Ramadyaksa gentasamara, penasehat utama raja Tumapel, Tunggul Ametung. Ia punya ambisi besar merebut kekuasaan. Dengan perkataan lain, punya ambisi besar merebut tahta. Untuk mencapai yang sangat diinginkannya itu, dengan rapi jali ia mengatur siasat. Dirancang sematang mungkin, agar saat melakukan kudeta tak ada halangan menghadang. Alias mulus.
Yang
pertama dilakukan, menempatkan orang-orang pilihannya pada posisi strategis.
Ini dilakukan, setelah menjadikan Bajanara Demak Keling tumbal siasat yang
dirancangnya. Tujuannya, jelas, agar bisa menggalang kekuatan. Kekuatan mana
pada saat yang tepat dikerahkan untuk menggulung Tunggul Ametung.
Dibalik
penempatan orang-orang pilihannya, tersembunyi niat lain di hati Ramadyaksa
Gentasamara. Yakni, yang bersangkutan agar merasa berhutang budi. Dengan
demikian mudah diatur. Mudah diatur, sebab yang bersangkutan akan punya rasa
ewuh pakewuh untuk menolak apa yang ia titahkan. Sehingga dengan mudah
menggiring sesuai dengan apa yang diinginkannya. Penggiringan ini dilakukan
dengan cara yang diusahakan agar yang bersangkutan tidak merasa digiring.
Siasat
berikutnya, memotong jalan pihak yang dianggap bisa mengganjal ambisinya.
Memotong jalan ini, jelas Bukan Ramadyaksa Gentasemara yang melakukan.
Tetapi orang lain. Orang lain itu, orang
yang merasa berhutang budi kepadanya. Dengan catatan, aktor intelektual di
belakang layar tetap Ramadyaksa Gentasemara.
Dari
ceritera yang dialihwahanakan dari kitab Pararaton menjadi novel oleh Zhaenal
Fahnani ini, diceriterakan Ramadyaksa Gentasemara ingin memotong jalan Ken Arok.
Ingin mengakhiri karir keprajuritan Ken Arok. Instingnya mengatakan Ken Arok,
di samping berbahaya, besar kemungkinan menjadi penghalang utama ambisinya.
Cerita
di atas adalah bukti. Sejak dulu kekuasaan sangat mempesona. Karena kekuasaan
memberi dengan berkelimpahan tahta dan harta serta keagungang. Tahta memberi
kekuasaan mutlak memerintah dan memutuskan sekehendak hati. Memberi wewenang
mutlak menjadi pemutus dan penentu.
Harta
melimpahkan kebahagiaan yang melimpah ruah. Tidak sepanjang hari. Tidak
sepanjang minggu. Tidak sepanjang bulan. Tidak sepanjang tahun. Tidak
bertahun-tahun. Tetapi seumur hidup. Bergelimang harta berarti jauh dari duka,
nestapa, lara, dan sengsara. Jauh dari tangis sedih karena kemiskinan dan
kelaparan tak henti mendera jauh dari predikat manusia papa.
Harta
memberi predikat insan terhormat kaya raya. Insan terhormat yang dipuja sebagai
penguasa maha hartawan. Insan terhormat yang selalu tampil dengan busana yang
menyilaukan. Membuat kagum siapapun memandang. Membuat berdecak siapapun
menatap. Membuat banyak orang berdatang sembah dengan harapan mendapat uluran
tangan. Uluran tangan yang menggenggam pemberian. Pemberian yang bernilai dan
berharga. Pemberian yang membuat terbelalak mata.si terberi. Membuat senyum
sumringah menggendewa di bibir si terberi.
Keagungan
membuat diri menjadi sosok sangat terhormat. Sosok yang dipuja, disanjung
karena dianggap agung. Sosok yang ditempatkan pada posisi paling atas dalam
urutan kelas dan kasta manusia. Dalam urutan superioritas di atas yang paling
superioritas.
Tiga
hal ini, menyebabkan juga, sepanjang masa menjadi rebutan. Bisa dikatakan
menjadi primadona abadi. Selalu diburu. Diburu dengan segala cara. Apakah cara
terpuji atau cara tak terpuji. Apakah dengan cara kasat mata atau dengan cara
terselubung serta sangat rahasia. Dilengkapi dengan taktik, siasat, strategi
yang diracik dengan matang dan penuh perhitungan. Diracik pula cara menghindar
dan lari dari kepungan dan kejaran.
Bila
perlu dan harus menghadirkan tumbal, jalan ini mesti dilakoni. Tujuannya, untuk
menutupi laku kudeta yang dilakukan. Sekaligus menutupi diri sebagai aktor
intelektual sesungguhnya. Bila perlu
saat terjepit, mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mengambil kesempatan
memunculkan diri sebagai pahlawan. Dan memperoleh sebutan pahlawan pembela
negara.
Sampai kapan kekuasaan diperebutkan? Selama masih ada tampuk pemerintahan tempat bertahta, selama itu pula kekuasaan diperebutkan. Bukan diperebutkan oleh satu atau dua orang. Bahkan lebih dari itu. Berada di tampuk kekuasaan, berarti ada di kawasan sorga dunia. Walau tanpa diduga menjelma neraka yang melecutkan siksa! [T]