Diikuti Makhluk Gaib Seusai Piknik
BERWISATA atau piknik ke Bali adalah dambaan banyak siswa sekolah. Pulau ini sudah dikenal di seluruh dunia. Bahkan banyak masyarakat dunia yang lebih mengenal Bali ketimbang Indo...
Ramadyaksa gentasamara, penasehat utama raja Tumapel, Tunggul Ametung. Ia punya ambisi besar merebut kekuasaan. Dengan perkataan lain, punya ambisi besar merebut tahta. Untuk mencapai yang sangat diinginkannya itu, dengan rapi jali ia mengatur siasat. Dirancang sematang mungkin, agar saat melakukan kudeta tak ada halangan menghadang. Alias mulus.
Yang pertama dilakukan, menempatkan orang-orang pilihannya pada posisi strategis. Ini dilakukan, setelah menjadikan Bajanara Demak Keling tumbal siasat yang dirancangnya. Tujuannya, jelas, agar bisa menggalang kekuatan. Kekuatan mana pada saat yang tepat dikerahkan untuk menggulung Tunggul Ametung.
Dibalik penempatan orang-orang pilihannya, tersembunyi niat lain di hati Ramadyaksa Gentasamara. Yakni, yang bersangkutan agar merasa berhutang budi. Dengan demikian mudah diatur. Mudah diatur, sebab yang bersangkutan akan punya rasa ewuh pakewuh untuk menolak apa yang ia titahkan. Sehingga dengan mudah menggiring sesuai dengan apa yang diinginkannya. Penggiringan ini dilakukan dengan cara yang diusahakan agar yang bersangkutan tidak merasa digiring.
Siasat berikutnya, memotong jalan pihak yang dianggap bisa mengganjal ambisinya. Memotong jalan ini, jelas Bukan Ramadyaksa Gentasemara yang melakukan. Tetapi orang lain. Orang lain itu, orang yang merasa berhutang budi kepadanya. Dengan catatan, aktor intelektual di belakang layar tetap Ramadyaksa Gentasemara.
Dari ceritera yang dialihwahanakan dari kitab Pararaton menjadi novel oleh Zhaenal Fahnani ini, diceriterakan Ramadyaksa Gentasemara ingin memotong jalan Ken Arok. Ingin mengakhiri karir keprajuritan Ken Arok. Instingnya mengatakan Ken Arok, di samping berbahaya, besar kemungkinan menjadi penghalang utama ambisinya.
Cerita di atas adalah bukti. Sejak dulu kekuasaan sangat mempesona. Karena kekuasaan memberi dengan berkelimpahan tahta dan harta serta keagungang. Tahta memberi kekuasaan mutlak memerintah dan memutuskan sekehendak hati. Memberi wewenang mutlak menjadi pemutus dan penentu.
Harta melimpahkan kebahagiaan yang melimpah ruah. Tidak sepanjang hari. Tidak sepanjang minggu. Tidak sepanjang bulan. Tidak sepanjang tahun. Tidak bertahun-tahun. Tetapi seumur hidup. Bergelimang harta berarti jauh dari duka, nestapa, lara, dan sengsara. Jauh dari tangis sedih karena kemiskinan dan kelaparan tak henti mendera jauh dari predikat manusia papa.
Harta memberi predikat insan terhormat kaya raya. Insan terhormat yang dipuja sebagai penguasa maha hartawan. Insan terhormat yang selalu tampil dengan busana yang menyilaukan. Membuat kagum siapapun memandang. Membuat berdecak siapapun menatap. Membuat banyak orang berdatang sembah dengan harapan mendapat uluran tangan. Uluran tangan yang menggenggam pemberian. Pemberian yang bernilai dan berharga. Pemberian yang membuat terbelalak mata.si terberi. Membuat senyum sumringah menggendewa di bibir si terberi.
Keagungan membuat diri menjadi sosok sangat terhormat. Sosok yang dipuja, disanjung karena dianggap agung. Sosok yang ditempatkan pada posisi paling atas dalam urutan kelas dan kasta manusia. Dalam urutan superioritas di atas yang paling superioritas.
Tiga hal ini, menyebabkan juga, sepanjang masa menjadi rebutan. Bisa dikatakan menjadi primadona abadi. Selalu diburu. Diburu dengan segala cara. Apakah cara terpuji atau cara tak terpuji. Apakah dengan cara kasat mata atau dengan cara terselubung serta sangat rahasia. Dilengkapi dengan taktik, siasat, strategi yang diracik dengan matang dan penuh perhitungan. Diracik pula cara menghindar dan lari dari kepungan dan kejaran.
Bila perlu dan harus menghadirkan tumbal, jalan ini mesti dilakoni. Tujuannya, untuk menutupi laku kudeta yang dilakukan. Sekaligus menutupi diri sebagai aktor intelektual sesungguhnya. Bila perlu saat terjepit, mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mengambil kesempatan memunculkan diri sebagai pahlawan. Dan memperoleh sebutan pahlawan pembela negara.
Sampai kapan kekuasaan diperebutkan? Selama masih ada tampuk pemerintahan tempat bertahta, selama itu pula kekuasaan diperebutkan. Bukan diperebutkan oleh satu atau dua orang. Bahkan lebih dari itu. Berada di tampuk kekuasaan, berarti ada di kawasan sorga dunia. Walau tanpa diduga menjelma neraka yang melecutkan siksa! [T]
BERWISATA atau piknik ke Bali adalah dambaan banyak siswa sekolah. Pulau ini sudah dikenal di seluruh dunia. Bahkan banyak masyarakat dunia yang lebih mengenal Bali ketimbang Indo...
PERBEDAAN pandangan antara pemerintah dan komunitas, terutama komunitas orang muda sering dianggap sebagai persoalan komunikasi. Seolah-olah, jika dialog diperbaiki, maka kesalahp...
PULUHAN pesawat kertas melayang serentak dari atas panggung SD Negeri 1 Ungasan, Badung. Para siswa bersama guru yang berdiri berdampingan melemparkannya ke arah depan, seolah men...
APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era reformasi bukan pada keamanan akan tetapi tidak adanya kepastian hukum. Ada tiga&...
Dari Puputan Badung Menuju Perjuangan Zaman Kini PADA tanggal 20 September 1906, dunia menyaksikan sebuah peristiwa yang hingga kini masih menggema dalam kesadaran kolektif mas...
PERJALANAN Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Bali, tidak bisa dilepaskan dari organisasi induknya yakni Nahdlatul Ulama (NU), yang sudah eksis berdiri di Bali sebelum periode kemerdeka...
“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan, atau perilaku yang dianggap lumrah dalam perg...
JUNIadalah bulan keenam dalam Tarikh Kalender Masehi, semua orang tahu. Juni adalah bulan pertengahan tahun, semua orang juga tahu. Juni adalah bulan kelahiran dan kewafatan Bung...
SINGARAJA – TATKALA.CO | Tahun 2026 ini, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja menyediakan total daya tampung sebanyak 8.484 kursi untuk jenjang S1, S2, S3, profesi,...
“Kalau menurutmu, apa yang paling menentukan nasib manusia?” tanya Wayan Tulus sambil memeriksa saluran air yang mengaliri sawahnya. Di sampingnya, Made Jembar sedang men...