh jarak 7 kilometer untuk sampai di sekolah dari rumahnya dengan
berjalan kali. Melewati jalan setapak yang diapit hutan belantara. Jam setengah
10 pagi ia baru bisa masuk kelas. Saat siswa lain bersitirahat, ia baru mulai belajar.
Soal uang jajan, sering ia tidak punya. Semangatnya tetap memancar dari wajah
mungilnya.
Saya juga pernah bertugas di tanah
kelahiran, Kabupaten Buleleng. Di bumi Panji Sakti ini juga mendapat sebuah
pengalaman. Bertemu sosok yang inspiratif, seperti halnya penyandang
disabilitas yang mampu menjadi tulang punggung keluarga. Mengandalkan profesi
sebagai penulis dan pelukis. Tempat terakhir menjadi kuli tinta, saya labuhkan
di Kabupaten Klungkung.
Mengawali bulan Juli 2017 hingga Oktober
2018, banyak hal yang didapatkan di bumi serombotan ini. Yang paling tidak
terlupakan ketika turut menjadi saksi tumpah ruahnya pengungsi erupsi Gunung
Agung di tengah malam pada September 2019. GOR Swecapura, Desa Gelgel menjadi
rumah kedua. Menggali cerita dari warga yang meninggalkan tanah kelahiran.
Banyak yang kehilangan pekerjaan, ternak dijual murah untuk bekal hidup.
Dihimpit hidup sulit, mereka tetap kuat. Tetap mensyukuri keadaan, meskipun
tinggal berbulan-bulan di tenda yang berdiri di tengah lapangan. Dari sekelumit
perjalanan itu, menyadarkan saya akan sebuah profesi. Jurnalis bukan
semata-mata tentang masa depan. Tetapi sebagai jalan penyadar hidup. [T]