Cerpen: Geg Ary Suharsani []
Aku
mencakupkan tangan di ubun-ubun. Kenanga, cempaka dan teratai putih menyembul
dari kedua ujung jemariku yang bertemu satu sama lain. Inilah jalan
satu-satunya yang bisa aku tempuh, memohon padaMu.
***
Sudah dua bulan ibuku
menahan sakit di tubuhnya. Kadang di perut, kadang di dada. Kata ibu, jika
perutnya sakit maka yang dia rasakan adalah pelintiran yang luar biasa. Aku
membayangkan ketika aku memelintir baju yang usai aku bilas. Mungkin serupa
itu.
Jika dadanya sakit, maka
yang dirasakan adalah panas yang menampar. Menyengat dada dan menjalar ke tubuh
yang lain. Saat panas itu datang, ibu memintaku menempelkan es di dadanya. Es
yang dingin itu membuatnya merasa lebih nyaman.
“Ibu lelah.” Wanita yang
kini berusia sembilan puluh enam tahun itu memandangku sambil berujar lirih.
Suaranya hampir saja tidak bisa aku dengar andai aku tidak melihat gerak
bibirnya. Ketika itu ibu terbaring di ranjang rumah sakit. Sudah lebih dari
lima kali ibu bolak-balik rumah sakit dan rumah. Opname kemudian pulang
kemudian opname kembali kemudian pulang lagi. Begitulah beberapa kali.
Ibu tak kunjung sembuh.
Bisik-bisik mulai terdengar. Aku mendengar semuanya namun aku memilih diam.
Mereka bilang, ibuku terlalu banyak ilmu. Saat tubuh ibu makin lemah, ilmu itu
tetap kuat tak rela sirna. Kata mereka, ilmu itulah yang membuat ibu masih
hidup meski penuh dengan rasa sakit.
“Ibu ingin pulang.
Pulang,” rintih ibu, terbaring lemah dan menatapku penuh harap. Dadanya yang
tipis bergerak naik turun, tersengal. Sebagai anak satu-satunya, aku tentu
sangat menyayangi ibu. Melihat ibu kesakitan seperti ini sungguh menyiksa hati.
Ilmu itu akan hilang jika
ada tubuh lain yang siap menerimanya. Begitulah bisik-bisik lain yang kemudian
aku dengar. Tapi ilmu apa? Ibu hanya seorang pedagang kopi yang menjajakan
kopinya dari kampung ke kampung. Berjalan kaki seharian penuh, kadang hingga
berhari-hari. Melewati malam hanya bersinarkan lampu minyak kecil, kadang sekumpulan
daun kelapa kering yang dibakar. Meninggalkan rumah, menjauh dari bapak yang
menikah lagi dengan wanita kembang desa yang lebih muda dan lebih cantik.
Ibu selalu mengajakku
dalam setiap perjalanannya. Aku melihat bagaimana ibu melewati malam yang
dingin berangin dan hujan lebat yang membuat badan menggigil. Aku menyaksikan
bagaimana ibu melalui malam demi malam, memilih bungkam bersama gurih biji kopi
yang dijajakannya.
Hingga kemudian ibu mulai
menghasilkan uang yang cukup sehingga mampu membeli kebun kopi. Ibu berangsur-angsur mengurangi aktivitasnya
berjalan kaki dari satu kampung ke kampung yang lain. Kami kemudian menetap di
kebun kopi yang dibeli oleh ibu.
Ibu tidak pernah pulang, sudah
tentu aku juga tidak. Bapak tidak pernah mengunjungi kami. Kami makin menjauh,
meski masih satu desa. Namun seolah ada
kesepakatan untuk tidak saling mengunjungi antara bapak dan ibu. Mereka berdiam
diri dalam kesepakatan yang sunyi. Bapak sibuk dengan istri mudanya, ibu sibuk
dengan kebun kopinya. Sedangkan aku, bagiku ada ibu saja sudah lebih dari
cukup.
“Aduhhh … aduhhhh ….” Ibu
mengaduh, ranjang rumah sakit berderak, saat ibu bergeser sambil mencengkeram
perutnya. Keringat dingin bercucuran di antara pelipisnya yang keriput. Aku
hanya mampu memegang pundak ibu, sambil sesekali mengusap keringat yang
bercucuran itu. Perutnya pasti sakit lagi. Betapa gigiku terasa ngilu,
membayangkan rasa sakit yang sedang dirasakan oleh ibu.
Siapa yang akan diberikan
ilmu, akan didatangi melalui mimpi. Seolah tongkat estafet, ilmu itu harus
dioper ke tubuh selanjutnya. Jika tidak, dia akan bersemayam dan membiarkan
sang pemilik tubuh mengunyah rasa sakit, meski hati telah menyerah pasrah.
“Berdoalah untuk ibumu,
Sulastri,” ujar salah seorang uwakku di suatu hari yang dingin, di antara
rimbun daun kopi. Uwakku sama berumurnya dengan ibuku. Diam-diam dia menemuiku
meski dengan tertatih. Keluar dari rumah yang tidak pernah aku datangi.
“Pulanglah ke rumah.
Sembahyang kepada leluhur, mohon jalan terbaik,” desaknya sambil menatapku
tajam dengan matanya yang kelabu sebagian berkatarak.
“Kasihan ibumu.” Sebelum
berpisah, uwak masih sempat mengucapkan kalimat ini, sambil menggenggam
tanganku. Aku menatap uwak dengan mata dipenuhi genangan air. Begitupun uwak.
Kami berkaca-kaca atas sesuatu yang kami pahami dalam diam.
Pulang. Sudah lama aku
mengubur kata ini. Bertahun-tahun kata pulang mengendap jauh di tumpukan
terbawah kenanganku. Bagai ampas kopi, dia ada di dasar gelas dan terbuang tiap
kali gelas dicuci. Aku melupakan satu demi satu kenangan. Aku lupa kenanga di
pojok halaman, yang selalu menguarkan wangi tiap kali sore menjelang serta
bagaimana nyamannya duduk di bangku dekat dapur bersama bapak. Aku lupa
gemerisik kerikil di halaman jika kaki melangkah dan bagimana damainya duduk di
halaman sanggah, pura keluarga kami.
Jika aku pulang, untuk
memohon di hadapan kemulan, tempat
pemujaan terhadap leluhur, aku akan kalah. Segala yang telah aku lupakan
bertahun-tahun akan muncul kembali. Segala upaya yang ibuku lakukan, tertatih
di tengah gelap malam bersama biji-biji kopi itu akan menjadi keping, tak ada
gunanya. Ampas kopi itu akan hadir. Oh, sungguh menyakitkan. Belum lagi tatap
mata tajam dari seluruh penghuni rumah. Dari istri muda bapak. Apakah aku akan
sanggup?
“Sakit … sakit ….”
Kembali kudengar erangan lirih ibu. Wajah ibu kini berkerut menahan sakit.
Sungguh perjuangan yang seolah tak berujung. Sampai kapankah? Kembali tanya ini
menyeruak di benakku.
Jika benar yang membuat
ibu bertahan saat ini adalah ilmu yang ada di tubuhnya, betapa jahatnya ilmu itu.
Parasit egois itu memaksa tubuh inangnya untuk tetap bertahan hidup. Mungkin
semacam balas jasa atas apa yang telah diberikan pada masa lalu. Mereka menanti
tubuh selanjutnya yang akan ditunjuk oleh inangnya.
“Sebagai anak
satu-satunya, doakanlah ibumu. Memohon pada leluhur. Pulanglah, Sulastri.”
Kembali aku teringat ucapan uwakku. Aku bergetar, tanpa sadar tanganku meremas
tangan ibu yang sedari tadi sibuk mencengkeram perutnya. Keputusan kini ada di
tanganku.
***
Dini hari yang teramat dini. Uwak membuka
pintu gerbang dengan hati-hati. Begitu pelannya hingga tidak ada bunyi derit
sedikitpun. Aku menunggu hingga gerbang terbuka dengan celah yang cukup untuk
tubuhku menyelinap masuk. Wajah uwak terlihat samar, karena hanya satu lampu
yang menyala di halaman. Suasana di beberapa bagian halaman rumah yang luas ini
begitu gelap. Tidak ada yang menyadari kedatanganku, kecuali uwak. Uwak
berjanji membukakan pintu ketika aku bilang aku tak tega melihat ibu kesakitan.
“Selepas tengah malam,
aku akan pulang, Wak,” ujarku kemarin siang, di perempatan jalan dekat rumahku.
Uwak mengangguk dan tersenyum penuh pengertian. Kembali dia menggenggam erat
tanganku.
Bersimpuh
di sanggah, dalam gelap yang
mengitari. Aku mencakupkan tangan untuk ketiga kalinya.
“Hyang Dewata, Ibu ingin
pulang. Terimalah, berilah jalan. Jika ada yang harus ibu lepaskan, biarlah saya
yang menerimanya,” bisikku lirih bersama sebutir air mata yang berjaga di
pelupuk.
Angin semilir. Wangi
cempaka dan kenanga berpadu. Terdengar suara cicak entah dari mana. Samar kulihat
senyum ibu melalui kelopak mataku yang terpejam. Betapa dekat jalan pulang.
*****
Denpasar, November 2019