Yuk ke Buleleng: Wisata Alam Murah Meriah, Malam Bisa Nikmati GGH
BERPROFESI sebagai jurnalis, membuat saya harus berkunjung ke banyak tempat untuk menunaikan kewajiban termasuk berkunjung ke berbagai objek wisata yang ada di Buleleng. Jadi saya...
Serangan hama ulat yang membombardir kebun jagung petani di kampung saya sempat membuat kegemparan. Pasalnya, serangan ulat ini sangat masif. Tak tanggung-tanggung, hampir seluruh tanaman jagung ludes tak tersisa. Dan yang membuat aneh, ini terjadi pertama kalinya dalam sejarah petani jagung di kampung saya.
Sebagai seorang anak petani totok, mengetahui hal itu membuat hati saya meratap. Tetapi rupanya serangan hama ini tidak hanya terjadi di kampung saya saja. Tapi juga di desa tempat saya tinggal kemarin.
Saat saya mengantarkan Mek Yan—seorang ibu rumah tangga yang membantu menyediakan asupan makanan di tempat saya kerja dulu—pulang ke rumahnya, saya sempat mengamati tanaman jagung di samping kanan-kiri jalan. Dan benar, daun-daun jagung yang baru saja tumbuh itu robek-robek, beberapa malah habis dimakan ulat.
Tanaman jagung Mek Yan di sebelah rumahnya pun tak luput dari serangan hama. Padahal, kata Mek Yan, suaminya baru saja memupuknya. Artinya pupuk itu terbuang sia-sia saja.
Mendengar Mek Yan meratap, hati saya semakin meratap. Setelah lama menanti musim hujan dengan penuh kegetiran, kini petani kembali merasakan kegetiran berikutnya. Dalam hal ini, pemimpin yang saat kampanye menebar beribu janji, saya jamin tidak akan ada yang hadir satu pun. Mereka seakan hilang ditelan bumi. Semoga saya salah.
Saya tidak hendak menyalahkan siapa-siapa. Dengan atau tanpa disadari, kita sebagai manusia dihadapkan pada persoalan nyata yang selalu kita hadapi; seberapa jauh kita sebaiknya ikut campur dengan alam? Kita hanya sepihan debu di hadapan Sang Maha. Ini kehendakNya. Tapi bagaimana pun, ada akibat pasti ada sebab. Hama-hama ini saya yakin datang menyerang bukan karena tidak ada sebab. Pasti ada sebab di balik ini semua.
Dan dalam dugaan saya, salah satu sebabnya adalah ketidakseimbangan ekosistem.
Begini. Dalam kehidupan makhluk hidup di dunia ini, ada yang kita sebut sebagai rantai makanan. Ada pemangsa dan ada yang dimangsa. Ulat dalam siklus rantai makanan, berada di posisi yang dimangsa dan memangsa. Sedangkan pemangsanya, bisa burung atau unggas yang lain—yang dalam hal ini, unggas pemangsa ulat, bukan biji atau buah.
Pada kenyataannya, burung pemangsa ulat populasinya kian memprihatinkan. Burung bentet kelabu (lanius schach) (atau cendet dalam bahasa kami), misalnya. Burung dari keluarga Laniidae, dari genus Lanius ini, merupakan burung pemakan belalang, jangkrik, kumbang, ulat, serangga besar yang memiliki habitat di alam terbuka, padang rumput, perkebunan, tegalan.
Burung ini memang memiliki kicauan yang merdu. Sebab kicauannya yang merdu inilah, banyak orang yang memburunya. Di kampung saya, populasi burung jenis ini sudah hampir punah. Induk burung banyak yang dipulut. Sehingga tidak bisa mengerami telur-telur mereka—atau yang lebih tragis, anak-anak mereka yang masih kecil tidak lagi mendapat asupan makanan dari induknya. Atas kepunahan salah satu burung predator ulat inilah, bisa jadi, populasi ulat semakin meningkat. Tapi kenapa jagung yang diserang? Karena jati juga sudah semakin jarang.
Tentu saja ini hanya cocoklogi saya saja. Tapi jika memang benar, untuk mengatasi hama, sebenarnya tidak perlu menggunakan pestisida yang notabene bahan kimia, cukup dekatkan hama dengan predatornya. Hama tikus, dekatnya dengan burung hantu atau ular. Hama ulat dan serangga, dekatkan dengan burung-burung pemakan ulat dan serangga. Selain memanfaatkan alam, kita juga memelihara keseimbangannya.
Jika hal di atas benar, lantas siapa yang salah, ulat atau kita sebagai manusia? Ini patut menjadi renungan kita bersama. Lestari alamku.[T]
(2020)
BERPROFESI sebagai jurnalis, membuat saya harus berkunjung ke banyak tempat untuk menunaikan kewajiban termasuk berkunjung ke berbagai objek wisata yang ada di Buleleng. Jadi saya...
SINGA, si raja hutan berkeliling hutan melihat-lihat rakyatnya. Nyanyian burung dan canda tawa binatang menyambut si Singa. Apalagi, sejuknya udara dan cerahnya mentari pagi dari c...
Ini cerita tentang sebuah panggung di Taman Budaya Bali, yang memiliki ikatan begitu kuat kepada saya. Panggung yang mengubah cara pandang saya pada seni tradisi. SENIN, 4 Juli 20...
'plengen idepta apang eda wera' 'aywa wera’ 'aywa cawuh' Demikian kita temui beberapa istilah yang ada dalam lontar yang dinilai oleh pegiat lontar dan awam sebagai 'kutuk'. Lalu...
MAHASISWA kaum intelektual dari akademisi yang unggul terdidik kristis yang mempunyai segudang ilmu pengetahuan untuk selalu menjadi garda terdepan dalam sebuah peradaban baru. Ad...
LOKOMOTIF sastra Bali modern kini tengah melaju kencang, energi lajunya tengah memuncak. Nilai takar pada pandangan ini adalah jumlah karya yang muncul ke ruang baca publik semakin...
TAHUN 2017, Soekarno atau Bung Karno, presiden pertama dan Proklamator RI, ikut meramaikan Pesta Kesenian Bali ke-39 di Taman Budaya Denpasar. Tentu saja ia tidak hadir secara fisi...
Tak ada alasan lagi untuk berjumpa. Kini kau menjelma burung plastik yang hendak terbang entah ke mana. Api telah membakarmu, membuatmu kusut bagai benang yang tak terurus. Kau mel...
MEMBACA buku kumpulan cerpen “Aku Melahirkan Suamiku” milik Ferry Fansuri ini membawa kita ke dunia lain yang tidak terduga. Layaknya memasuki labirin kehidupan yang berbeda dan ki...
NAMANYA Nanoq da Kansas. Saya biasa menyapanya Bli Noq. Meskipun kami sama-sama tinggal di sebuah desa kecil bernama Candikusuma, kami baru pertama kali bertemu pada pertengahan 20...