“Permasalahan sampah bukan hanya tanggung jawab
pemerintah semata, melainkan tanggung jawab kita bersama!” Itulah sepenggal kata
dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Buleleng Putu Ariadi Pribadi.
Tanggung jawab bersama, artinya, ya, semua warga turut
serta, bahu-membahu, menanggulangi sampah, baik sampah plastik maupun sampah
organik. Semua warga, ya, artinya, juga termasuk musisi, pemusik dan penyanyi,
semacam grup musik #AKEBULELENG yang dimotori Gde Kurniawan.
Maka, sebagai bentuk tanggung jawab bersama, #AKEBULELENG membuat Lagu Sampah. Judulnya memang
Lagu Sampah. Artinya tentu bukan lagu dengan kualitas sampah. Melainkan sebuah lagu
tentang penanggulangan sampah. Lagunya dibuat riang dengan lirik yang dipenuhi
pesan-pesan penanggulangan sampah. Misalnya, bagaimana mengelola atau
memisahkan sampah plastik mulai dari rumah untuk bisa didaur ulang. Video
klipnya dibuat ringan, sedikit kocak, meski lagunya bersisi pesan serius
tentang lingkungan.
Pejabat yang setiap hari mengurus masalah-masalah
sampah di Buleleng, Ariadi Pribadi, muncul dalam video klip dengan pesan
penting khas pejabat. Tentu saja, ia masuk di situ, karena Lagu Sampah bikinan
#AKEBULELENG memang dibuat untuk mendukung kinerja Dinas Lingkungan Hidup
Buleleng dalam menanggulangi sampah.
“Lagu ini dibikin sejak 2019 karena sejak lama kami inginpunya lagu tentang lingkungan. Yang simpel sederhana dan bisa buat kampanye mengajak warga sadar sampah,” kata Gde Kurniawan.
Setelah penggarapan lagu siap, Gde Kurniawan mencoba berkoordinasi dengan Kepala Dinas Lingkungan Hidup siapa tahu bisa diajak kerjasama dalam mewujudkan lagu itu, mulai dari rekaman hingga sosialisasi ke masyarakat, misalnya melalui sosial media. “Pak Kadis ternyata menyambut baik karena lagu ini bisa sebagai sarana kampanye tentang sampah untuk masyarakat,” katanya.
Proses rekaman pun berlangsung lancar, selain karena
#AKEBULELENG punya basecamp dan studio rekaman sendiri, juga karena para personil, yakni Pande Unyil
(vokal), Agus Jerink
(vokal), Gde Kurniawan
(gitar), Ngurah Noky (bass) dan Budi
Kurniawan (drums)
memang sangat
semangat mewujudkan lagu itu agar cepat selesai. “Jadi, ya, langsung
gass saja!” kata Gde
Kurniawan.[T]
Setiap bertemu orang yang bertanya, “Sudah kerja? Kerja di mana sekarang?” Saya kesal. Selalu kesal. Bukan lantaran karena tak punya pekerjaan. Namun betapa bingung mesti dengan ap...
Judul Buku: Cupak Tanah – Enam Naskah Drama
Pengarang : Putu Satria Kusuma
Penerbit : Mahima Institute Indonesia
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : xvi + 216 halaman
ISBN :978-60...
Lucu itu pembawaan, tak bisa dipaksakan. Tidak banyak orang yang fasih melucu. Kebanyakan orang gigih mencoba melucu, justru jadinya tidak lucu. Kalaupun kemudian ada yang tertawa,...
SETIAP zaman punya ciri khasnya masing-masing. Zaman kita saat ini adalah zaman ‘dunia maya’. Dan, setiap zaman selalu melahirkan sejumlah konflik. Zaman kita sekarang ini melahirk...
Bila ditanya, manakah karya sastra yang benar-benar mampu berbaur dengan segala hal, barangkali puisilah jawabannya. Sebagaimana ia diistilahkan dengan berbagai nama di setiap bida...
KETIKA ideologi komunis atau sosialis dikatakan bangkrut, lantas apa yang mendasari kedatanganku ke kuburan Karl Marx, lelaki yang identik dengan ideologi itu?
"Untuk memenuhi ras...
Bali memahami konflik dengan sangat bijaksana. Ia adalah konsep rwa binedha, pertentangan yang menjadi satu, pertentangan yang melahirkan dinamika dan keberlangsungan hidup.
Ada ru...
Judul Buku: EKSPLO(RA)SI TUBUH - ESAI-ESAI KURATORIALSENI RUPAPenulis: HardimanPenerbit: Mahima Institute IndonesiaTebal : viii + 307 ISBN : 978-602-18311-7-5 Buku Eksplo(ra)si Tub...
Judul Buku : Perempuan Tanpa Nama
Pengarang : Kadek Sonia Piscayanti
Penerbit : Mahima Institute Indonesia
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : x + 288 halaman
ISBN :978-602-18311-...
Berbahagia sekali saya masih diberi kesempatan untuk bernapas, kemudian tadi pagi masih berak dengan lancar, dan menyusun pidato ini dengan keadaan suhu tubuh serta kejiwaan yang n...