Bulan Juni Milik Empat Presiden
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
Niat baik, cara benar, merundukkan ego, diiringi tekad dan ketulusan, niscaya sampai di tujuan. Demikian nasihat orang tua, berlaku umum di segala bidang.
Tiap agama juga mengajarkan untuk berdoa pembuka ketika melakukan sesuatu. Dari doa baru bangun tidur sampai doa sebelum tidur dimiliki oleh hampir setiap agama, atau komunitas religius.
Bagaimana dengan pekerjaan membaca lontar atau menjadi perawat lontar? Penulis lontar? Adakah doa pembuka pekerjaan? Doa sebelum membaca lontar atau membersihkannya?
Ada doanya. Ada mantranya.
Dalam Lontar Pangastawa Pangraksa Atma, sebuah yang berisi berbagai kumpulan mantra, termasuk ada Dasa Bayu, Asta Mahabaya, Rudrakawaca di dalamnya, terselip di halaman bagian belakangnya beberapa doa terkait pembacaan dan penulisan aksara.
Beberapa mantra terkait menulis aksara, baca, membuka, menutup, sebagai berikut:
1. Mantra menulis lontar atau aksara:
"Om śarāswati pratisṭajatyasudā ya namah".
2. Mantra ketika salah menulis aksara dan terpaksa 'ngamatiang aksara' (mematikan aksara):
"Om śarāswaṭi prěliṇa ya namah".
Tentang 'ngematiang aksara' ini adalah sebuah pakem dalam penulisan aksara Bali, jika salah tulis tidak boleh mencoret. Jadi kalau salah menulis aksara, maka aksara dimatikan suaranya, diberi 'ulu' dan 'suku'. Huruf pun tidak terbaca atau mati.
3. Mantra memulai membaca lontar:
"Om saraswati suksma ya namah".
4. Mantra menutup lontar:
"Om saraswati kumrěbya ya namah".
5. Mantra ketika membuka lontar:
"Om saraswati gumlar ya namah".
Mantra dalam lontar ini sebuah pilihan. Bagi mereka yang mungkin masih punya kecanggungan membuka lontar dan berharap keselamatan dan kejernihan atau kelapangan hati ketika membaca dan bekerja, mantra ini bisa dipraktekkan. Jika selama ini telah memiliki mantra lain, atau tidak merasa canggung sudah terbiasa membaca tanpa doa, silahkan dilanjutkan kebiasaan yang sudah dijalankan sepanjang sudah merasa terberkati dalam aktivitasnya.
Pokok dari tujuan berdoa atau bermantra adalah menjamin keselarasan jiwa, pikiran dan badan, dengan pekerjaan yang dikerjakan. Menjamin keselarasan dengan semesta yang melingkupi apa yang sedang kita kerjakan. Bermantra adalah usaha untuk mengkoneksikan perasaan dan batin dengan apa aktivitas kita.
Tujuan orang Bali kenapa berdoa sebelum beraktivitas adalah agar 'metaksu'. Arti dari istilah 'metaksu' adalah punya kejernihan dan semangat kerja yang membuat orang yang ada di sekitar kita mendapat manfaat dan pancaran kejernihan hati kita. Diri yang melakukan pertama-tama mesti jernih dan penuh ketenangan serta berlimpah rasa senang mendalam atas apa yang dilakukan.
Doa dalam hati paling sederhana ketika membaca lontar adalah dengan membisikkan permisi pada pemilik sebelumnya, kepada penulis lontar yang telah mendedikasikan waktu dan mencurahkan hidupnya di masa lalu yang tujuan baiknya agar kita mendapat transmisi atau warisan pengetahuan suci yang mencerahkan dari masa lalu. Pada para penulis dan penjaga tradisi tulis di masa silamlah kita merundukan ego dan berterima kasih atas berkah pengetahuan yang telah diwariskan dengan susah payah dan penuh dedikasi.
Baik dengan membaca mantra, atau bisik dalam hati, kita merundukkan ego diri kita di hadapan para pendahulu kita yang telah berjasa besar menuliskan pengetahuannya, atau visi suci yang diterimanya. Dengan berdoa, disamping kita merundukkan diri pada para penjaga mewariskan tradisi pengetahuan itu, kita sedang membuka lapang hati kita untuk memasuki pintu masuk kandungan nilai dan isi pengetahuan suci dari masa silam. [T]
Catatan Harian 7 Januari 2020
“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak Gubernur Wayan Koster meray...
īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa pun yang bergerak di dunia yang bergerak in...
ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin ukuran gelasnya keliru, jenis su...
PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua adalah lokasi acara diselenggarakan. Siang hari, ...
Kenapa jagat sosmed Bali semakin dijangkiti fenomena: Ngandang Nganjuh. Secara harfiah, istilah ini menggambarkan tindakan yang melintang (ngandang) dan mendorong atau memaksak...
PAGI saat Hari Suci Kuningan, sebagian keluarga sudah mengenakan pakaian adat sebelum fajar menyingsing. Sebagian lagi masih sibuk menata banten, memasak, atau menunggu anggota ke...
DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan jinak. Ia juga sangat menyayangi majikannya. Selain Ica...
KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk, mendesis,mencakar-...
"Gemerlap lampu Manhattan tidak pernah mampu menggantikan cahaya seekor kunang-kunang." KALIMAT itu memang tidak pernah ditulis secara harfiah oleh Umar Kayam dalam cerpennya S...
DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s Door.” Ditulis oleh Bob Dyl...