Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Minggu pagi, 2 Februari 2020, suasana di Gedung Kesenian I Ketut Maria nampak ramai, berbeda jika dibandingkan dengan hari-hari biasa. Beberapa anak muda terlihat cantik dan tampan dalam balutan busana adat Bali. Di meja registrasi, mereka melayani anak-anak yang hendak mendaftar kehadiran mereka.
Di beberapa sudut, seperti di belakang panggung, nampak beberapa dari mereka sedang berias, berganti pakaian, sambil mematangkan rasa percaya diri mereka. Bersama-sama mereka akan menampilkan kebolehan masing-masing, beradu kepiawaian dalam menari dan memperagakan diri di atas panggung dalam ajang Festival Budaya X yang digelar Pasemetonan Jegeg Bagus Tabanan.
Masih sama seperti festival di tahun-tahun sebelumnya, Festival Budaya tahun ini juga diadakan dengan serangkaian lomba, yaitu lomba tari bali, lomba busana adat, dan lomba photogenic. Jumlah peserta yang mengikuti festival tahun ini pun tak sedikit.
Tercatat ada 189 peserta yang unjuk gigi dalam 7 kategori lomba yang berbeda. Kategori pada lomba tari yang ada yaitu Tari Puspanjali (Kelas 1 – 3 SD) dengan 54 peserta, Tari Baris Tunggal (Kelas 4 – 6 SD) dengan 18 peserta, Tari Condong (Kelas 4 – 6 SD) dengan 44 peserta, dan Tari Margapati (Kelas 7 – 9 SMP) dengan 24 peserta, sedangkan kategori pada lomba busana adat ke pura dibagi menjadi kategori A (Kelas 1 – 3 SD) dengan 17 peserta, dan kategori B (Kelas 4 – 6 SD) dengan 11 peserta, dan lomba photogenic sendiri dikhusukan bagi anak-anak PAUD dan TK dengan total 21 peserta.
Tak heran jika kemudian suasana di sana menjadi sangat ramai. Ramai anak-anak, ramai candaan, ramai pedagang mainan dan cemilan, ramai juga yang berlari ke sana kemari dan tertawa. Apalagi, anak-anak tersebut juga datang bersama keluarga dan sanak famili mereka. Ada yang mengajak orang tuanya, ada pula sepupu-sepupunya, kakek neneknya, juga teman dekat mereka sendiri. Bahkan ada yang terlihat berpiknik di samping gedung, berusaha memanfaatkan waktu sebaik mungkin sembari mendukung jagoannya pentas. Mereka punya jagoannya masing-masing. Luar biasa semangat mereka, patut diapreasiasi.
Nah, Festival Budaya X tahun ini dihadiri oleh perwakilan dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Dinas Kebudayaan Kabupaten Tabanan, dan Dinas Pariwisata Kabupaten Tabanan, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kab. Tabanan, Ketua Tim Penggerak PKK Kab. Tabanan, Camat Tabanan, Kepala Desa Dajan Peken, Kepala Desa Delod Peken, Kepala Desa Dauh Peken, juga Jero Bendesa Adat Desa Pekraman Kota Tabanan.
Ketua panitia Festival Budaya X, I Gede Billy Aditya Aganza, menjelaskan tentang tema yang diangkat pada Festival Budaya X tahun ini, yaitu “Angripta Kalanguan” yang berarti menciptakan keindahan.
“Keindahan yang dimaksud merupakan identitas dari seni dan budaya. Adapun tujuan diadakannya kegiatan ini sebagai sarana atau wadah bagi generasi muda untuk melestarikan kebudayaan yang menjadi ciri khas Bali. Budaya itulah yang sebenarnya membuat Bali menjadi indah. Jadi dengan adanya Festival Budaya ini, diharapkan generasi muda dapat melestarikan kebudayaan yang menjadi salah satu keindahan pulau Bali.” Ujar Billy yang juga merupakan Bagus Tabanan 2019.
Katanya lagi, adanya Festival Budaya sejatinya dapat memberi wadah bagi generasi muda untuk melestarikan kebudayaan yang menjadi ciri khas Bali dan juga dapat menginspirasi masyarakat untuk ikut serta melestarikan seni dan budaya bali.
I Gede Agus Sukariyanto, S.Par selaku Ketua Umum Pasemetonan Jegeg Bagus Tabanan juga mengatakan hal yang sama. Ia mengatakan festival tersebut merupakan wadah bagi generasi muda untuk melestarikan budaya Bali kepada dunia sekaligus bertujuan memperkenalkan dan mensosialisasikan sosok duta pariwisata dan budaya kepada masyarakat.
“Tiap tahun, selalu ada ratusan peserta yang mengikuti festival ini. Hal ini tentu menjadi indikasi semakin tingginya animo masyarakat untuk mengikuti lomba sekaligus mempertahankan seni budaya yang sudah dikenal hingga ke manca negara.” Paparnya.
Barangkali, itulah yang membuat Drs. I Gusti Ngurah Supanji, M.Si selaku Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Tabanan memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas penyelenggaraan Festival Budaya yang rutin digelar tiap tahun oleh Pesametonan Jegeg Bagus Tabanan tersebut. Tak hanya itu, kehadirannya juga untuk membuka membuka acara pada Festival Budaya X tahun ini dengan pemukulan kulkul. Tuk…Tuk…Tuk…. Begitu kira-kira bunyi kulkul saat agenda pembukaan.
“Saya menyambut baik atas terselenggaranya Festival Budaya Kabupaten Tabanan ini dengan mengusung tema “Angripta Kalanguan” yang berarti menciptakan keindahan. Kegiatan ini dapat dijadikan sebagai salah satu wahana untuk membina anak-anak sejak dini, mencintai budayanya sendiri, sehingga nantinya akan menjadi generasi yang akan mewarisi serta bertanggung jawab untuk melestarikan nilai-nilai hakiki dan budaya bangsa dalam bingkai pariwisata. Di samping juga memberikan ruang untuk mengekspresikan daya inovasi dan kreativitas para peserta dalam keikutsertaannya untul melestarikan budaya kita” ujarnya diikuti oleh tepuk tangan yang meriah oleh semua yang menghadiri Festival Budaya X.
Ia juga mengajak para generasi muda untuk secara maksimal mengekspresikan talenta yang dimiliki sehingga nantinya bisa dijadikan sebagai salah satu keahlian dalam menunjang pembangunan kepariwisataan di Kabupaten Tabanan. Wah, mantap betul. Patut diacungi jempol itu.
Saat perlombaan dimulai, semangat para peserta tak perlu diragukan. Mereka menari dengan lincah, berlenggak-lenggok di atas panggung tanpa ragu, bergerak dengan lemah gemulai, lembut, dan tentu saja indah, sesuai dengan tema tahun ini yaitu menciptakan keindahan. Penampilan mereka juga dinilai oleh dewan juri yang tidak perlu diragukan lagi sepak terjangnya. Mereka adalah orang-orang yang mumpuni untuk menilai setiap detail dalam festival ini.
Untuk lomba Tari Bali, kewenangan berada di tangan Ida Ayu Made Diastini, SST., M.Si, Andri Purwanto, ST. dan Ida Bagus Yudistira, S.Sn,. Lomba busana adat ke pura dipegang oleh dua orang di antara juri-juri tadi, yaitu Ida Ayu Made Diastini, SST., M.Si, dan Andri Purwanto, ST, dibantu oleh I Putu Agus Suraditya, S.Sn, sedangkan lomba photogenic sepenuhnya diserahkan kepada I Gusti Agung Mahendra Kepakisan dan Andri Purwanto, ST. Di akhir perlombaan, sebelum nama-nama yang menjadi juara diumumkan, para dewan juri juga memberikan beberapa evaluasi sebagai bekal anak-anak kedepannya, seperti teknik-teknik yang keliru dalam menari, dana apa-apa saja yang harus diperhatikan dalam memperagakan diri. Ahsiap.
Nah, sampailah pada momen yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang dalam lomba apapun di manapun, yaitu pengumuman juara. Dagdigdug dagdigud…. Degdegan pasti dirasakan para peserta. Tentu mereka berharap bisa menjadi juara, tak ada yang berharap untuk tidak menjadi juara. Menjadi juara itu lumayan, bisa membawa pulang piala, piagam, dan juga uang pembinaan. Hitung-hitung tambah uang jajan, atau juga memperbanyak tabungan.
Mereka sudah pasti menampilkan yang terbaik, namun, hanya mereka dengan nilai tertinggi menurut penilai jurilah yang menjadi juara, dan apresiasi dan penghargaan setinggi-tinggi harus diberikan kepada I gusti Ayu Oryza Sativa Anandya Putri, Putu Rangga Cahyana, dan I Gusti Ayu Kirana Dharma Putri sebagai juara 1,2, dan 3 lomba busana adat ke pura kategori A, Ni Kadek Intan Dwi Maharani, Tri Ananta Sari Putri Amsya, dan Ni Luh Nyoman Indira Pradnya Maheswari sebagai juara 1,2, dan 3 lomba busana adat kategori B.
Lomba Tari Puspanjali dimenangkan oleh Komang Noa Harta Leticia, I Dewa Ayu Komang Kinara Anamayakhosa, dan Komang Prabaswari Partiana Putri sebagai jura 1,2, dan 3. Kemenangan dalam lomba Tari Baris berhasil diraih oleh Gusti Agus Wira Adi Pramana. Ida Bagus Gede Dwi Andika, dan I Putu Gede Raka Anggara Guna sebagai juara 1,2, dan 3.
Dalam lomba Tari Condong, predikat juara berhasil disabet oleh Kadek Davina Partiana Putri, Ni Komang Diah Chinta Putri, dan I Dewa Ayu Komang Kinara Anamayakhosa sebagai juara 1,2, dan 3, dan predikat juara lomba Tari Margapati jatuh di tangan Ni Kadek Dhya Sumitha Apsari, Ni Putu Ayu Asri Sriwedari. Dan Nyoman Ratna Witari. Sedangkan, yang menjadi pemenang dalam lomba photogenic adalah Kadek Tanaya Wedantari Rata, Ni Komang Santani Ima Titib, dan Ayura Viani Putri sebagai juara 1,2, dan 3.
Di samping juara-juara di atas, panitia pelaksana juga memberikan perhragaan kepada juara harapan 1,2, dan 3, serta juara berbakat 1,2, dan 3 pada masing-masing kategori lomba.
Pada saat nama-nama tersebut diumumkan, rasa senang dan bahagia tak bisa disembunyikan oleh mereka yang menjadi juara. Begitu pula yang dirasakan oleh keluarga dan teman-teman mereka. Rasa bangga tak bisa disembunyikan. Bahkan ada orang tua yang mengendong putrinya ke atas panggung untuk menerima penghargaan bersama juara-juara lainnya.
Ah, bahagia sekali rasanya. Mereka menang, mama papa pun senang. Para peserta yang belum beruntung di Festival Budaya tahun ini tentu akan berusaha lebih baik lagi di festival selanjutnya. Mereka tetap semangat, tanpa patah semangat. Akhirnya, pengumuman dan penyerahan penghargaan kepada para juara pun menjadi agenda terakhir dalam Festival Budaya X tahun ini.[T]
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...