Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup
DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen), seorang kawan tiba-tiba berkat...
Rainan atau hari penting yang menandai Galungan sudah dekat adalah Tumpek Pengatag. Sejak hari ini galungan terhitung lagi 25 hari. Bertepan dengan Tumpek Pengatag atau Tumpek Pengarah, yang juga disebut Tumpek Bubuh dan Tumpek Uduh, merupakan tumpek dengan sebutan paling beragam, Dane Sanghyang Galungan dan Dewata Dewati kembali ke desa dan keluarga ketika mereka masih hidup.
Tidak jelas, siapakah yang dimaksud Dane Sanghyang Galungan. Dewata Dewati adalah orang-orang yang sudah mulih ke desane wayah. Mereka hidup di suatu negeri yang disebut Kedewatan. Mungkin Dewa tertinggi mereka di sana adalah Dane Sanghyang Galungan.
Dewata Dewati berada di desa asal mereka sampai pada Sabtu tengah malam. Di sinilah perayaan Galungan berakhir yang disebut dengan ulian. Mungkin ada kaitannya dengan mulih atau kembali.
Galungan tidak ada hubungan dengan perayaan kemenangan darma melawan adarma. Makna ini tidak populer (di desa saya). Galungan adalah reuni antara keluarga yang sudah meninggal dengan yang hidup. Galungan menjadi pesta babi, jajan, dan buah. Galungan adalah reuni untuk melepas kangen.
Karena sebuah reuni maka perlu dirayakan dengan pesta. Galungan identik dengan kegembiraan. Menu penting pada pesta ini adalah daging babi. Pesta Galungan telah melahirkan berbagai jenis menu berbahan daging babi. Banten Galungan bukan simbolik tetapi suguhan atau makanan yang disajikan di atas dulang. Juga dilengkapi dengan minuman, rokok, dan kinangan. Inilah yang membedakan banten Galungan dengan banten pada umumnya.
Persembahyangan ke sanggah dan pura adalah persembahyangan bersama keluarga yang sudah meninggal dengan yang masih hidup. Saat reuni pada hari Galungan Dewata Dewati pun tetap ingat dengan sanggah atau pura-pura di desa ketika mereka masih hidup. Maka saat reuni Galungan mereka kembali lagi bersembahyang. Karena itulah pada hari raya ini saya, istri, dan anak bersembahyang ke sanggah atau ke pura desa dan pura dalem. Ini bukan hanya persembahyangan untuk kami yang hidup tetapi juga bersama seluruh keluarga yang sudah meninggal.
Pada Sabtu wuku Galungan, dipersiapkan aneka bekal bagi Dewata Dewati yang akan kembali ke Kedewatan. Waktu reuni sudah habis. Berbagai makanan yang awet disipkan, seperti ketupat dan entil, daging babi kering, sebagai bekal di perjalanan itu. Juga disiapkan sayur-mayur, daging, jajan (mentah), beras, dan uang.
Pada tengah malam dingin menusuk tulang, di hari Sabtu (wuku Galungan) untuk bersembahyang bersama dengan Dewata Dewati atau keluarga yang sudah meninggal, untuk melepas kembalinya ke Kedewatan.
Demikianlah makna Galungan bagi (bagi saya). Sederhana. Sedikit rumit karena mempertemukan dua dimensi waktu dan ruang. Tapi hal ini mudah dilakukan karena homo sapien memiliki keunggulan: imajinasi. [T]
DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen), seorang kawan tiba-tiba berkat...
DALAM diskusi dengan beberapa teman di grup WA, saya tidak menolak diposisikan sebagai ‘buzzer’. Tapi, dengan catatan (cetak tebal, miring, plus diwarnai stabilo warna merah) – sa...
MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa diabaikan begitu saja. Banyak...
DI sudut gang yang dari luar tampak tak sepenuhnya meyakinkan, tampak sebuah ruang yang terasa begitu hangat karena dipeluk tertawaan malaikat-malaikat kecil nan polos. Mereka men...
KETIKA suasana hening dari masyarakat dan para undangan, tabuh mulai dimainkan. Muda-mudi yang didominasi para remaja itu menari lepas tanpa beban. Nyanyian, tarian dan jiwanya be...
Di atas meja kayu panjang di beranda sebuah toko modern, sebuah kaleng bekas diletakkan begitu saja. Bentuknya sudah penyok di beberapa bagian. Permukaannya kusam seperti benda ya...
DI Mataram, pemutaran film Pesta Babi baru berjalan tiga menit ketika dibubarkan. Di kota lainnya, penyelenggara didatangi, diawasi, atau ditekan bahkan sebelum layar sempat dinya...
BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah yang sama, barangkali bukan perkara sed...
FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta. BMB #111 menghadirkan dua komposer muda, Budi Se...
PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026, telah memasuki hari ketiga...