Banyak
yang bilang, mari menyongsong tahun baru yang lebih baik. Yang buruk dibiarkan
lalu. Kita bawa cita-cita baik menuju tahun mendatang. Hal-hal yang terjadi di
tahun lalu, kita namai masa lalu, mengingatnya kini sebagai kenangan. Sementara
tahun baru adalah masa depan. Tempat tumbuh harapan yang kita andaikan sebagai
buah capaian diri. Maka masa lalu, masa kini, dan masa depan adalah tiga
rangkaian waktu yang bergerak seperti sungai. Di atasnya adalah tubuh kita.
Daun apung yang pasrah mengikuti alir waktu.
Oleh
Agustinus, seorang filsuf abad pertengahan, waktu dikategorikan menjadi dua,
yakni waktu objektif dan waktu subjektif. Waktu-luar dan waktu-dalam. Waktu
objektif adalah waktu kolektif di luar diri manusia yang ditandai dengan
hitungan tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit, dan detik. Sementara waktu subjektif
adalah waktu di dalam diri. Waktu eksistensial yang khusuk pada kualitas
persepsi manusia sebagai dasein (aku
yang meng-ada, aku yang me-waktu). Dalam pandangan lain, manusia bisa dikatakan
sebagai pusat waktu. Tak ada hulu bernama masa lalu, tak ada hilir bernama masa
depan. Yang ada hanya aku-waktu. Setiap hari adalah hari ini yang terhayati
sepenuh-penuhnya, terhayati sesungguh-sungguhnya.
Jika
dipikir, tentu begitu tegang manusia mengalami dua macam putar arus waktu ini. Waktu-luar
menuntut kita menjadi bagian dari arena kultural sebuah peradaban. Percepatan,
ketangkasan, efesiensi adalah standar yang mesti diperhatikan agar nilai kita tak
tertinggal dan senantiasa sejajar dalam masyarakat sosial. Sementara
waktu-dalam justru melarutkan kita pada dunia diri. Ruang renung yang suntuk
mengeloni kualitas penghayatan diri sebagai individu. Kedua hal ini saling tarik
menarik dan menjadikan manusia bingung, manakah sejatinya waktu yang mesti
dipercaya?
Aktor
teater barangkali merupakan salah satu yang paling terbuka menjadi ruang tatap
manusia sebagai makhluk yang mewaktu. Sebab pada kerja aktor teaterlah, masa lalu,
masa kini, dan masa depan hadir berkelindan pada satu dunia aktor bernama
panggung. Masa lalu ditandai dengan tokoh dalam naskah yang akan dipentaskan,
dengan konteks sosial yang terjadi di zaman naskah itu diceritakan dan dibuat.
Masa kini adalah proses aktor menghayati dirinya sebagai manusia dengan segala biografi
hidupnya, ditambah identitas sebagai aktor, serta proses penciptaan tokoh yang
akan dimainkan. Sedang masa depan adalah hasil aktualisasi aktor terhadap tokoh
yang dihadirkan di atas panggung pertunjukan.
Bisa
dibayangkan, bagaimana tubuh aktor mengandung begitu banyak waktu di dalam
tubuhnya. Waktu hidup sendiri sebagai aku-diri, waktu proses dalam menjalani
latihan keaktoran sebagai aku-aktor, lalu waktu peran yang akan dimainkan
sesuai konteks dan sejarah naskah sebagai aku-tokoh. Pada panggung pertunjukanlah,
penonton dapat melihat waktu manusia yang begitu panjang jika dijalani pada
kenyataan sehari-hari, kini dimampatkan dalam rangkaian alur, plot, babak,
adegan dan durasi pentas dalam tubuh aktor.
Pada
panggung pertunjukan pula hadir tawar menawar durasi pentas agar sesuai dengan
batas waktu kuat penonton untuk khusuk menyaksikan pentas. Di sinilah
kepiawaian aktor dituntut untuk mengelola segala waktu yang hadir dalam
panggung. Bagaimana sang aktor membawa waktu-diri, waktu-aktor, dan waktu-tokoh
di atas panggung, berinteraksi dengan waktu pemain lain, merespon waktu pentas,
dan mengatur waktu gerr dan haru para
penonton. Semua waktu terpusat pada diri aktor, sebagai tokoh yang bertugas mengemban
gagasan pertunjukan agar mampu memprovokasi cara pandang penonton atas kenyataan
hidup sekitarnya.
Di
Bali, pada 2019 lalu, kita cukup berbahagia karena disuguhi begitu banyak ragam
pentas yang mengingatkan kembali, bahwa panggung teater adalah ruang yang
paling mewaktu. Ada Abu Bakar dengan Teater Bumi yang mementaskan ‘Detik-detik
Proklamasi’, menghadirkan waktu sejarah Indonesia pada masa kemerdekaan. Ada
Putu Satriya Kusuma dengan Teater Selem Putih mementaskan ‘Budak dari Bali Untung
Surapati’ berdasarkan riset tentang perdagangan budak di Bali pada waktu
kolonial, serta Nanoq da Kansas dengan Bali Eksperimental Teater yang mementaskan
‘Pan Balang Tamak Reborn’, hasil dekonstruksi cerita rakyat Bali yang cukup
populer di masa lalu.
Semua
pentas yang telah disebutkan mempunyai kecenderungan sama yakni menghidupkan
kembali tokoh-tokoh masa lalu sebagai tema pertunjukan. Membawa waktu masa lalu
ke dalam waktu panggung hari ini. Ditambah lagi karena semua pertunjukan dipentaskan
pada rangkaian acara Festival Bali Jani 2019. Sebuah festival yang khusus
menyajikan seni-seni pertunjukan kontemporer Bali hari ini. Tentu jadi menarik
untuk dikuliti, bagaimana hubungan tema pertunjukan yang diangkat dengan
gagasan dalam festival? Apakah pemilihan tokoh yang diangkat ini terjadi hanya
karena keterpengaruhan seniman Bali satu sama lain, cara pandang dunia yang
mirip, atau memang kebutuhan untuk menghadirkan tokoh-tokoh masa lalu dalam
menjawab segala macam kenyataan yang hadir di Bali saat ini?
Pada
panggung yang berbeda, kita juga disuguhi pentas ‘Pembelaan Dirah’ karya Cok
Sawitri. Naskah yang pertama kali dipentaskan pada tahun 1999 ini kemudian
dipentaskan kembali pada tahun 2019 dalam acara Borobudur Writers and Cultural
Festival. Meski memunculkan ‘Dirah’ yang juga sebagai tokoh dari masa lalu,
pentas jadi punya varian gagasan lain ketika Cok menariknya pada persoalan
ketokohan ‘Dirah’ pada naskah dan keaktoran ‘Cok’ mememerankan tokoh pada
rentang jarak 20 tahun. Bagaimanakah perkembangan gagasan tokoh dan aktor kemudian?
Apa saja yang tumbuh dan berubah? Atau sejatinya 20 tahun yang terlewati tak
melahirkan perkembangan gagasan apapun lagi?
Lain
daripada itu, patut dipertanyakan pula strategi para sutradara dalam mentransfer
penghayatan akan waktu-luar dan waktu-dalam dirinya kepada para aktor. Sebab
aktor adalah pusat waktu dalam pertunjukan. Sama seperti manusia sebagai pusat
waktu bagi dunianya. Aktor tak hanya sekadar robot di atas panggung yang
dipakaikan kostum masa lalu, set artistik di masa antah berantah, serta gagasan
silang sengkarut antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Apakah para aktor
sendiri tahu pada waktu manakah ia berada? Jika tidak, alih-alih mempercayai panggung
sebagai ruang yang mewaktu, justru panggung jadi ruang yang kehilangan waktu.
Aktor
teater jadi tak ada bedanya dengan manusia-manusia yang kehilangan waktu-dalam
dan sibuk dengan runitinas mekanis waktu-luar. Minim kualitas, minim
penghayatan. Dalam konteks ini, waktu-dalam dan waktu-luar jadi semakin penting
artinya untuk dijadikan sarana melatih kemampuan keaktoran. Waktu-dalam
berfungsi sebagai ruang melatih kesadaran, menghayati diri sebagai tokoh utama,
yang menggerakan sejarah hidupnya sendiri. Sementara waktu-luar membuat manusia
peka atas kedudukannya, sebagai bagian kecil dari sejarah besar peradaban umat
manusia.
Alhasil, pentas tak hanya sekadar jadi hitungan angka-angka, meloncat dari panggung satu ke panggung lain, meloncat dari hari satu ke hari lain. Yang seketika kita sadari panggung-panggung telah habis, hari-hari telah terlewati dan tahun tiba-tiba saja sudah berganti baru. Demikianlah kemudian kita baru merasa kehilangan waktu. Maka, agar tak hilang lagi waktu di tahun 2020 ini, atas segala doa dan harapan kawan-kawan teater menyongsong tahun baru, saya pun turut berdoa dan berharap biar panjang waktu membuat pentas-pentas baru. Semoga saja, pentas-pentas yang baru ini bisa membuat penonton berdecak, “ini baru yang namanya pentas! Untung saja aku luwangkan waktu buat menontonnya!” [T]
Denpasar, 2020