Seni rupa Bali Utara selain lukisan atas nama Dalang Banyuning, Wayan Dasta dan I Ketut Gede Singaraja adalah seni patungnya. Hal tersebut saya jumpai pada display foto repro karya-karya seni dan dokumentasi kolonial di Buleleng pada pertengahan 1800an sampai awal 1900an di Museum Buleleng tahun 2014, dan memantik keingin tahuan saya untuk sedikit tidaknya memetakan seni rupa di wilayah Buleleng.
Dalam perjumpaan saya pada awal tahun 2017 dengan Ibu Hedi
Hinzler dalam proyek riset saya terhadap seni lukis I Ketut Gede Singaraja, Ibu
Hedi Hinzler membagikan data tentang presentasi power pointnya mengenai
karya-karya seni rupa Bali yang dipamerkan pada Pameran Kolonial Paris tahun
1930. Dalam lembar power point tersebut Ibu Hedi Hinzler melacak siapa yang
membuat patung kayu besar setinggi 170 cm pada pameran tersebut?
Ibu Hedi Hinzler pernah mengatakan untuk melacak jejak I
Ketut Gede Singaraja ia harus memeriksa
nota belanja akan tetapi hasilnya nihil, akan tetapi dalam catatanya juga
menyatakan bahwa C.M. Pleyte dikirim pada tahun 1899 bulan Agustus tanggal 9
untuk membeli dan memesan barang untuk dipamerkan di Paris. Waktu itu
diketahui Punggawa Sawan bernama Ida
Nyoman Karang dari Griya Gede Sawan(di
dalam catatan Ibu Hedi Hinzler akan tetapi di Desa Sawan dikenal dengan Griya
Kelodan Sawan)adalah seorang pematung handal dan bekerja sama dengan sekelompok
pematung dari Desa Menyali. Oleh sebabnya dalam bayangan saya wilayah Desa
Menyali dan Sawan adalah basis dari seni patung selain Desa Sangsit di timur
Kota Singaraja.
Potret Ida Nyoman Karang - Punggawa Sawan
Griya Kelodan Sawan: drawing W.O.J. Nieuwenkamp 1906 dan kini tahun 2020
Hal itu dikuatkan oleh gambar sketsa dari W.O.J Nieuwenkamp
yang menggambar gerbang atau pamedalan dari Griya Ida Nyoman Karang pada tahun
kunjungannya yaitu 1906. Dalam gambar tersebut dapat digambarkan bahwa gerbang
rumah Punggawa Sawan tersebut bergaya kolonial, di cat putih, besar, dengan
ukiran pandil khas ornamen Bali Utaranya. Tampak di dalam pintu gerbang Griya
Kelodan Sawan digambar agak samar gerbang menuju pura keluarga atau pemrajan
dan ditengahnya ada siluet figur manusia, mungkin untuk menggambarkan dimensi
besarnya gerbang pura keluarga ini.
Ibu Hedi Hinzler mengoknfirmasi ke Griya Kelodan Sawan pada
tahun 2009, dalam catatannya sebagai ciri otentik adalah perbandingan ukiran
ornamen Bali Utara pada pandil di atas daun pintu gerbang griya yang masih
dipertahankan oleh sebab pintu gerbangnya yang ternyata sudah berubah
(direnovasi) pada tahun 2008. Dan pandil itu juga saya pergunakan sebagai tanda
untuk meyakinkan saya bahwa tempat yang kunjungi adalah tempat Nieuwenkamp
menggambar gerbang tahun 1906 itu pada waktu kunjungan bersama teman-teman ke
Griya Kelodan Sawan pada tanggal 18 Januari 2020.
Setelah diijinkan untuk masuk ke dalam merajan Griya Kelodan
Sawan tentu saja saya menjumpai patung-patung yang sempat didokumentasikan
melalui gambar sketsa di atas kertas oleh Nieuwenkamp tahun 1906 dan foto-foto
dokumentasi Ibu Hedi Hinzler tahun 2009. Terdapat dua pelinggih gedong di dalam
merajan, yang satu pelinggih gedong yang besar dengan dua patung figur Dewa
Wisnu di sisi selatan dan Dewa Siwa di sisi Utara, sedangkan pada palinggih
gedong yang satunya di apit oleh dua patung juga, saya tidak berani memastikan
patung ini figur siapa yang jelas salah satunya memakai mahkota supit surang.
Patung-patung di Merajan Griya Kelodan Sawan
kiri: lotus dan dewa-dewi Hindu Bali di Pameran Kolonial Paris 1930; tengah: Siwa Guru karya Ida Nyoman Karang; kanan: Wisnu karya Ida Nyoman Karang. repro foto di Museum Buleleng 2014
Patung-patung yang terdapat pada merajan Griya Kelodan
setelah saya lakukan perbandingan terhadap patung-patung yang terekam pada arsip dokumentasi Pameran
Kolonial Paris sekilah nampak otentik namun ada perbendaan yang signifikan
tertama pada sisi proporsi. Yang menjadi ciri khasnya pada patung di merajan
griya adalah patung yang membawa pucuk bunga. Patung di merajan griya dibuat
dengan proporsi anatomi yang lebih panjang pada bagian tangan, kaki, badan,
sedangkan patung-patung yang dipamerkan di Paris tahun 1930 tersebut nampak
proporsif sekali pada anatomi.
Hal tersebut mungkin dikarenakan perbedaan bahan yaitu
antara batu padas dan kayu, atau mungkin dibuat lebih proporsional karena
bersifat pesanan, akan tetapi yang jelas posisi Ida Nyoman Karang saya rasa
sebagai orang yang penting di balik keputusan-keputusan eksekusi oleh
sangging-sangging dari Desa Menyali. Dalam hal ini Ida Nyoman Karang sebagai
undagi yang bertugas penting menata proporsi, menentukan ikonografi, dan
pemberian karakter pada patung-patung pesanan tersebut. Ya, sebagaimana kerja
kolektivitas keseni rupaan di Bali pada umumnya, peran undagi dan sangging
berbeda akan tetapi keduanya sangat penting dan harus berjalan selaras.
Selain patung-patung yang dibuat oleh Ida Nyoman Karang di
pura keluarganya dan juga yang dipamerkan pada Pameran Kolonial Paris 1930, ia
juga membuat sepasang pandil relief singa bersayap yang memegang hewan
menjangan dan satu buah pintu bergaya gebyog di dalam kompleks bangunan Griya
Kelodan Sawan. Ukirannya tidak begitu rumit, nampak besar-besar, di cat dominan
dasar cat merah dan dipoles warna emas prada. Menurut salah seorang keluarga
griya yaitu Ida Bagus Satya, sepasang pandil dan pintu gebyog ini adalah ukiran
terakhir yang dibuat oleh Ida Nyoman Karang.
Oleh sebabnya dapat dikatakan bahwa peranan Ida Nyoman Karang sangat penting dalam peta sejarah seni rupa di Bali Utara. Di dalam bayangan saya bahwa Ida Nyoman Karang selain sebagai seorang punggawa juga sebagai orang yang berperan terhadap hidupnya basis-basis seni rupa masa kolonial di Bali. [T]
MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang menggelegar, sinkronisasi koreo...
SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku di Kelurahan Beng, Gianyar, Bali. Di tengah orkestrasi aroma...
TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah sudah berapa ratu...
KESERIUSAN Wikan Satya terhadap musik rupanya tidak berhenti pada “Anacaraka”. Setelah karya itu mendapat banyak sorotan sebagai lagu anak-anak yang mengangkat Bahasa dan Aksara B...
JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad Yamin dan Soepomo menyampaikan pidatonya. Hari lah...
“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan, maupun perayaan hari raya....
Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung
Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang jalan desa, hingga di pusat-p...
MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun ini. Yang ramai diperbincangkan han...
INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah dan hasil keraji...
BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa. Dulu, toko buku itu selalu hidup. Lorong-lorongnya...