Sebagai catatan akhir sekaligus awal
tahun Teater Kalangan, saya ingin mengandai-andai mengenai saya dan Kalangan.
Saya coba mengembalikan kalangan sebagai kata dengan makna yang dekat dengan
diri saya. Ketika menghilangkan kata “teater” pada “Teater Kalangan” dan
tersisa “Kalangan”, yang terbayang adalah tempat tajen (sabung ayam).
Padahal, kalangan berarti ruang, tentu tidak hanya berarti tempat tajen.
Kalangan tempat tajen disebut kalangan tajen, ada juga kalangan-kalangan
lain tentunya.
Mengingat soal tajen, seorang teman
pernah berkata dan saya sepakat, katanya tajen adalah ruang untuk
menyalurkan hasrat perang yang tersendat. Sementara itu, apakah Teater Kalangan
adalah ruang penyaluran? Hasrat apa yang disalurkan? Bagi saya jawabannya iya.
Tapi hasrat yang disalurkan tidak hanya hasrat bertarung, tepatnya hasrat
bermain-main, yang serius tentunya.
Ketika tajen berlangsung,
bermain-main yang serius pun terjadi. Pada akhirnya permainan yang seperti itu
membuat orang untuk datang. Datang dengan tujuan berjudi misalnya, berdagang,
membeli babi guling, main mongmongan, bola adil, bahkan ada yang
datang untuk mencari teman ngobrol hingga selingkuhan.
Pada tajen di Teater Kalangan,
saya barangkali adalah seorang bebotoh (penjudi) yang mempertaruhkan
beberapa hal dalam permainan. Mempertaruhkan waktu, tenaga, sesekali pikiran, bahkan
meninggalkan pacar.
Sesekali, saya berangkat dari
Singaraja menuju Denpasar untuk terlibat pada pertunjukkan. Jarak yang lumayan
jauh, tetapi tetap saja ditempuh. Kalau dipikir, saya memang bertaruh, tetapi
tak ada yang kalah atau pemenang, yang ada perasaan ingin bertemu teman lain
dan bersenang-senang terpenuhi.
Khayalan saya semakin larut, apa
jadinya bila kalangan tajen diliburkan dalam waktu lama, satu tahun misalnya?
Saya pikir, tidak ada yang salah dengan itu, meskipun para bebotoh akan
gelisah. Namun, para bebetoh memiliki waktu luang untuk merawat ayam-ayamnya
dan memilih mana yang tepat sebagai aduan atau dipanggang ketika odalan.
Para pedagang bisa memilih tempat berjualan lain, dan para penggemar bola
adil akan aman dari kejaran apparat karena fokus bekerja. Sementara itu,
ibu-ibu yang biasa marah-marah karena suaminya selalu berjudi bisa diredakan.
Bila tajen selalu digelar, mungkin
berpotensi kehilangan esensinya sebagai permainan. Ia harusnya tetap sebagai
sebuah permainan meski dijalankan dengan serius seperti tajen dalam artian
sesungguhnya. Tapi bila terus digelar ia justru bisa meninggalkan kesan
permainan dan hanya tersimpan keseriusan. Sekali lagi, ini bukan sesuatu yang
salah. Tetapi, apa jadinya sebuah
permainan kehilangan kesannya itu sendiri? Mungkin menjadi tegang sehingga dahi
mengkerut, rambut rontok satu per satu.
Dalam konteks teater kalangan, nyepi
adalah pembacaan ulang terhadap diri, meragukan posisi yang sementara dipilih, belajar
di ruang lain kemudian membawa cerita sebagai oleh-oleh, dan sudah barang tentu
merencanakan hal-hal yang semestinya dikerjakan pada tahun selanjutnya.
Romantis, bukan?
Romastisme semacam itu memang tetap
penting dijaga seperti hubungan bebotoh dengan ayamnya. Meski begitu, waktu
luang dari pentas ini menjadi bahan pertanyaan dari beberapa teman saya. “Mengapa
tidak ada kegiatan sekarang?” Saya jawab saja dengan cengengesan, lagi libur
Panjang dan menunggu tamasya.
Barangkali, sangat jarang ada seorang
penjudi yang hanya mengerjakan tajen sebagai ruang bermain satu-satunya. Sebab mereka
memiliki tempat lain yang perlu juga digarap. Seperti kesepakatan di awal
terbentuknya Teater Kalangan, disepakati bahwa semua anggota harus memiliki dan
mencari identitasnya sendiri. Hal seperti itu sedikit tidak terwujud, Semisal Jacko
Wahyu Rizki sebagai penari, Aguk Noval Rivaldi sebagai penulis dan pemain film,
pun yang lainnya.
Bebotoh atau penjudi, akan susah lepas dari kalangan. Ikatan dengan teman dan keinginan berkumpul pasti akan menarik pada saat yang tepat. Terlebih tajen ini tidak menentukan pemenang, semua mendapat be cundang. Bertemu teman-teman kemudian membicarakan perjalanan selama menyepi, kegiatan yang dilakukan ketika libur sepanjang itu. Dan pertanyaan atas diri yang sudah terangkai atau belum rampung yang diceritakan satu sama lain. Waktu menyepi sudah hampir habis walau tamasya tak kunjung tiba, sehingga para bebotoh akan segera datang, pedagang, pemain judi yang lain, bahkan apparat yang siap membubarkan. [T]