“Customer” dan Tukang Perintah – Karikatural Politik
BICARA politik Indonesia pasti tak akan pernah habis. Selalu saja ada yang baru, bahkan lebih sering muncul lucunya ketimbang seriusnya. Terkadang zaman sekarang kita kebingungan....
Serangan hama ulat yang membombardir kebun jagung petani di kampung saya sempat membuat kegemparan. Pasalnya, serangan ulat ini sangat masif. Tak tanggung-tanggung, hampir seluruh tanaman jagung ludes tak tersisa. Dan yang membuat aneh, ini terjadi pertama kalinya dalam sejarah petani jagung di kampung saya.
Sebagai seorang anak petani totok, mengetahui hal itu membuat hati saya meratap. Tetapi rupanya serangan hama ini tidak hanya terjadi di kampung saya saja. Tapi juga di desa tempat saya tinggal kemarin.
Saat saya mengantarkan Mek Yan—seorang ibu rumah tangga yang membantu menyediakan asupan makanan di tempat saya kerja dulu—pulang ke rumahnya, saya sempat mengamati tanaman jagung di samping kanan-kiri jalan. Dan benar, daun-daun jagung yang baru saja tumbuh itu robek-robek, beberapa malah habis dimakan ulat.
Tanaman jagung Mek Yan di sebelah rumahnya pun tak luput dari serangan hama. Padahal, kata Mek Yan, suaminya baru saja memupuknya. Artinya pupuk itu terbuang sia-sia saja.
Mendengar Mek Yan meratap, hati saya semakin meratap. Setelah lama menanti musim hujan dengan penuh kegetiran, kini petani kembali merasakan kegetiran berikutnya. Dalam hal ini, pemimpin yang saat kampanye menebar beribu janji, saya jamin tidak akan ada yang hadir satu pun. Mereka seakan hilang ditelan bumi. Semoga saya salah.
Saya tidak hendak menyalahkan siapa-siapa. Dengan atau tanpa disadari, kita sebagai manusia dihadapkan pada persoalan nyata yang selalu kita hadapi; seberapa jauh kita sebaiknya ikut campur dengan alam? Kita hanya sepihan debu di hadapan Sang Maha. Ini kehendakNya. Tapi bagaimana pun, ada akibat pasti ada sebab. Hama-hama ini saya yakin datang menyerang bukan karena tidak ada sebab. Pasti ada sebab di balik ini semua.
Dan dalam dugaan saya, salah satu sebabnya adalah ketidakseimbangan ekosistem.
Begini. Dalam kehidupan makhluk hidup di dunia ini, ada yang kita sebut sebagai rantai makanan. Ada pemangsa dan ada yang dimangsa. Ulat dalam siklus rantai makanan, berada di posisi yang dimangsa dan memangsa. Sedangkan pemangsanya, bisa burung atau unggas yang lain—yang dalam hal ini, unggas pemangsa ulat, bukan biji atau buah.
Pada kenyataannya, burung pemangsa ulat populasinya kian memprihatinkan. Burung bentet kelabu (lanius schach) (atau cendet dalam bahasa kami), misalnya. Burung dari keluarga Laniidae, dari genus Lanius ini, merupakan burung pemakan belalang, jangkrik, kumbang, ulat, serangga besar yang memiliki habitat di alam terbuka, padang rumput, perkebunan, tegalan.
Burung ini memang memiliki kicauan yang merdu. Sebab kicauannya yang merdu inilah, banyak orang yang memburunya. Di kampung saya, populasi burung jenis ini sudah hampir punah. Induk burung banyak yang dipulut. Sehingga tidak bisa mengerami telur-telur mereka—atau yang lebih tragis, anak-anak mereka yang masih kecil tidak lagi mendapat asupan makanan dari induknya. Atas kepunahan salah satu burung predator ulat inilah, bisa jadi, populasi ulat semakin meningkat. Tapi kenapa jagung yang diserang? Karena jati juga sudah semakin jarang.
Tentu saja ini hanya cocoklogi saya saja. Tapi jika memang benar, untuk mengatasi hama, sebenarnya tidak perlu menggunakan pestisida yang notabene bahan kimia, cukup dekatkan hama dengan predatornya. Hama tikus, dekatnya dengan burung hantu atau ular. Hama ulat dan serangga, dekatkan dengan burung-burung pemakan ulat dan serangga. Selain memanfaatkan alam, kita juga memelihara keseimbangannya.
Jika hal di atas benar, lantas siapa yang salah, ulat atau kita sebagai manusia? Ini patut menjadi renungan kita bersama. Lestari alamku.[T]
(2020)
BICARA politik Indonesia pasti tak akan pernah habis. Selalu saja ada yang baru, bahkan lebih sering muncul lucunya ketimbang seriusnya. Terkadang zaman sekarang kita kebingungan....
KISAH-KISAH ini saya tulis berdasarkan ingatan ketika bertugas menjadi wartawan di sejumlah kabupaten di Bali. Mungkin kisah aslinya tidak persis sama dengan tulisan ini, tapi dija...
HASIL penelitian dan pemetaan DNA orang Bali yang dilakukan tim gabungan ahli-ahli dari berbagai universitas di Amerika: Tatiana M. Karafet (University of Arizona), J S. Lansing (U...
Cerpen: Ni Kadek Desi Nurani Sari Dongeng-dongeng akhirnya pulang ke tutur kompyang. sesaat sebelum pagi menunjukkan diri. Lalu hari-hari memulai cerita-cerita baru lagi. Segala ya...
UNDANGAN KARYA PUISI FESTIVAL PUISI BANGKALAN 2 FESTIVAL Puisi Bangkalan 2 akan kembali digelar pada April 2017 mendatang. Acara bertajuk “Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Ma...
DULU, bagi warga desa-desa di Bali kebiasaan “ngidu di bungut paon”, jadi rutinitas tak resmi setiap pagi, sebelum sarapan, sebelum ke sawah-ladang. Kini kegiatan itu semakin jar...
DALAM sejarah budaya kita, kadang-kadang semangat cinta tanah air dibangun dengan imajinasi premanisme. Artinya masyarakat memproduksi tokoh-tokoh fiktif berlatar belakang preman (...
MASKOT sekolah di Bali Dewi Saraswati. Patung megah dewi ilmu-pengetahuan dibangun di hampir setiap sekolah. Warga sekolah memuja dewi ilmu. Ironisnya, Saraswati seakan dibuat mat...
MENELISIK apa yang telah disampaikan oleh kawan saya, Santiasa Putu Putra dalam tulisannya di tatkala.co, 3 Januari 2017 dengan judul “Teater di Denpasar – Lagi Hibernasi, Lagi Me...
BAGI masyarakat adat atau pakraman di Bali, tanah (baca: pertiwi atau wewidangan) itu “berjiwa”. Karena “berjiwa”, maka tanah diyakini memiliki “energi”. Tentu saja energi yang dap...