Baca juga:
Membaca buku, membuka jendela dunia. Anggapan tersebut memiliki arti dengan membaca buku seseorang dapat menambah wawasan, inspirasi dalam menulis bahkan pengalaman hidup seseorang. Berbicara tentang buku, adapun berbagai macam bentuknya baik berupa buku pelajaran, buku cerita, maupun bentuk lainnya.
Kumpulan cerpen misalnya, dapat dijadikan sebagai sebuah
buku, yang tentunya cerita didalamnya mengandung nilai-nilai kehidupan. Seperti
halnya buku kumpulan cerpen Suara Saking
Bali yang berjudul Nyuluh Langit di
Duur Bukit, memiliki berbagai macam judul cerpen dengan pengarang yang
tentunya memiliki latar belakang yang
berbeda.
Meskipun demikian, dalam buku Nyuluh Langit Duur Bukit terdapat cerpen-cerpen yang memiliki
persamaan, dimana dalam ceritanya mengangkat tentang keadaan sebuah keluarga. Cerpen-cerpen
tersebut seperti Nyuluh Langit Duur Bukit karya dari I Gede Agus
Mahardikayang sekaligus dijadikan
sebagai judul buku tersebut, selain itu cerpen yang berjudul Sayang karya I Komang Alit Juliartha dan cerpen yang berjudul Ulian Jengah Lan Tresna buah pikiran dari I Nyoman Buda Arimbawa. Ketiganya
sangat apik, jalan ceritanya pun bagus dan menarik.
Seperti dalam cerpen yang berjudul Nyujuh Langit Duur Bukit, cerita yang diangkat yakni keadaan sebuah
keluarga yang notabene merupakan keluarga sederhana. Hal tersebut dikarenakan
semua tanah milik mereka habis terjual dan mata pencaharian kepala keluarga
yang seketika hilang karena penyakit yang dideritanya. Namun, hal tersebut
tidak menjadi penghalang bagi Si Anak untuk tetap bersyukur dan terus berusaha
untuk mengangkat derajat keluarganya. Meskipun sederhana, keluarga tersebut
saling menyayangi Berikut kutipan ceritanya “Bapa sing maan eduman yan?” Bapane milu nyandain sambil makenyem. Rasa
liang pesan makejang sanjane ento.” Dengan membacanya saja sudah terasa
bagaimana mereka saling menyayangi.
Kemudian cerpen yang berjudul Sayang, cerita yang diangkat yaitu sebuah keluarga yang dapat
dikatakan “mampu”, namun dalam keluarga tersebut sering terjadi cekcok, seperti
sang istri yang selalu bertanya-tanya darimana sumber uang yang didapat
suaminya, dan puncak konflik terjadi ketika sang suami yang tidak dapat
mengontrol emosinya/
Berikut kutipan ceritanya “Bes liu mirib Men Karta mamunyi, belbelan
otakne Pan Karta. Ping keti matakon ngaenang ipun pedih. Mimbuh metakon unduk
anak ane mati dugas aminggu ento. Prajani Pan Karta ngantem somahne. Getih pesu
uli bibihne Men Karta.” Dapat dibayangkan bagimana sakit hatinya Men Karta
dengan perkataan sang suami, ditambah lagi dengan pukulan yang dihadapkan
padanya.
Lain lagi cerpen yang berjudul Ulian Jengah lan Tresna, yang dalam ceritanya mengangkat keadaan
sebuah keluarga sederhana yang ditambah dengan terganggunya keadaan psikis
(kejiwaan) yang dialami oleh sang kepala keluarga. Diceritakan bagaimana sakit
yang diderita sang suami menyebabkan kegaduhan dalam rumah dan tetangga
sekitar. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan niat sang istri untuk tetap berusaha
agar sang suami sehat dan mencari nafkah untuk keluarga.
Berikut kutipan ceritanya “Ulian jengah, tiang malajahang dewek uli idup tiange sane kalingang
nista puniki. Kemu mai tiang ngalihang kurenan tiange tongos maubad, kemu mai
tiang maburuh ngalih pipis apang ada anggon tiang meli baas jakan.” Berdasar
rasa (jengah) bersemangatnya dan
cinta (tresna) sang istri untuk
keluarga.
Masing-masing dari ketiga cerpen tersebut memiliki nilai
sosial atau kehidupan yang berbeda. Misal
dalam hal menyanggah permintaan anak. Dalam cerpen Nyujuh Langit Duur Bukit, didikan orang tua dapat dilihat dari
kutipan “Kadi rasa meli baas jakan
sewai-wai nu ngangsehang, konden buin adin ceninge lakar masuk SMP, yen mula
tuah dadi idih meme jak bapa kangguang malu neked dini sekolah ceninge.”
Berbeda halnya dengan cerpen yang berjudul Ulian Jengah lan Tresna yang ceritanya sedikit lebih keras dalam hal menyanggah
permintaan sang anak, berikut kutipannya “Awak
tusing ngelah pipis, apa lakar anggon masuk.” Selain itu, adapun perbedaan lainnya
dari ketiga cerpen tersebut yang dapat dijadikan pelajaran hidup. Dimana
meskipun hidup sederhana “kurang mampu”, namun karena saling menyayangi dan
berusaha dengan sungguh-sungguh maka kebahagian dapat diraih, seperti halnya
cerpen berjudul Nyujuh Langit Duur Bukit dan
Ulian Jengah lan Tresna.
Sebaliknya, meskipun harta berlipah ruah, namun diliputi rasa
sakit dan koflik keluarga, bagaimana seseorang dapat bahagia?