Natal tahun 2019, pukul
11.45. Pesawat saya menyentuh tanah Kathmandu yang kala itu diselimuti kabut.
Musim dingin di Nepal mewajibkanmu untuk membungkus seluruh bagian tubuh, tidak
terkecuali kepala hingga mulut. Udara begitu menusuk yang membuat mulut dan
hidung kering.
Tujuan saya bukanlah
Kathmandu. Namun, saya memiliki satu hari yang cukup untuk bersua Kuil
Swayambhunath dan Patan Durbar Square. Saya “menyamar” sebagai seorang Nepali
dan kebanyakan orang mengira saya Nepali hingga tangan saya meraih kamera dan
mengeluarkannya dari tas kecil. “Where are you from?” tanya seorang penjaga
Kuil. Ketika saya mendeklarasikan kewarganegaraan saya, digiringlah saya menuju
loket untuk membayar 200 Rupee (Sekitar Rp 25.000) untuk masuk ke Kuil,
meskipun saya sebenarnya sudah berada di atas sebelum jati diri saya ketahuan
di sana.
Saya tiba di Patan Durbar
Square ketika gelap sudah menyelubungi langit, pukul 05.30 sore hari. Ratusan
warga lokal memenuhi salah satu warisan UNESCO ini. Kebanyakan mereka
duduk-duduk santai dan mengambil foto. Sebagian besar terlihat bersama
teman-teman, keluarga, ataupun saudara. Waktu saya tak cukup lama, karena saya
harus mempersiapkan diri untuk perjalanan panjang keesokan harinya.
Pukul 06.45 pagi keesokan harinya, saya cukup terlambat untuk mengambil Micro Bus hingga mendapat tempat yang agak berdesakan dengan penumpang lainnya. 6 jam kemudian, saya sampai di Besishahar, tempat terakhir di mana jalan memiliki permukaan mulus. 6 jam selanjutnya saya harus tempuh bersama jeep, melewati tebing lembah Manang yang berbatu dan ber-es. Entah kenapa saya hanya memiliki sedikit rasa takut atau khawatir ketika melalui jalan penuh goncangan tersebut dan saya mempercayakan keselamatan saya sepenuhnya pada pak supir yang terlihat begitu santai dan tenang dengan pengalaman yang cukup melewati jalan seperti itu.
Akhirnya kami sampai di Chame, salah satu desa di Distrik Manang. Saya tiba di Teahouse pertama saya di Chame. Teh Susu yang disuguhkan benar-benar seperti surga setelah perjalanan panjang, dingin dan kering. Meski demikian, saya sangat-sangat dimanjakan dengan pemandangan memukau pegunungan di Distrik Lamjung sebelum sampai Distrik Manang.
Perjalanan dari Chame menuju Manang menggunakan Jeep [Foto Yoga Pramartha]
Suhu pada pagi hari
tanggal 27 Desember 2019 mencapai -12°C. Sebenarnya awalnya saya mendapat kabar
bahwa tidak ada Jeep menuju Desa Manang, karena es yang begitu licin dan salju
yang cukup tinggi yang membuat Jeep tidak dapat lewat. Namun, saya sangat
beruntung dalam perjalanan ini karena mendapatkan tumpangan Jeep menuju Manang.
Setelah 3-4 jam perjalanan, saya dan guide sampai di Desa Manang yang
terletak di ketinggian 3.540 meter di atas permukaan laut. Pemandangan puncak Gangapurna
(7.455 mdpl) dan Annapurna III (7.555 mdpl) di balik jendela kamar menantang
saya untuk menggapainya. Namun apa daya, saya bukan seorang keturunan Sherpa
yang mampu menaklukkan gunung-gunung di bentangan Himalaya. Kesempatan
untuk mengelilingi desa dan melihat Danau dan Glacier Gangapurna saja sudah
lebih dari cukup bagi saya.
Hari Sabtu, 28 Desember
2019 dengan suhu -16°C, saya mulai mengalami gejala ringan Altitude
Sickness. Semalam sebelumnya saya sama sekali tidak dapat tidur, kepala dan
leher sakit. Guide saya mengatakan bahwa obat pertama untuk Altitude
Sickness adalah turun menuju ketinggian yang lebih rendah. Saat itu,
sayangnya tidak ada Jeep yang berangkat dari Manang untuk turun ke bawah
sehingga kami harus trek selama 6-7 jam menuju Upper Pisang. Hal ini adalah
keberuntungan bagi saya karena selama sekian jam perjalanan turun saya
disuguhkan bentangan megah dan majestic lembah Manang yang sama sekali
berbeda dengan Indonesia. Saya tak henti-hentinya terkagum-kagum dan berpikir
“Apakah aku di dunia yang berbeda?” Namun sayang sekali, ketika mencapai Upper
Pisang, dan hanya tinggal 50 meter saja naik tangga saya menyerah dan
memberikan barang bawaan saya kepada guide saya hingga mencapai Teahouse
di Upper Pisang.
Pemandangan Desa Humde, trekking menuju Upper Pisang dari Manang [Foto Yoga Pramartha]
Di jadwal perjalanan,
seharusnya saya naik 200 meter dari Manang menuju Khangsar. Justru, saya turun
sampai Upper Pisang. Namun, sekali lagi ini saya anggap sebagai keberuntungan,
karena dari Upper Pisang saya serasa begitu dekat dengan Annapurna II (7.937
mdpl) yang begitu megah dan berdiri seakan menatap saya dan mengatakan bahwa
saya begitu kecil. Satu hari di Upper Pisang, saya berkesempatan mengunjungi
salah satu monastery di sana yang saat itu kosong karena para bhiksu
belum ada di sana. Saat itu saya berpikir betapa hebatnya perjuangan para orang
Sherpa dan Gurung di pegunungan Himalaya menjaga kesucian dan kesakralan alam
meskipun banyak sekali turis yang melakukan trekking di area tersebut.
Pemandangan Annapurna II, 7.937 mdpl dari Upper Pisang [Foto Yoga Pramartha]
Dari Upper Pisang kami
turun, sekali lagi tanpa kendaraan. Perhitungan kami kala itu, seandainya sama
sekali tidak ada Jeep yang melintas, berarti kami harus bermalam di Chame
sekali lagi. Seandainya kami menemukan Jeep, maka kami dapat turun lebih jauh
dan bermalam di Tal dengan pemandangan yang tidak kalah megah, namun tanpa
salju dan es. Sekali lagi, saya sangat beruntung karena setelah 3,5 jam
trekking turun, sebuah Jeep melintas dan kamipun naik di belakang bersama
barang-barang bawaan penumpang dan berdesakkan dengan 5 penumpang lainnya.
Setelah 3 jam perjalanan
yang memabukkan, semua terbayar dengan pemandangan hebat dari bawah lembah Desa
Tal yang berdampingan langsung dengan aliran Sungai Marsyangdi. Suhu sudah
semakin hangat, tingkat oksigen semakin tinggi dan tekanan udara semakin
rendah. Tal berada di ketinggian 1,700 mdpl, mirip dengan ketinggian Gunung
Batur. Tal merupakan desa terakhir yang kami kunjungi di Distrik Manang sebelum
akhirnya berangkat pulang menuju Kathmandu.
Begitu banyak pesan yang Himalaya sampaikan kepada saya. Yang pertama, saya harus menjaga dan menghargai diri dan keselamatan diri. Saya belajar untuk mendekatkan diri dengan diri sendiri dan semesta yang begitu megah dan luar biasa. Yang kedua, saya semakin membuka pikiran bahwa ada banyak hal yang tidak kita ketahui, pahami ataupun mengerti di dunia ini, sehingga kebijaksanaan harus senantiasa ditumbuhkan dalam hidup. Kehidupan orang Nepal yang jauh dari kata kemajuan membuat saya sadar bahwa mereka perlu bantuan kita, perlu lebih banyak turis baik yang bisa memberikan kontribusi positif bagi kemajuan Nepal dan Dunia.
Jika kalian cukup beruntung dapat membaca tulisan ini, mari hidup saat ini. Jangan sesalkan hari kemarin atau khawatirkan hari esok. Hiduplah hari ini, berpetuanglah dan tuliskan cerita luar biasa karena hidup hanya sekali. Dekatkan diri dengan diri sendiri, kuatkan mental dan fisik dan jadilah orang yang lebih kuat daripada sebelumnya. Tetap jaga dan lestarikan alam dan bantu mereka yang membutuhkan. Sekali lagi, hiduplah hari ini, pelajari banyak hal, berikan beribu cinta dan tertawalah selepas-lepasnya. Salam Damai. Namaste. [T]
Ini pergelaran tari Bali biasa, tetapi orang-orang yang hadir justru membludak. Maklum, pentas seni itu dibawakan oleh anak-anak dari Sekolah Luar Biasa (SLB), sehingga setiap sel...
GEMERLAP cahaya panggung di Gedung Ksirarnawa mempertegas para penari tampil dengan karakter dan busana yang berbeda. Beragam busana itu tentu bukan hiasan semata, tetapi mendukun...
Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan
Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan dunia, term...
SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean pelanggan yang datang silih berganti, sejumlah pegiat media dan...
SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong tangkinya. Seperti jutaan orang Indonesia lainnya, sa...
Kabupaten Buleleng, tepatnya di Desa Anturan, terdapat sebuah ritual peruwatan yang masih hidup dan diwariskan secara turun-temurun. Namanya Bebayuhan Sanan Empeg. Ritual inilah y...
DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini menimbulkan pertany...
PESTA Kesenian Bali (PKB) tahun 2026 ini telah memasuki tahun ke-48. Atmosfernya sudah tampak lewat berbagai atribut luar ruang yang dipasang, seperti baliho. Namun, entah mengapa...
DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat, Marx dan Marcu...
SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini Palembang dibakar matahari. 14 Juni 2026, tepa...