“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
------
Sebagian besar tulisan dalam buku ini diunggah di facebook, terutama esai-esai pendek yang berisi pemikiran yang padat. Jika ada angka tanggal, bulan dan tahun di bawah tulisan, artinya tulisan itu diunggah di facebook pada tanggal sebagaimana dituliskan, atau setidaknya diunggah di sekitar tanggal-tanggal itu.
Meski selalu gatal menulis esai berupa status di facebook, I Gde Made Metera tetap saja memegang ciri khasnya sebagai seorang intelektual lulusan S3 dan seorang rektor di Universitas Panji Sakti Singaraja yang serius dan berpengetahuan luas, yang berpegang ketat pada nalar, etika dan logika keilmuan, dan tentu saja riwayat keilmiahannya bisa dilacak. Ia bukan penulis status media sosial yang sekadar tulis, sebagaimana kerap dilakukan warga media sosial yang rutin menuliskan kegiatan sehari-hari, kadang hanya penting untuk diri mereka sendiri, atau seseorang yang sekadar nyinyir, sentimentil, dan terlalu galau pada diri atau keadaan di sekitarnya.
Pada setiap esai pendek yang ditulisnya di facebook, hampir bisa dipastikan memiliki riwayat dan bisa dihubungkan dengan hasil-hasil pemikiran yang ia lontarkan pada seminar, serasehan, diskusi, ceramah, simposium, atau pada ruang-ruang penyebaran ilmu pengetahuan yang lebih serius semacam ketika ia menjadi konsultan di Pemkab Buleleng dan kantor pemerintahan yang lain.
Misalnya, pada pagi hari ia menjadi pemateri dalam seminar atau diskusi tentang Pilkada yang diselenggarakan sebuah lembaga resmi, lalu pada siang atau sore harinya atau besok paginya ia akan menggunggah status di laman facebook yang berisi intisari dari pemikiran yang dilontarkannya pada ruang diskusi itu. Bahasa yang digunakan tentu saja disesuaikan dengan bahasa umum agar bisa dibaca oleh siapa pun yang gemar mencari pengetahuan di media sosial. Artinya, di ruang seminar, pemikirannya yang lengkap, yang lebih ilmiah, dinikmati oleh peserta seminar yang memang terdiri dari orang-orang khusus, sementara di ruang media sosial pemikirannya tetap bisa dinikmati oleh publik yang lebih heterogen dan umum.
Hal yang sama juga berlaku pada esai-esainya yang dimuat di tatkala.co, sebuah media warga yang dikelola Mahima Institute Indonesia. Intisari dari pemikirannya yang biasanya panjang dan ilmiah di ruang seminar, biasanya ditulis lagi secara lebih bernas dan segar untuk disiarkan di tatkala.co. Demikian juga jika ia harus menulis semacam kajian terhadap perencanaan pembangunan atas permintaan sebuah lembaga pemerintah, atau riset yang ditulis pada jurnal ilmiah. Hasil kajian dengan riset yang mendalam, data statistik yang menjelimet dan metode penulisan yang kaku, biasanya ia olah kembali menjadi esai pendek yang lebih populer untuk dimuat di tatkala.co, atau dalam versi yang lebih pendek lagi diunggah di facebook.
Mungkin tidak banyak intelektual yang melakukan kerja-kerja penulisan yang biasa dilakukan I Gde Made Metera. Padahal, penyebaran pengetahuan dan pemikiran dengan menggunakan berbagai media, dari media kelas khusus hingga kelas umum, dari media serius hingga “media main-main”, bisa disebut sebagai salah satu strategi pengembangan literasi pada masa milenial ini. Literasi bukan hanya sekadar kegiatan membaca buku, melainkan juga sebuah upaya untuk mendapatkan pengetahuan, mengelola pengetahuan, dan menyebarkan pengetahuan, dari media apa saja.
Bisa saja satu pengetahuan dan pemikiran-pemikiran pada awalnya bersumber dari buku, lalu disebarkan di ruang seminar, lalu dipecah ke media sosial, lalu didiskusikan di warung-warung kopi. Atau pengetahuan, opini dan pemikiran, itu bisa saja menyebar terlebih dulu pada berbagai ruang dan media, lalu dikumpulkan menjadi buku -- sebagaimana buku yang Anda pegang saat ini.
Judul buku ini, Rakyat Bukan Papan Begesting diringkas dari sebuah judul tulisan berjudul “Dalam Pilkada: Rakyat Jangan Hanya Menjadi "Papan Begesting". Papan begesting, atau di tempat lain juga biasa disebut papan bekisting, adalah papan yang hanya dipakai sebagai bagian dari rangkaian peralatan untuk cor beton. Setelah pembetonan selesai, papan itu biasanya tak bisa dipakai lagi, maka ia diabaikan dan dibuang. Nasib papan begesting tentu berbeda dengan papan yang dipakai sebagai bahan bangunan semacam plafon, tiang atau penyekat ruangan, yang digunakan bertahun-tahun bahkan direhabilitasi terus-menerus.
Agar bukan hanya menjadi papan begesting, rakyat memang harus berdaya, cerdas dan rasional. Jika dikaitkan dengan politik pemilu atau pilkada, rakyat harus menjadi pemilih yang cerdas dan rasional dengan mendasarkan pada program kerja calon, kompetensi dan rekam jejak calon sebagai bahan pertimbangan menentukan pilihan. Untuk menjadi pemilih yang cerdas, rajinlah membaca, termasuk membaca status-status facebook I Gde Made Metera dan tentu saja membaca buku ini juga. [T]
Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...