Di Bali, Imlek juga Disebut Galungan Cina
TAHUN Baru Cina yang disebut Imlek adalah hari yang sangat penting dalam tradisi Cina dan sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat Tionghoa di belahan dunia mana pun, tak terkecuali...
Serangan hama ulat yang membombardir kebun jagung petani di kampung saya sempat membuat kegemparan. Pasalnya, serangan ulat ini sangat masif. Tak tanggung-tanggung, hampir seluruh tanaman jagung ludes tak tersisa. Dan yang membuat aneh, ini terjadi pertama kalinya dalam sejarah petani jagung di kampung saya.
Sebagai seorang anak petani totok, mengetahui hal itu membuat hati saya meratap. Tetapi rupanya serangan hama ini tidak hanya terjadi di kampung saya saja. Tapi juga di desa tempat saya tinggal kemarin.
Saat saya mengantarkan Mek Yan—seorang ibu rumah tangga yang membantu menyediakan asupan makanan di tempat saya kerja dulu—pulang ke rumahnya, saya sempat mengamati tanaman jagung di samping kanan-kiri jalan. Dan benar, daun-daun jagung yang baru saja tumbuh itu robek-robek, beberapa malah habis dimakan ulat.
Tanaman jagung Mek Yan di sebelah rumahnya pun tak luput dari serangan hama. Padahal, kata Mek Yan, suaminya baru saja memupuknya. Artinya pupuk itu terbuang sia-sia saja.
Mendengar Mek Yan meratap, hati saya semakin meratap. Setelah lama menanti musim hujan dengan penuh kegetiran, kini petani kembali merasakan kegetiran berikutnya. Dalam hal ini, pemimpin yang saat kampanye menebar beribu janji, saya jamin tidak akan ada yang hadir satu pun. Mereka seakan hilang ditelan bumi. Semoga saya salah.
Saya tidak hendak menyalahkan siapa-siapa. Dengan atau tanpa disadari, kita sebagai manusia dihadapkan pada persoalan nyata yang selalu kita hadapi; seberapa jauh kita sebaiknya ikut campur dengan alam? Kita hanya sepihan debu di hadapan Sang Maha. Ini kehendakNya. Tapi bagaimana pun, ada akibat pasti ada sebab. Hama-hama ini saya yakin datang menyerang bukan karena tidak ada sebab. Pasti ada sebab di balik ini semua.
Dan dalam dugaan saya, salah satu sebabnya adalah ketidakseimbangan ekosistem.
Begini. Dalam kehidupan makhluk hidup di dunia ini, ada yang kita sebut sebagai rantai makanan. Ada pemangsa dan ada yang dimangsa. Ulat dalam siklus rantai makanan, berada di posisi yang dimangsa dan memangsa. Sedangkan pemangsanya, bisa burung atau unggas yang lain—yang dalam hal ini, unggas pemangsa ulat, bukan biji atau buah.
Pada kenyataannya, burung pemangsa ulat populasinya kian memprihatinkan. Burung bentet kelabu (lanius schach) (atau cendet dalam bahasa kami), misalnya. Burung dari keluarga Laniidae, dari genus Lanius ini, merupakan burung pemakan belalang, jangkrik, kumbang, ulat, serangga besar yang memiliki habitat di alam terbuka, padang rumput, perkebunan, tegalan.
Burung ini memang memiliki kicauan yang merdu. Sebab kicauannya yang merdu inilah, banyak orang yang memburunya. Di kampung saya, populasi burung jenis ini sudah hampir punah. Induk burung banyak yang dipulut. Sehingga tidak bisa mengerami telur-telur mereka—atau yang lebih tragis, anak-anak mereka yang masih kecil tidak lagi mendapat asupan makanan dari induknya. Atas kepunahan salah satu burung predator ulat inilah, bisa jadi, populasi ulat semakin meningkat. Tapi kenapa jagung yang diserang? Karena jati juga sudah semakin jarang.
Tentu saja ini hanya cocoklogi saya saja. Tapi jika memang benar, untuk mengatasi hama, sebenarnya tidak perlu menggunakan pestisida yang notabene bahan kimia, cukup dekatkan hama dengan predatornya. Hama tikus, dekatnya dengan burung hantu atau ular. Hama ulat dan serangga, dekatkan dengan burung-burung pemakan ulat dan serangga. Selain memanfaatkan alam, kita juga memelihara keseimbangannya.
Jika hal di atas benar, lantas siapa yang salah, ulat atau kita sebagai manusia? Ini patut menjadi renungan kita bersama. Lestari alamku.[T]
(2020)
TAHUN Baru Cina yang disebut Imlek adalah hari yang sangat penting dalam tradisi Cina dan sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat Tionghoa di belahan dunia mana pun, tak terkecuali...
SEBAGAI seorang pemburu sato (binatang), suatu hari Lubdaka kembali hendak berburu ke tengah hutan. Ia berangkat menuju arah kaja kangin (timur laut) dengan berpakaian pelung (bir...
KITA mulai dengan cerita Lubdaka. Ia adalah pendosa besar. Setiap hari berburu ke tengah hutan. Lubdaka pemburu ulung yang jarang gagal mendapatkan buruan. Namun, entah kenapa, pa...
WIJI Thukul, seorang sastrawan dan aktivis yang tak pernah lekang oleh waktu. Puisi-puisinya seakan menjadi nyanyian dalam sebuah aksi turun ke jalan untuk perlawanan menolak keadi...
KENAPA Hari Raya Pagerwesi dirayakan dengan meriah di Buleleng, tidak kalah dengan perayaan Hari Raya Galungan & Kuningan? Jawaban pendeknya sebagai berikut. Ada petuah (wasi...
TAK dapat dipungkiri, limbah telah menjadi masalah terbesar masyarakat Provinsi Sumatra Selatan dewasa ini. Pesatnya pembangunan industri dan meningkatnya pola konsumsi tak diimban...
Cerpen: Satia Guna AKU tak mengerti dengan semua ini, hidup tanpa nafsu birahi, tanpa kebuasan binatang. Menjalani hari tanpa celana panjang jeans yang menyesakkan. Aku menelanjang...
DI Hari Saraswati ini, entah kenapa, saya ingin membicarakan sosok teman saya sendiri, Made Sugianto. Meski dikenal sebagai pengelola penerbitan dan wartawan sekaligus pengarang,...
SUDAHKAH baca berita terbaru di negeri ini? Saat sebuah ormas demo di depan Mabes Polri, bendera merah putih yang kita banggakan ditulisi kata-kata yang saya sendiri tidak bisa bac...
MASIH tentang pilkada DKI Jakarta. Nyatanya seluruh pasangan calon yang bertarung di sana punya nilainya tersendiri. Punya lebih kurangnya masing-masing. Dari latar belakang profes...