Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Awal tahun 2020 juga dimanfaatkan sebagai momen baik untuk meluncurkan karya oleh solois asal Gianyar, I Made Juniartha alias Jun Bintang. Bukan Jun Bintang namanya jika tidak menampilkan sesuatu yang berbeda di setiap karya terbarunya.
Lagu berjudul “Merpati Ingkar janji” ini misalnya, ada banyak kejutan yang ia tampilkan dari hal terkecil semisal melibatkan talenta muda di bagian produksi video clip hingga hal terbesar yakni memadukan beberapa unsur musik (fushion) pada lagu itu.
Jun selama ini mungkin lebih dikenal sebagai solois dengan segudang karya yang mampu membuat baper, kini tampil lebih rock serta energik. Ia berdalih hal itu dilakukan sebagai upaya untuk me refresh diri dan adanya keinginan untuk mengumpulkan pendengar dari kaum adam, Ia beranggapan selama ini kaum hawa cukup mendominasi.
“Sebagai manusia pasti suatu ketika menemukan titik jenuh dan saya yakin semua individu mengalami hal itu. Jenuh saya di sini limpahkan ke hal positif di mana dalam lagu baru ini saya memunculkan idealisme sebagai seorang musisi,”katanya dalam sesi jumpa pers di Stel Peleng, Denpasar. Senin (13/1/2020).
Single yang akan dirilis resmi pada 15 Januari 2020 ini berkisah dari sudut pandang lelaki yang mengambil titik fokus tentang perselingkuhan. Sebenarnya, lanjut Jun Bintang, tidak semua wanita bisa menjaga janji. “Mencoba untuk menduakan cinta namun akhirnya gagal,”sambungnya.
Penyanyi yang hobi bermain motor besar (moge) ini memberikan alasan kenapa dirinya selalu melibatkan orang baru di setiap penggarapan karyanya. Banyaknya talenta di Bali, dukungan hingga apresiasi adalah jawaban kenapa dirinya melakukan itu. “Saya pernah berkata disetiap karya, saya akan mengajak talenta baru. Ini tujuannya untuk regenerasi dan mengangkat talenta yang ada di Bali,”pungkasnya.
Jun juga memberikan sebuah kode jika tahun ini dirinya akan merampungkan album solo pertamanya. Begitu juga band yang telah membesarkan namanya “Bintang”. Dua target besar itu akan dirampungkan setidaknya hingga tahun 2021. “Mohon doanya agar berjalan lancar,” tutupnya. [T]
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...