Catatan awal tahun
ini adalah catatan kedua saya bersama Teater Kalangan, itu berarti ini adalah
tahun kedua saya berproses bersama teman-teman di Teater Kalangan. Banyak hal
yang saya pribadi lalui di tahun 2019, seolah-olah hari demi hari terasa begitu
berat dan dengan tensi yang begitu cepat saat menjalani segala proses. Tapi
yang kadang saya herankan adalah kenapa saya melakukanya juga, entah atas dasar
apa semua hal-hal yang lalu terjadi begitu saja di tahun 2019.
Setelah melihat ke
belakang kembali baru timbul perasaan bahwa hal yang padat, cepat, dan berat
ternyata saya lewati tanpa sadar. Yang kemudian akan menjadi titik timbang
untuk ke depanya ketika berproses kembali bersama teman-teman di Teater
Kalangan di 2020. Banyak sekali hal yang saya dapatkan dalam tahun 2019 ini.
Bagaimana semua hal-hal tersebut terjadi tanpa saya pikirkan dampaknya untuk ke
depan, baik itu untuk saya maupun Teater Kalangan.
Saya merasa apa
yang terjadi kemarin itu murni atas kemauan dan kesadaran sendiri, yang memang
benar tanpa adanya pola berpikir ini untuk apa ke depanya. Kalau saya
hitung-hitung kembali, ada beberapa hal besar yang terjadi dalam diri saya
ketika melihat apa yang saya dan teman-teman lainya lakukan di 2019.
Entah itu misalnya
soal membangun jaringan kepada segala macam lintas disiplin, saya merasakan
bahwa merawat jaringan dengan komunitas-komunitas lainya adalah hal yang
berdampak besar yang memang terlihatnya sederhana. Tapi ketika saya membaca
ulang soal pertemuan-pertemuan saya pribadi maupun atas nama Teater Kalangan. Ketika
sekedar bertemu maupun sedikit bertukar pandangan dengan kelompok di luar
lingkaran saya di Teater Kalangan. Ada hal yang muncul ketika saya menyadari
setiap pertemuan saya dengan orang di luar kelompok saya, ada semacam pandangan
berbeda dalam menyikapi kesenian khususnya.
Karena tentu saja
dengan proses kreatif berbeda dapat menimbulkan pengetahuan baru, semisal kesenian
di pandangan mahasiswa perfilman atau bahkan kesenian dalam pandangan musik
metal. Dan pandangan-pandangan lain soal proses kreatif kesenian. Pada saat
sadar akan dampak kinerja merawat dan membangun jaringan itu ternyata begitu
bagus untuk kesenian muda-mudi seperti saya. Sebab pada ruang-ruang yang kecil
biasanya kelompok-kelompok multi disiplin tersebut berkumpul karena ada acara
kesenian. Seperti teater, musik, pameran lukis atau bahkan pemutaran film.
Acara-acara tersebut kadang menjadi sebuah nilai lebih bagi seniman muda, sebab
yang saya rasakan adalah timbulnya sebuah keakraban yang kadang bisa
membicarakan hal serius sekali bahkan tidak serius sama sekali. Tapi akhirnya dari
obrolan-obrolan dengan latar belakang yang berbeda tersebut, timbul juga
perasaan ingin mencoba berproses kreatif bersama dengan latar belakang berbeda
semacam kolaborasi. Akhirnya sebuah acara bisa jadi semacam batu loncatan dari
sebuah pertemuan, selain mendapat pengetahuan baru soal pementasan tersebut.
Kemudian saat
proses kolaborasi itu terjadi pasti akan ada sebuah pembicaraan serta tawar
menawar tiap multi disiplin. Saya sering sekali diajak kolaborasi individu
tanpa mengajak teman Teater Kalangan lainya, walaupun tetap ada Teater Kalangan
sebagai latar belakang. Tapi akhirnya itu menjadi PR besar untuk membawa segala
macam pandangan kami di dalam Teater Kalangan untuk kemudian mencocokan diri
atau tawar menawar dalam proses kolaborasi. Semisal pada pengalaman saya,
ketika diajak untuk mengikuti sebuah garapan film dari mahasiswa ISI. Ketika
masuk ke dalam sebuah kelompok yang baru dengan proses kreatif yang berbeda
dengan kelompok saya, tentu ada sebuah ketegangan dan temuan lain dalam melihat
proses kreatif kelompok lain. Akhirnya pengalaman-pengalaman memasuki kelompok
lain itu menjadi bekal baru untuk sekiranya dibicarakan pada kelompok saya. Tentu
yang dibicarakan adalah hal-hal yang memang berkaitan dengan teater dan hal-hal
di sekitarnya. Untuk menjadi sebuah wawasan baru dalam kelompok. Itu mungkin
salah satu cara membangun kelompok.
Tapi saya baru
menyadari pentingnya mencari pengalaman di luar kelompok itu pada tahun 2019
lalu. Sebab dalam pandangan saya, apa yang didapat dalam sebuah kolompok itu
akan menjadi kaku jika tidak ada kesadaran untuk mencoba bertukar pikiran
dengan kelompok lainya. Itu seperti menjadi sebuah refleksi terhadap apa yang
sudah dilakukan selama ini, apakah yang dilakukan dengan kelompok beserta tiap
anggotanya itu adalah hal yang tepat dalam berproses kreatif. Saya menemukan
jawaban tersebut ketika berkunjung ke kelompok lain. Kadang dalam pertemuan
dengan anggota kelompok lain saya merasa ada proses pencarian yang lebih tegang,
ketimbang pertemuan dengan kelompok sendiri sebab mungkin sudah memiliki visi
misi yang sama. Tapi dalam pertemuan dengan kelompok lain itu malah berbeda,
selalu ada pementalan-pementalan yang menarik untuk dibahas.
Tapi yang perlu
diingat juga adalah bagaimana akhirnya menanamkan kesadaran dalam diri untuk
benar-benar merawat dan membangun jaringan tersebut, tentu dengan pendekatan
dan pembacaan masing-masing. Serta kesadaran menjaga putaran yang terjadi di
kelompok sendiri. Sebab akan menjadi tidak imbang juga ketika terlalu asik
bermain di luar hingga lupa soal apa yang sudah dibangun di dalam.
Saya mungkin
memang butuh waktu yang lama untuk sadar akan hal ini, sebab sudah berlalu hari
demi hari hingga berganti tahun baru mulai menyadari. Padahal yang sering saya anggap kakak di Teater
Kalangan, sering mengingatkan untuk mencoba hal-hal baru dengan kelompok lain.
Untuk sekiranya semacam menengok diri sendiri, bagaimana cara bersikap ketika
bermain di kelompok lain maupun kelompok sendiri. Untuk sekiranya memberikan
jawaban atas pencapaian dan kualitas dalam memahami sesuatu.
Kemudian yang
paling mengingatkan tentang 2019 adalah bagaimana kesadaran untuk memperhatikan
kedetailan dalam berteater maupun keseharian. Dengan hal yang segalanya begitu
cepat kadang sampai tak sempat berpikir sedang melakukan apa, itu juga akhirnya
berdampak ke dalam proses keaktoran saya. Sering kali lepas kesadaran dalam membedakan
sifat-sifat keaktoran dan sifat-sifat keseharian. Maksudnya begini, dalam
kehidupan sehari-sehari kesadaran serta temuan dalam latihan keaktoran bercampur
dan kadang menyelinap dalam kegiatan sehari-hari. Itu baik bagi saya karena
semacam menjaga dan selalu mengaktifkan antena keaktoran, atau istilah
sederhananya adalah latihan bukan pada jam dan ruang latihan. Tapi ketika itu
terbalik bagi saya agak sedikit harus dipikirkan, ketika sifat-sifat keaktoran
yang sudah dibangun namun ketika pentas dan berada di atas panggung justru ada
sifat-sifat keseharian yang muncul. Seperti gerakan alam bawah sadar yang
menjadi mekanis saat pentas, detail-detail itu mungkin saya dapatkan ketika
berproses dalam setahun ini.
Bagaimana dengan
situasi yang seperti apapun seharusnya sifat-sifat keaktoran itu harus dijaga
dan dimainkan secara detail. Agar tidak berkesan seperti aktor yang asal
melemparkan segala ekspresi serta dialog, tanpa menjaga perasaan saat menemukan
arti dan maksud dari kalimat serta ekspresi tersebut. Atau bahkan seperti
penari yang menari begitu saja menggerakan tubuhnya, namun dia sendiri tidak
mengerti maksud gerakan dan apa yang dirasakanya. Kalau teman saya bilang dalam
istilah Bali namanya “Krejang-krejing”.
Bergerak begitu bebas, bahkan karena terlalu bebasnya sampai tak sempat mencari
lagi bentukan-bentukan lain dan kemungkinanya.
Hal detail itu
saya rasa sangat lengket bersarang di pikiran saya. Sebab saat menulis catatan
awal tahun ini pun, saya seperti mengingat-ingat kembali apa saja yang sudah
saya kerjakan pada tahun 2019. Begitu banyak pementasan, begitu banyak latihan,
begitu banyak bertemu teman baru, begitu cepat mengerjakan segala hal padahal
saya sendiri sepertinya belum mampu untuk mengerjakan itu. Terbukti dari begitu
banyak dan cepatnya proses-proses tahun kemarin, hanya sedikit serpihan yang
benar-benar membekas dalam pikiran maupun tubuh saya.
Itu karena saya merasa kurang detail dalam melakukan apapun. Kemudian saya menasbihkan diri sebagaimana orang-orang lain yang selalu berharap ketika bertemu dengan awal tahun, dengan segala doa dan keinginanya untuk hari-hari yang akan datang. Sepertinya sedikit doa dari saya sendiri untuk diri saya sendiri, agar selalu menjadi pengingat untuk diri sendiri agar lebih hati-hati. Mungkin dengan demikian saya dapat menghasilkan segala hasil yang lebih maksimal, dan kemudian berakibat baik untuk kelompok saya dan orang lain di sekitaran. Selamat Tahun Baru 2020 teman-teman, ingat untuk selalu hati-hati dan detail dalam melakukan apapun. Salam. [T]