Beberapa waktu lalu
saya mendapat kesempatan untuk membantu teman-teman dari Jurusan Film dan
Televisi ISI Denpasar, dalam tugas Ujian Akhir Semester mata kuliah Praktika.
Dalam tugas mereka kali ini, menggarap sebuah film Drama berjudul “MITRA”.
Kalau diartikan dalam bahasa Bali, Mitra mempunyai artian selingkuh. Sedangkan
menurut KBBI, Mitra boleh jadi bisa dikatakan artinya sebagai ikatan. Misalnya
mitra kerja, atau jadinya sebuah ikatan kerja.
Tapi tulisan ini tidak
mengerucut pada bagian arti secara luas soal Mitra, sebab saya rasa rajutan
wacana tersebut ada pada mereka yang empunya tugas. Kemudian karena posisi saya
di sini dipercaya untuk mengisi bagian slot salah satu tokoh. Kemudian singkat
cerita ketika saya bergabung dalam arena kultural mereka ada beberpa hal yang
sekiranya menguatkan serpihan-serpihan pertemuan sebelumnya. Sebab memang
sebelumnya orang-orang yang tergabung dalam projek film “MITRA” ini sudah
sempat mengajak saya bergabung juga pada projek lainya. Serta
pertemuan-pertemuan lain, baik di luar kampus ataupun dalam kampus.
Yang menjadi menarik
adalah adanya perasaan semakin dekat dan terbuka ketika bertemu dengan orang
yang sama, hanya berbeda judul garapan film. Akhirnya pada projek film “MITRA”
kali ini, sangat terasa luas ruang kolektif tersebut. Menyadarkan bahwa dalam
projek ini semua bagian yang diatur oleh produser adalah bagian-bagian yang
sangat penting dalam lingkaran tersebut.
Proses pembuatan Film Mitra
Ketika saya dipercaya
untuk mengisi salah satu slot memainkan salah satu tokoh dalam naskah, yang
ditulis oleh salah satu teman dari ISI bernama Otos, banyak obrolan yang
terbangun antara saya dan penulis naskah. Terutama untuk kepentingan penulis
agar tujuan dan maksud naskah tersebut tersampaikan secara maksimal, kemudian
ada tawar-menawar dari saya ketika membicarakan naskah tersebut. soal
pendekatan kepada naskah, saya banyak sekali mendengar pembahasan dari penulis
tentang alur cerita yang dibangun. Dan psikologis antara tiap tokoh, yang
kemudian membangun imajinasi saya dalam menciptakan tokoh.
Tapi sebelum
menciptakan sebuah tokoh tersebut, saya ingin memberikan beberapa pengalaman
baru dalam mendekati tokoh dan menciptakanya. Karena saya merasa bahwa saya
sudah berhasil membawakanya, meski saya patut curiga juga terhadap diri
sendiri. Apakah benar-benar berhasil, dan keberhasilan tersebut dapat diukur
dari segi apa? Tapi yang menimbulkan perasaan tersebut adalah dari
oborlan-obrolan serta observasi saya menyatukan tokoh yang terjadi dalam
naskah, kemudian mencoba mencari kemungkinan terdekat tentang kejadian yang
sama versi pengalaman priadi saya.
Maksudnya begini,
semisal dalam tokoh tersebut karakternya sangat nakal dan suka mengompori
temanya untuk berbuat kejahatan. Akhirnya saya mencari pengalaman apakah diri
saya pernah berbuat hal tersebut, atau mencari perumpamaan hal yang sekiranya
masih dalam konteks itu. Semisal usil, kemudian sifat-sifat atau perasaan usil
tersebut saya coba gunakan untuk sekiranya menjadi jembatan untuk mendekati
tokoh yang dibangun penulis. Kemudian setelah itu, saya mencoba memahami betul
alur cerita serta detail perasaan yang dibangun tiap scenenya. Agar bayangan
tiap scene di film tersebut terbangun menjadi sebuah satu-kesatuan.
Salah satu adegan dalam Film Mitra
Saya merumpamakanya
seperti sebuah perkampungan, yang pasti dalam sebuah perkampungan tersebut ada
beragam bentuk rumah berbeda. Atau adapun yang sama, namun yang dihuni oleh
berbeda orang. Dalam perumpamaan tersebut saya mencoba membangun tiap perasaan
sesuai dengan scenenya, mencoba memahami betul tiap scene yang terjadi. Mencoba
membayangankan hal apa yang sekiranya akan saya lakukan saat kamera merekam,
mencoba membayangan bagaimana cara saya berdialog agar enak terdengar dan jelas
intonasinya. Yang pasti tidak ada tedensi untuk membekukan satu kejadian begitu
saja, sebab di awal mendapatkan naskah saya tidak tau pasti seting ruangan yang
digunakan untuk adegan tersebut. akhirnya yang timbul di pikiran saya hanya
bayangan dari hasil percobaan mendekati hal tersebut, kemudian
bayangan-bayangan tersebut seperti sebuah bangunan rumah yang terbangun
berderet di pikiran. Sekiranya menjadi gambaran jika berjalan mengitari
perumahan tersebut setelah pintu masuk saya akan melihat rumah berbentuk
sedemikian rupa sesuai bayangan saya, kemudian setelah itu berbeda lagi. Begitu
seterusnya sampai akhirnya saya berada pada penghujung perkampungan tersebut
dan sampai pada pintu keluar.
Saya membayangkan
begitulah cara memainkan peran. Tapi yang harus dijaga adalah bahwa apa yang
saya bangun dalam bayangan tersebut sewaktu-waktu akan mengalami perubahan,
sebab apa yang tak mengalami perubahan karena waktu? Akhirnya dari membaca
berulang-ulang naskah dan membayangkan tokoh, saya mencoba mengunci perasaan
serta bayangan tersebut untuk sementara waktu, suatu waktu ketika bertemu oleh
penulis naskah saya mendengarkan kembali apa yang diutarakan. Sebab segala
sesuatu ada pada bayangan si penulis saat menuliskan naskah tersebut sampai
nanti pada waktunya saya benar-benar paham soal naskah, dan kemudian bertemu
dengan sutradara dalam film.
Sedemikian terus saya
harus mencoba mendisiplinkan diri untuk tidak menjadikan nyata sebuah
perkampungan yang saya bayangkan, sebab saya baru selesai bertemu hanya dengan
penulis naskah. belum bertemu dengan pandangan sutradara yang pasti mempunyai
bangunan imajinasi yang berbeda soal naskah , karena konsep segala property,
lampu, lokasi, bahkan konsep keseluruhan film berada pada bayangan sutradara.
Jelas tidak boleh saya membekukan bangunan yang saya imajinasikan, lalu setelah
bertemu sutradara dan mengobrol ulang soal film yang akan digarap. Bangunan
yang saya imijanasikan tersebut pada tiap bagian rumah yang saya susun
sewaktu-waktu akan roboh, benar-benar roboh rata dengan tanah. Atau bahkan ada
yang diperbaiki hanya dioleskan cat baru, namun disana tetap ada tawar
menawarnya untuk memperindah lagi dan menghidupkan apa yang akan dibuat.
Tidak selesai sampai
di sana, saat waktu luang sendiripun saya harus menjaga kesadaran saya untuk
mencari kemungkinan lain soal tokoh serta alur cerita dalam naskah. sebab tanggung
jawab yang saya dapatkan sangatlah penting dalam pengggarapan kali ini, aktor
mempunyai keterlibatan yang sangat penting dalam konteks ini dikarenakan aktor
yang akan menyampaikan segala gagasan yang sudah disiapkan dari jauh hari.
Apalagi dalam pikiran saya ketika diberikan tanggung jawab, tentu saja saya
akan menampilkan semaksimal mungkin apa yang saya bisa. Karena semua tim
bekerja begitu tanggung jawab sesuai dengan tugasnya.
Kebetulan yang
menyutradarai film “MITRA” adalah, Frederich Blessy nama yang begitu susah
bukan? Tetapi saya melakukan pendekatan denganya tidak begitu susah. Sebab
orangnya memang sangat terbuka, dan saya mencoba terbuka juga walaupun saya
tetap masih curiga apakah ini sudah benar-benar terbuka. Ditambah ada hal yang
kuat untuk membuat kami gampang menyatukan sesuatu, yaitu sepak bola. Saya
adalah penggemar Bali United, tanpa saya sadari Blessy adalah salah satu tim
kreativ video dari Bali United. Betapa antusiasnya saya untuk bercerita banyak
kepadanya, sesekali memang kami sering kali melakukan obrolan yang sama sekali
tidak ada hubunganya dengan film yang akan digarap. Tapi kami tetap tidak lupa
dengan kewajiban kami berdua, saya selaku aktor dan dia selaku sutradara.
Begitu seterusnya yang kami lakukan hanya mengobrol dan menggali ulang setiap
scenenya, untuk nanti saat syuting tiba kami sudah tinggal melakukan sesuai
yang dipersiapkan.
Namun sampai saat hari
shooting tibapun, saya selalu menjaga agar perkampungan yang saya bayangkan
tersebut tidak menjadi kenyataan dalam tubuh dan penokohan saya. Ada perasaan
takut dalam diri kalau saja saya memainkan tokoh tersebut dengan mekanis dan kemudian
saya bosan, hingga akhirnya permainan peran saya tidak maksimal. Untuk menjaga
itu saya mencoba memberikan penawaran-penwaran lain untuk menyegarkanya, yaitu
mencoba memberikan sentuhan improvisasi di selah-selah yang sekiranya bisa
diimprovisasikan.
Hal tersebut benar
saja menjadikan saya merasa tidak bosan dalam memainkan tokoh dalam naskah ini,
kebetulan kali ini saya memainkan tokoh bernama “Nyamprut”, dia adalah sahabat
dekat dari pemeran utama bernama “Arlingga” yang diperankan oleh teman dekat
saya di Teater, Agus Wiratama. Saya merasa ada beberapa persamaan antara
kepribadian saya dengan tokoh Nyamprut, walaupun lagi-lagi saya curiga apakah
benar-benar ada persamaan pada diri saya dan pada diri tokoh tersebut. kemudian
untuk meyakinkan hal tersebut saya berulang kali membaca dan membayangkan
tingkah laku Nyamprut. Hingga timbul bayangan-bayangan Nyamprut yang tadi saya
katakana seperti sebuah perkampungan.
Dalam konteks ini
memang keterbukaan tiap elemen dalam kelompok penggrapan film tersebut memang
sangat berpengaruh untuk mengukur sebarapa berhasilnya dalam membawakan cerita
yang ingin disampaikan. Sebab, hingga saat hari shooting tibapun saya masih
bersikeras untuk tidak menjadikan nyata perkampungan tersebut dalam bentuk
penokohan. Lagi-lagi saya merasa takut bosan memainkan tokoh Nyamprut, tapi
syukurnya tiap kelompok tidak pernah ada yang melarang saya untuk melakukan hal
tersebut. dan saya pun tidak mau menyia-nyiakan kepercayaan tersebut. hingga
hari shooting dimulai saya meyakinkan diri untuk menyampaikan apa yang sudah
saya imajinasikan selama ini, untuk kemudian dibekukan dalam bentuk film.
Banyak pengalaman yang
saya dapat dalam garapan film “MITRA” kali ini, terutama dalam menciptakan dan
membekukan sebuah tokoh. Tapi saya patut curiga juga sampai saat ini apakah
saya sudah benar-benar berhasil sejauh ini dalam mempertunjukan keaktoran saya.
Jika penasaran jangan lupa saksikan screening sekaligus peluncuran film
berjudul “MITRA”, yang diselenggarakan di Rumah Sanur, pada hari Kamis tanggal
30 Januari 2020 Jam 18.00.
Produser : Prasetyo
Wibowo S. Sutradara : Frederich Blessy. Penulis Naskah : Otos. Kamera : Icad.
Audio dan Artistik : Gung Wah, Ade. Serta masih banyak jajaran yang membantu
dan pemain yang tak saya sebutkan, pokoknya saksikan saja. Melihat dan
mencurigai apa yang saya dan teman-teman dari Resolusi Film bangun. Serta
curigai apa yang terjadi. Oya, terimaksih kepada segala tim kreativ yang
tergabung dalam garapan film kali ini. Saya sangat berterimakasih karena
diberikan ruang untuk belajar yang begitu luas. Semoga tidak bosan dan masih
mempercayai saya untuk bekerja dan belajar bersama. Sekaki lagi, terimakasih.
Salam. [T]
Setiap bertemu orang yang bertanya, “Sudah kerja? Kerja di mana sekarang?” Saya kesal. Selalu kesal. Bukan lantaran karena tak punya pekerjaan. Namun betapa bingung mesti dengan ap...
Judul Buku: Cupak Tanah – Enam Naskah Drama
Pengarang : Putu Satria Kusuma
Penerbit : Mahima Institute Indonesia
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : xvi + 216 halaman
ISBN :978-60...
Lucu itu pembawaan, tak bisa dipaksakan. Tidak banyak orang yang fasih melucu. Kebanyakan orang gigih mencoba melucu, justru jadinya tidak lucu. Kalaupun kemudian ada yang tertawa,...
SETIAP zaman punya ciri khasnya masing-masing. Zaman kita saat ini adalah zaman ‘dunia maya’. Dan, setiap zaman selalu melahirkan sejumlah konflik. Zaman kita sekarang ini melahirk...
Bila ditanya, manakah karya sastra yang benar-benar mampu berbaur dengan segala hal, barangkali puisilah jawabannya. Sebagaimana ia diistilahkan dengan berbagai nama di setiap bida...
KETIKA ideologi komunis atau sosialis dikatakan bangkrut, lantas apa yang mendasari kedatanganku ke kuburan Karl Marx, lelaki yang identik dengan ideologi itu?
"Untuk memenuhi ras...
Bali memahami konflik dengan sangat bijaksana. Ia adalah konsep rwa binedha, pertentangan yang menjadi satu, pertentangan yang melahirkan dinamika dan keberlangsungan hidup.
Ada ru...
Judul Buku: EKSPLO(RA)SI TUBUH - ESAI-ESAI KURATORIALSENI RUPAPenulis: HardimanPenerbit: Mahima Institute IndonesiaTebal : viii + 307 ISBN : 978-602-18311-7-5 Buku Eksplo(ra)si Tub...
Judul Buku : Perempuan Tanpa Nama
Pengarang : Kadek Sonia Piscayanti
Penerbit : Mahima Institute Indonesia
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : x + 288 halaman
ISBN :978-602-18311-...
Berbahagia sekali saya masih diberi kesempatan untuk bernapas, kemudian tadi pagi masih berak dengan lancar, dan menyusun pidato ini dengan keadaan suhu tubuh serta kejiwaan yang n...