Sejumlah bangunan pelinggih di
Pura Dalem Desa Adat Banjar, Kecamatan Banjar, Buleleng, terbakar, Minggu, 24 November 2019 sekira pukul 13.30 siang. Ketika video terbakarnya
pelinggih itu tersebar secara langsung di facebook, banyak orang prihatin
sekaligus terkagum-kagum.
Prihatin,
tentu karena bangunan suci itu dilalap api dengan ganas, dengan asap yang
membubung di atas pelinggih. Terkagum-kagum, karena melihat betapa unik ukiran
dan patung yang menghiasi pelinggih itu, terutama pelinggih gedong yang
mengalami kerusakan paling parah; seluruh tiang dan atap bangunan lunas jadi
puing. Bahkan, ada teman yang berujar, jika pelinggih itu tak terbakar, mungkin
tak banyak yang tahu jika pura itu menyimpan nilai cagar budaya yang tua, unik,
langka dan tentu amat mengagumkan.
Saya datang ke Pura Dalem Desa Adat Banjar, hampir dua bulan setelah terbakar, Minggu, 20 Januari 2020. Itu pun karena saya diajak oleh perupa Dewa Purwita Sukahet dan pemerhati sastra Bali, Gede Gita Purnama alias Bayu. Dewa Purwita memang memiliki perhatian besar terhadap seni ukir dan seni patung Bali Utara dan Bayu adalah dosen di Unud yang selalu giat meneliti sastra, termasuk nilai sastra yang dikandung benda-benda cagar budaya. Istri saya, Kadek Sonia Piscayanti, juga turut serta, dengan alasan ingin tahu tentang ornament unik yang kerap saya obrolkan dengan amat provokatif di waktu senggang.
Bendesa Adat Banjar Ida Bagus Kosala
Sehari-hari Pura Dalem Desa Adat Banjar itu terkunci. Namun atas lobi-lobi seorang teman wartawan, Ida Bagus Wisnaya, datanglah Bendesa Adat Banjar Ida Bagus Kosala membawakan kami kunci setelah beberapa saat menunggu di jaba pura. Saya mengenal Ida Bagus Kosala saat ia menjadi Perbekel Desa Banjar beberapa tahun lalu ketika saya menjadi wartawan aktif yang kerap meliput sejumlah acara dan kasus-kasus politik serta hukum di wilayah Desa Banjar. Ida Bagus Kosala seorang yang ramah, penuh humor, dan memiliki cakrawala pengetahuan yang luas. Setelah memperkenalkan diri dan menyampaikan tujuan kami, Ida mempersilakan kami masuk.
Di areal jeroan pura, di areal pelinggih yang terbakar, kami sibuk mengambil gambar sembari geleng-geleng melihat puing bekas kebakaran dan tanpa henti berdecak-decak kagum melihat ornament berupa patung dan ukiran di hampir semua dinding pelinggih. Di sejumlah pelinggih yang terbakar, antara lain Pelinggih Gedong (Linggih Bhatara Siwa), Pelingih Pesaren, Menjangan Siliwang, Pelinggih Prajapati dan Pelinggih Argi Manik, hampir semuanya dihias ukiran yang mengundang decak.
Restorasi atau Pralina?
Saya
sendiri, meski awalnya ikut-ikutan, sesungguhnya punya misi terselubung. Saya
ingin tahu apakah bangunan pura yang terbakar itu akan direstorasi atau
dipralina. Restorasi artinya pura itu dibangun kembali dengan tetap memasang
materi bangunan, terutama materi yang berisi ukiran dan patung langka. Jika
dipralina, artinya bangunan bekas terbakar itu dienyahkan dan warga adat
membangun pura itu kembali dengan seluruh materi dan bahan-bahan yang baru.
Pertanyaan ini muncul sebab saya sempat mendengar sejumlah orang wikan berujar bahwa bekas-bekas bangunan pura yang sudah terbakar tak boleh digunakan lagi untuk membangun karena dianggap sudah leteh atau cemar. Bangunan bekas kebakaran itu dipralina, dan pura dibangun ulang dengan menggunakan bahan yang semuanya baru. Saya berpikir kemudian, jika bangunan di Pura Dalem Banjar itu benar-benar dipralina, alangkah sayang sekali, karena ukiran dan patung itu akan lenyap tanpa bekas. Alangkah sedihnya.
Ketika
bertemu Ida Bagus Kosala, tentang itulah yang pertama kali saya tanyakan.
Apakah bangunan bekas terbakar itu akan dipralina atau direstorasi? Jawabannya
sungguh melegakan saya. Restorasi.
Relief di bagian bawah sebuah pelinggih yang terbakar di Pura Dalem Desa Banjar Kecamatan Banjar Buleleng
Saya tak tahu soal sastra agama, misalnya sastra mengenai petunjuk-petunjuk tentang apa yang boleh dilakukan, apa yang tak boleh dilakukan, apa yang harus diikuti 100 persen, dan apa yang boleh ditawar-tawar. Yang jelas, jauh dalam lubuk hati, saya senang jika pura itu direstorasi, tentu dengan berbagai upacara-upacara agama yang harus diikuti sesuai sastra dan agama.
Awalnya, kata Ida Bagus
Kosala, dalam rapat desa adat, terdapat dua pendapat yang berbeda terkait
pembangunan ulang Pura Dalem di Desa Adat Banjar yang terbakar itu. Ada yang
mengatakan pura dibangun kembali dengan bahan-bahan yang baru, ada juga yang
ingin mempertahankan bangunan-bangunan lama, terutama yang berisi ukiran dan
patung yang dibuat penglingsir-penglingsir mereka di masa lalu.
Dengan sejumlah pertimbangan, salah satunya pertimbangan bahwa bangunan itu punya nilai cagar budaya, akhirnya diputuskan pura itu dibangun kembali dengan tetap memasang bahan-bahan lama seperti semula.
“Kami masih menunggu petugas
dari Balai Pelestarian Cagar
Budaya untuk mengecek kembali bahan-bahan yang akan dipasang
kembali. Nanti pihak Balai yang akan membantu membuka bata dan paras itu, lalu
diisi kode-kode, agar bisa dipasang lagi sesuai urutannya,” kata Ida Bagus
Kosala.
Setelah dibongkar, kata Ida
Bagus Kosala, bahan-bahan itu nanti diupacarai dengan upacara prayascita agar
bisa digunakan selayaknya bahan yang masih baru. Untuk bahan lain yang hangus
terbakar, seperti kayu, ijuk dan lain-lain kini sedang diupayakan untuk
mencarinya ke sejumlah tempat agar mendapatkan kayu berkualitas dan memang
layak untuk bangunan pura. “Dulu kami menggunakan kayu majegau, tapi kini agak
susah mencarinya,” kata dia.
Berapa Usia Bangunan?
Balai
Pelestarian Cagar Budaya Wilayah Kerja Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat, dan
Nusa Tenggara Timur atau biasa disebut BPCB Bali sebelumnya sudah sempat meninjau bangunan pura yang terbakar itu. Para petugas memeriksa lebih detail ukiran dan patung yang ada di Pura Dalem itu. Kendati sejumlah pelinggih hangus terbakar, namun kondisi ukiran masih terlihat jelas. Untuk itu pihak BPCB
menyarankan agar materi yang punya nilai besar itu dilestarikan dengan cara
memasang kembali saat pura itu dibangun kembali.
Dewa Purwita Sukahet, teman
saya yang sebelumnya asyik memotret dengan kamera DSLR, turut menjelaskan bahwa
peninggalan benda yang usianya lebih dari 50 tahun, memiliki keunikan dan
mencerminkan keistimewaan sebuah daerah, apalagi tidak ditemukan di tempat
lain, dan bisa dijadikan media pendidikan, memang wajib dilestarikan.
Relief di satu sisi pelinggih yang terbakar di Pura Dalem Desa Banjar
Ida Bagus Kosala tak bisa memastikan
kapan pelinggih di Pura Dalem itu dibangun. Namun, jika melihat bahwa di areal
pura tak ditemukan pelinggih padmasana, ia memperkirakan bangunan yang berisi
ukiran dan patung di Pura Dalem usianya diperkirakan lebih dari 300 tahun.
“Jika dilihat di areal pura tak ada bangunan padmasana, diperkirakan pura itu
berusia lebih dari 300 tahun,” kata Ida Bagus Kosala.
Ketiadaan padmasana digunakan
sebagai patokan tentu merujuk pada kedatangan Dang Hyang Dwijendra yang
memperkenalkan konsep pembangunan padmasana sebagai linggih atau sthana Ida
Sang Hyang Widhi. Artinya, secara logika sederhana, Pura Dalem itu sudah
dibangun sebelum kedatangan Dang Hyang Dwijendra. Logika ini tentu masih bisa
diperdebatkan. Namun yang jelas, bangunan itu adalah bangunan kuno, dengan
konsep ukiran yang unik, langka, dan memang layak untuk diteliti sekaligus
dilestarikan.
Apanya yang Beda?
Sepulang dari Pura Dalem
Banjar, saya bersama Dewa Purwita Sukahet dan Bayu Gita Purnama melihat-lihat
kembali hasil jepretan sejumlah pelinggih, tentu melihat dengan cukup teliti
ukiran atau patung yang menempel di dinding bangunan.
Dewa Purwita Sukahet
menyebutkan, ukiran dengan bun-bunan yang tebal dan mencolok serta patung besar
dengan wajah-wajah besar, seram, dan begitu menonjol memang merupakan karakter ukiran atau pahatan
khas Buleleng. Namun ada yang berbeda dari stil ukiran di Pura Dalem Banjar itu
dengan sejumlah relief atau ukiran di dinding pura di wilayah Buleleng bagian
timur seperti di wilayah Sawan dan sekitarnya. Di Buleleng bagian timur
wajah-wajah seram pada patung raksasa dibuat dengan eksplorasi yang sungguh aeng, seramnya sungguh-sungguh seram dan
mungkin menakutkan. “Wajah-wajah patung raksasa di Pura Dalem Banjar itu sebenarnya
juga seram, namun tampak agung,” katanya.
Kami tak henti-henti kagum
menyaksikan foto-foto raksasa dan karakter manusia, dewa, atau kala, di hampir
seluruh dinding pelinggih, terutama di pelinggih gedong. Pada setiap dinding,
di bagian kanan, kiri, dan belakang, terdapat tiga bagian wajah. Paling bawah,
pada bidang yang biasa dianggap sebagai kaki bangunan, atau dupak atau kedapa, terdapat deretan relief wajah seram dengan berbagai bentuk
dan atraksi tubuh. Diduga bagian itu adalah deretan dari simbol-simbol kala,
sebab di bagian belakang tampak jelas terdapat karakter Kala Sungsang dengan
posisi kepala terbalik yang mudah ditebak.
Di bagian atas terdapat tiga
patung raksasa yang masing-masing menyunggi sosok tubuh dengan anatomi yang
berbeda-beda. Lama kami memperhatikan sosok-sosok yang disunggi di bagian atas,
sampai akhirnya kami menduga bahwa deretan relief pada sisi-sisi bangunan itu
melukiskan sosok-sosok penting dalam kisah Ramayana.
Relief di satu sisi pelinggih yang terbakar di Pura Dalem Desa Banjar
Di satu sisi bangunan terdapat
tiga sosok kakak-adik; Rahwana, Kumbakarna dan Wibisana. Penemuan itu berawal ketika Dewa Purwita
melihat satu sosok raksasa memiliki caling yang hanya menjulur ke bawah. Caling
ke bawah adalah ciri Rahwana. Satu sosok raksasa lagi memiliki caling ke atas
dan ke bawah, dan itu diduga karakter dari Kumbakarna. Dan satu sosok lagi
berwajah manusia. Itu diduga Wibisana.
Belakangan, setelah diperhatikan
dengan seksama, terdapat temuan menarik yang makin menguatkan dugaan kami bahwa
deretan relief patung-patung besar di dinding pelinggih itu adalah tokoh-tokoh
penting dalam kisah Ramayana. Yakni ditemukannya ekor di satu sosok. Kami
langsung menduga itu adalah tokoh Hanoman. Dugaan dikuatkan dengan kalung pada
leher berupa kalung ular. Hanya, yang sangat menarik, wajah yang kami duga
tokoh Hanoman itu berwujud raksasa, atau setidaknya dibuat dengan wajah yang
cukup seram. Dua sosok lagi di satu sisi bangun itu juga adalah sosok kera,
mungkin Subali, mungkin Sugriwa, mungkin Anggada, atau tokoh kera lain dalam
kisah Ramayana.
Dengan temuan itu, kami
langsung menduga bahwa di sisi bangunan yang lain adalah deretan patung Rama
dan keluarganya, mungkin Laksamana, mungkin Dasarata, mungkin juga Kosalya atau
Sita. Hampir seluruh karakter dalam relief itu tak memberikan petunjuk tunggal.
Wajah-wajah itu diduga dibuat dengan daya kreatif yang tinggi, apalagi
bentuk-bentuk wajah dengan segala ekspresinya bukanlah bentuk dan ekspresi yang
dikenal dalam dunia pewayangan di zaman kini. Dulu, mungkin tokoh-tokoh memang
dibuat lebih bebas, lebih liar, tanpa pakem yang ajeg.
Sungguh ukiran dan
bentuk-bentuk itu sepertinya mengajak kami bermain-main dengan imajinasi sekaligus
membuktikan bahwa pengetahuan tentang seni dan rupa, atau seni rupa, juga
kehidupan, mungkin agama dan kreatifitas di dalamnya tidaklah ajeg. Dugaan kami
mungkin salah bahwa tokoh yang dilukiskan di dinding pelinggih itu adalah
tokoh-tokoh penting dalam epos Ramayana. Tapi bukankah dugaan adalah awal dari
berkembangnya ilmu pengetahuan?
Masa lalu meninggalkan pengetahuan, dan kita membedahnya untuk menambah pengetahuan. Karena itulah, mungkin keputusan untuk merestorasi bangunan pelinggih di Pura Dalem Banjar itu adalah keputusan yang tepat. Karena benda-benda kuno itu memberi pelajaran sekaligus nilai-nilai. [T]
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...