Dikritik Dulu, Dipuji Kapan-Kapan
DIKRITIK atau dipuji? Pilih mana? Tentu ada yang pilih dikritik atau pilih dipuji. Sudah pasti di antara kita ada yang suka dikritik saja atau dipuji saja. Ada juga yang suka kedua...
Serangan hama ulat yang membombardir kebun jagung petani di kampung saya sempat membuat kegemparan. Pasalnya, serangan ulat ini sangat masif. Tak tanggung-tanggung, hampir seluruh tanaman jagung ludes tak tersisa. Dan yang membuat aneh, ini terjadi pertama kalinya dalam sejarah petani jagung di kampung saya.
Sebagai seorang anak petani totok, mengetahui hal itu membuat hati saya meratap. Tetapi rupanya serangan hama ini tidak hanya terjadi di kampung saya saja. Tapi juga di desa tempat saya tinggal kemarin.
Saat saya mengantarkan Mek Yan—seorang ibu rumah tangga yang membantu menyediakan asupan makanan di tempat saya kerja dulu—pulang ke rumahnya, saya sempat mengamati tanaman jagung di samping kanan-kiri jalan. Dan benar, daun-daun jagung yang baru saja tumbuh itu robek-robek, beberapa malah habis dimakan ulat.
Tanaman jagung Mek Yan di sebelah rumahnya pun tak luput dari serangan hama. Padahal, kata Mek Yan, suaminya baru saja memupuknya. Artinya pupuk itu terbuang sia-sia saja.
Mendengar Mek Yan meratap, hati saya semakin meratap. Setelah lama menanti musim hujan dengan penuh kegetiran, kini petani kembali merasakan kegetiran berikutnya. Dalam hal ini, pemimpin yang saat kampanye menebar beribu janji, saya jamin tidak akan ada yang hadir satu pun. Mereka seakan hilang ditelan bumi. Semoga saya salah.
Saya tidak hendak menyalahkan siapa-siapa. Dengan atau tanpa disadari, kita sebagai manusia dihadapkan pada persoalan nyata yang selalu kita hadapi; seberapa jauh kita sebaiknya ikut campur dengan alam? Kita hanya sepihan debu di hadapan Sang Maha. Ini kehendakNya. Tapi bagaimana pun, ada akibat pasti ada sebab. Hama-hama ini saya yakin datang menyerang bukan karena tidak ada sebab. Pasti ada sebab di balik ini semua.
Dan dalam dugaan saya, salah satu sebabnya adalah ketidakseimbangan ekosistem.
Begini. Dalam kehidupan makhluk hidup di dunia ini, ada yang kita sebut sebagai rantai makanan. Ada pemangsa dan ada yang dimangsa. Ulat dalam siklus rantai makanan, berada di posisi yang dimangsa dan memangsa. Sedangkan pemangsanya, bisa burung atau unggas yang lain—yang dalam hal ini, unggas pemangsa ulat, bukan biji atau buah.
Pada kenyataannya, burung pemangsa ulat populasinya kian memprihatinkan. Burung bentet kelabu (lanius schach) (atau cendet dalam bahasa kami), misalnya. Burung dari keluarga Laniidae, dari genus Lanius ini, merupakan burung pemakan belalang, jangkrik, kumbang, ulat, serangga besar yang memiliki habitat di alam terbuka, padang rumput, perkebunan, tegalan.
Burung ini memang memiliki kicauan yang merdu. Sebab kicauannya yang merdu inilah, banyak orang yang memburunya. Di kampung saya, populasi burung jenis ini sudah hampir punah. Induk burung banyak yang dipulut. Sehingga tidak bisa mengerami telur-telur mereka—atau yang lebih tragis, anak-anak mereka yang masih kecil tidak lagi mendapat asupan makanan dari induknya. Atas kepunahan salah satu burung predator ulat inilah, bisa jadi, populasi ulat semakin meningkat. Tapi kenapa jagung yang diserang? Karena jati juga sudah semakin jarang.
Tentu saja ini hanya cocoklogi saya saja. Tapi jika memang benar, untuk mengatasi hama, sebenarnya tidak perlu menggunakan pestisida yang notabene bahan kimia, cukup dekatkan hama dengan predatornya. Hama tikus, dekatnya dengan burung hantu atau ular. Hama ulat dan serangga, dekatkan dengan burung-burung pemakan ulat dan serangga. Selain memanfaatkan alam, kita juga memelihara keseimbangannya.
Jika hal di atas benar, lantas siapa yang salah, ulat atau kita sebagai manusia? Ini patut menjadi renungan kita bersama. Lestari alamku.[T]
(2020)
DIKRITIK atau dipuji? Pilih mana? Tentu ada yang pilih dikritik atau pilih dipuji. Sudah pasti di antara kita ada yang suka dikritik saja atau dipuji saja. Ada juga yang suka kedua...
WARGA di Kelurahan Kampung Singaraja tengah bergegas. Pria, perempuan, tua, anak-anak, semuanya bergegas. Mereka bergegas menuju Masjid Nurrahmah yang terletak di tengah-tengah pem...
AKHIRNYA DPD PDI-P Bali mengumumkan secara resmi bahwa Dewa Nyoman Sukrawan dipecat dari PDI-P. Ini bukan berita mengejutkan sesungguhnya. Karena jika berpatokan pada tabiat partai...
PROMOTOR adalah istilah untuk menyebut sekelompok penggagas sebuah kegiatan, di lingkungan lembaga formal dan non-formal. Promotor membangun dan mengembangkan ide serta inovasi-ino...
KINI Buleleng punya dua nama beken: Putu Agus Suradnyana dan Dewa Nyoman Sukrawan. Jangan mengaku keren jika tak kenal dua nama itu. Atau, bolehlah tidak kenal. Tapi sungguh keterl...
BALI dilanda banjir. Dan ketika banjir melanda, jalan seperti sungai, halaman rumah jadi kolam, dan lapangan bola serta taman kota jadi danau, maka beritanya langsung heboh di medi...
Cerpen: Yoyo Raharyo SUKRI masih duduk termenung di beranda rumah sepupunya, di sebuah desa yang tenang di Kota Air. Sore itu, lelaki 45 tahun ini membayangkan kembali kejadian sem...
APA kabar komik Indonesia? Bagaimana harimu saat ini? Masih dapatkah kujumpai serial pewayangan R.A Kosasih? Atau apa kabar aksi pahlawan “Si Buta dari Gua Hantu” yang sejak tahun...
“Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, Berilah aku sepuluh pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia” – Ir. Soekarno SEJARAH panjang mahasiswa dan...
Setiap manusia mengidamkan seorang pahlawan untuk hapuskan derita dari tirani yang usang yang kini kadaluarsa (Dimanakah Dia , Zat Kimia) DUA penggalan lirik i...