- Judul Buku: Ulun Danu – Pupulan Puisi Bali Anyar
- Penerbit: Mahima Institute Indonesia
- Cetakan pertama: Oktober 2019
Sebuah lagi buku lahir dari seorang pengarang muda Bangli, kali ini adalah buku antologi puisi bahasa Bali karya Erkaja Pamungsu. Buku kumpulan puisi ini berisi 99 puisi yang dikemas dalam satu judul besar Ulun Danu. Hadirnya buku antologi ini membawa angin segar pada dunia sastra Bali modern, khususnya di Bangli. Bangli, kabupaten yang tak terlampau luas ini, belakangan begitu luas menyebarkan semangat kehidupan sastra Bali modern.
Betapa tidak, banyak
lahir penulis-penulis muda yang punya daya dorong kuat pada tumbuh dan majunya
sastra Bali modern. Bangli, dalam 3 tahun terakhir memberikan bagitu banyak
kejutan-kejutan atas karya para penulis mudanya. Bangli, dinginnya ternyata
menyimpan bara semangat yang meledak, dan memuntahkan lusinan penulis muda,
berbakat dan bernyali. Bakat itu diantaranya ada dalam sekumpulan antologi Ulun
Danu. Berikut sekelumit catatan pembacaan saya pada sekumpulan kata dalam
bait-bait Ulun Danu.
Sebagai langkah
membuka gerbang perjalanan kata-kata, kita mulai masuk dari sampul buku Ulun
Danu. Sampul buku ini menggunakan sebuah lukisan dengan panorama gunung batur dengan
perspektif tampak atas. Lukisan yang digunakan mampu mewakili judul buku dan
sebagian besar isi dalam buku. Lukisan menggunakan perpaduan warna dasar gelap,
dan sampul buku seirama dengan warna-warna doniman pada lukisan cover depan.
Meski tidak dirancang
khusus untuk cover buku ini, namun tata letak serta desain cover sama sekali
tidak mengganggu estetika lukisan. Kita tahu, bahwa desain cover adalah satu
bentuk seni tersendiri, tentunya desainer cover punya hak penuh atas segala
material yang akan menjadi cover, sekalipun materialnya juga berupa karya seni,
lukisan misalnya. Nah, untuk buku ini desainer cover berhasil memadukan estetika material (lukisan)
dengan estetikanya dalam merancang cover.
Sayangnya, identitas
lukisan tidak dimunculkan dengan detail dalam halaman perancis buku cetakan
pertama ini. Lukisan yang menjadi cover buku dapat diibaratkan sebagai lukisan
yang sedang ada dalam ruang display pameran. Sebab ia akan dipajang, misalnya
di rak buku toko, rak buku perpustakaan, atau rak buku warung-warung kekinian,
atau di sebuah co-working space, ia akan dipajang dan dinikmati setiap mata.
Maka idealnya identitas lukisan dengan detail mesti dicantumkan, sehingga ia
secara total dapat tampil dalam ruang pamerannya.
Ulun Danu adalah
judul yang dipilih pengarang sebagai sebuah representasi kesadaran
sosio-ekologi dan sekaligus kesadaran spiritual. Sehingga terdapat judul dan
tema puisi berkaitan dengan alam dan spiritualitas yang terjadi di seputaran
Ulun Danu khususnya Batur. Nyaris 70% latar dari puisi dalam buku ini adalah
Ulun Danu Batur dan tentu saja bentang alam gunung Batur. Bagi pengarang, Batur
memiliki tempat tersendiri, selain sebagai tanah kelahiran, Batur juga sebagai
pusat pengarang mengalirkan ide dan bermuara pada bait-bait puisi. Dua hal ini
disampaikan pengarang dalam bahasa protes, maupun dalam bahasa pengungkapan
makna.
Bahasa pengungkapan
makna, dalam hal ini pengarang menghadirkan bentuk-bentuk pengungkapan makna
filosofis-praktis yang dimiliki oleh unsur-unsur alam khususnya danau (air) dan
gunung. Makna filosofis ini dijelaskan dengan bahasa-bahasa yang lebih
sederhana dari bahasa yang ditawarkan pada tataran teks-teks tradisional
seperti purana, babad, prasasti, maupun tattwa. Bertebaran cukup banyak
istilah-istilah atau nama tempat (toponimi) yang akan terdengar asing bagi
pembaca awam, apalagi pembaca yang jauh dari tradisi teks kuno. Misalnya kata
Bangsul, Mel, Wingkang, Tampurhyang (nama lain Gunung Batur), usaha ini
menghadirkan suasana yang sangat arkais pada puisi-puisi tersebut. Atavisme
hadir bukan dalam bentuk puisinya, namun dalam pengungkapan
terminologi-terminologi atau istilah-istilah tertentu.
Bahasa protes atau
ungkapan kegelisahan hadir pula dalam beberapa puisi. Gambaran ketidakpuasan
pengarang atas situasi sosial-ekologi disampaikan pengarang dengan bahasa yang
tegas, keras dan penggunaan tanda seru (!). Penggunaan tanda seru pada
puisi-puisi protesnya menunjukkan bahwa pengarang sedang dalam luapan emosi,
bisa jadi cenderung marah, sedih, atau terlampau kesal. Bahasa protes dan keras
yang digunakan pengarang adalah bahasa yang keras dalam pandangan pengarang,
rasa bahasa “keras” yang digunakan oleh Erkaja barangkali memiliki rasa bahasa
yang tidak sekeras pengungkapan protes pengarang lain, misalnya Putu Supartika.
Pengaruh teks-teks tradisional cukup kuat pada Erkaja dalam berlaku, termasuk
protes sekalipun, cenderung “makulit” dan simbolik.
Kehadiran
bentuk-bentuk kegelisahan adalah sebuah perjumpaan pengarang atas kesenjangan
kesadaran manusia pada kondisi alam maupun sosial-politik. Puisi Ulun Danu
#2 samapai #4 adalah tiga diantara ungkapan protes pengarang pada
relasi manusia-alam yang tak lagi harmonis, pengarang berada pada posisi
menyalahkan manusia atas kondisi alam yang tak lagi bersahabat, dan manusia
hanya mengeja waktu menimpakan kealpaan mereka pada Hyang Kuasa. Semuanya
adalah ujung dari rendahnya kesadaran ekologi manusia hari ini. Pada posisi
ini, Erkaja menjadi pembela alam-ekologinya dan melawan kuasa lingkungan
sosialnya sendiri.
Puisi Dasamuka,
Angkét, Hoaks, Rekonsiliasi adalah bagian dari puisi protes sosial
pengarang pada kondisi sosial politik. Keseharian penulis sebagai seorang
wartawan, membuat Erkaja sangat fasih membaca situasi sosial-politik yang
acapkali ia wartakan. Hal ini membuatnya melampiaskan segala bentuk protes pada
situasi sosial-politik dalam bentuk puisi. Tentu saja luapan protes ini tak
mampu ia curahkan melalui ranah jurnalistik, maka puisi jadi alternatifnya.
Antologi ini adalah media
penyampaian dan penyimpanan memori yang bersifat individu maupun kolektif. Pada
puisi-puisi yang berjudul Rarud dan Batur, pengarang menyampaikan
memori kolektif masyarakat Batur tentang tragedi letusan besar Gunung Batur. Puisi
Rarud, adalah kisah tentang gambaran pengungsian akibat letusan Gunung
Agung 2017. Kemudian puisi Batur yang berjumlah 8 buah, juga
merupakan penggambaran sejarah letusan Gunung Batur tahun 1917 dan 1926, hingga
peristiwa upacara besar 1935 di Ulun Danu Batur pasca kembalinya masyarakat
Batur dari pengungsian di Bayung Gede.
Dua letusan besar ini
yang kemudian membawa dampak besar pada perubahan lokasi pemukiman dan Pura
Ulun Danu Batur. Sepuluh puisi terakhir adalah menyimpan memori personal
penulis tentang rasa sedih yang cukup mendalam, beberapa kata yang hadir dalam
10 puisi terakhir dapat dipahami sebagai ekspresi kesedihan tersebut. Ini
adalah bahasa yang sangat personal dan berkaitan dengan masalah paling individu
yang dialami oleh penulis, barangkali ini adalah titik masalah yang paling
membuat pengarang tertegun, berhenti, bernafas, sehingga bagian ini yang
dijadikan karya dan didokumentasikan dalam buku ini. Tentu saja memori personal
ini adalah peristiwa yang paling ingin disimpan oleh pengarang sepanjang kurun
waktu tertentu, hingga ia mewakafkan kata-kata pada peristiwa personal
tersebut.
Beberapa puisi dalam
buku ini adalah catatan perjalan, diantaranya tampak pada puisi tampak, Iswarnabhumi,
Galang, Akah. Empat puisi ini tampaknya dikerjakan di Thailand
berdasarkan lokasi yang dicantumkan dalam bagian akhir penulisan puisi. Catatan
perjalanan ini menarik, sebab apa yang menjadi catatan penulis adalah apa yang
menjadi kecenderungan bidang yang disukai oleh penulis. Karena penulis tertarik
pada bidang sejarah, teks dan arkeologis, maka catatan yang lahir adalah
catatan seputar tiga hal tersebut atas lokasi yag dikunjunginya. Catatan
perjalanan pada lokasi-lokasi yang dikunjungi bukan bentuk catatan perjalan
tentang apa yang ditemui hari ini, namun peristiwa-peristiwa masa lalu yang
berkaitan dengan lokasi yang dikunjunginya.
Puisi-puisi dalam
buku ini tidak memakai huruf kapital di awal kalimat, hal ini mengingatkan kita
pada pengarang sastra Bali moderni Made Sanggra. Jika Made Sanggra secara total
tidak menggunakan huruf kapital dalam setiap puisinya, Erkaja tetap menggunakan
huruf kapital hanya pada nama, lokasi, dan hari. Karena ini adalah karya
pertama, jadi belum bisa dipastikan bahwa tiadanya huruf kapital pada awal
kalimat seperti syarat PUEBI adalah identitas dari pengarang. Sebab ini adalah
sebuah buku awalnya, sehingga identitasnya dalam karya ini tidak lantas menjadi
identitas kepengarangannya. Melihat bahwa hanya identitas/ikon-ikon religius
saja yang mendapat keistimewaan menggunakan huruf kapital, dapat saja diduga
bahwa pengarang hendak menyampaikan pesan bahwa kon-ikon religius tersebut
memiliki posisi yang tinggi dan patut mendapat penghormatan secara bathin pun
fisik. Ini salah satu jalan pengarang melakukan persembahan, persembahan
kata-kata pada ikon-ikon yang berhuruf kapital. Sastra adalah persembahan dalam
hal ini.
Barangkali hal yang paling menggelitik adalah kehadiran nama pengarang Erkaja Pamungsu, ini adalah nama pena, nama samaran. Tentu saja ada banyak motif hadirnya nama pengarang dengan bentuk samaran. Tradisi ini adalah hal yang umum pada tradisi sastra tradisional di seluruh dunia. Pada kesadaran paling tinggi seorang sastrawan tradisional, hasil karya yang diciptakan adalah sebuah karya persembahan, baik itu persembahan pada persona tertinggi yang dipuja, atau pada komunitas kolektif mereka. Karena itu persembahan, mereka merasa tak perlu mencantumkan nama terangnya.
Pun demikian pada beberapa pengarang sastra Bali modern, beberapa diantaranya menggunakan nama samaran. Namun yang menarik pada Erkaja Pamungsu adalah pada bagian “indik pangawi” dicantumkan foto dan nama asli dari Erkaja Pamungsu. Kejadian ini sungguh tak lazim dalam sastra Bali modern, seolah ingin menyembunyikan identitas, tapi justru memberi ruang terbuka pada identitas aslinya, ini menggelitik saya. Apa yang dilakukan Erkaja (Eriadi) ini lebih vulgar dari Nirguna, temannya sesama pengarang muda Bangli.
Puisi-puisi dalam
buku ini ternyata tidak sesimbolik puisi pertama Purwa [Ha Na Ca Ra Ka]. Puisi
pertama ini sangat simbolik, ini adalah salah satu puisi yang paling kuat
secara isi dalam buku ini. Sesungguhnya Erkaja punya potensi untuk mencipta
puisi-puisi simbolik serupa ini karena memiliki latar dan ketertarikan pada
teks-teks kuno. Hanya terdapat sebuah puisi dengan tipologi yaitu Bakti, puisi
ini memiliki rima sama, ada pula kesan naratifnya, tapi dengan bantuan
tipografi yang ciamik ini, pembaca disuguhkan pada interpretasi bentuk atas
susunan kata. Tipografi lebar ke simpit, kemudian dari sempit kembali ke lebar.
Ini tentu saja sejalan dengan makna Bhakti yang disampaikan melalui puisi ini.
Puisi ini sukses menyatukan antara keterpaduan puisi secara tipografi dan isi.
Pengarang sastra Bali
modern yang dekat dengan dunia sastra tradisional semestinya bisa lebih
mengeksplorasi simbol baik dalam bentuk kata maupun tipografi. Mereka punya
kekuatan atau contoh dari karya-karya tradisi seperti kidung Padma Muter. Tapi
konsekuensinya adalah, karya simbolik akan jadi karya yang tidak mudah
dipahami, tidak mudah dipahami artinya tak banyak pembaca, tak banyak pembaca
artinya bukunya sing “laku”. Sing laku dibaca maupun dianalisis sebagai bahan
riset, artikel, skripsi dan sebangsanya di dunia pendidikan formal. Akhihrnya
tidak terjual secara ekonomi maupun akademik, ya,,tapi memang sastra akan
memilih sendiri pembacanya, ia sejatinya tercipta tidak sepenuhnya untuk
dijual.
Puisi-puisi lain
masih terlihat seperti narasi yang kemudian dipenggal-penggal menjadi bait-bait
puisi. Memang Erkaja berhasil menghindar dari tipikal puisi berima sama sebagai
keidentikan penulis puisi pemula. Namun sepertinya ia sulit menghindari pula
narasi yang dipenggal-penggal jadi bait, ini salah satu ciri khas penulis
pemula juga, contohnya puisi Patitip (Jro Mangku Dalem) hal.2. Apakah
puisi yang seperti ini salah? Tidak ada karya sastra yang salah, ini adalah
proses seorang yang sedang belajar dan menunjukkan kematangan karyanya kelak.
Melihat keseluruhan
garis besar dari antologi karya Erkaja, dapat dipastikan pengarang ini punya masa depan karya yang
akan kian baik. Erkaja hanya perlu mengasah kemampuannya untuk peka dalam
menyampaikan simbol-simbol pada teks tradisi di tengah puitika modern. Jadi
bukan hanya memakai ikon-ikon atau istilah arkais pada teks tradisi saja untuk
seolah meninggikan karya atau seolah-olah membuat karya menjadi serem karena
bertebaran kata-kata arkais dari Jawa kuno.
Hal ini bisa jadi ciri khas atau barangkali identitas kolektif sastrawan Bangli, sehingga lain waktu barangkali akan bersama-sama membuat antologi puisi simbolik, nah ini bakal seru jika mampu terwujud nyata. Kemampuan mengolah simbol-simbol dan makna ini sangat berhasil pada Nirguna, dan Pande Jati sesama Bangli yang saya pakai contoh. Bangli hari ini paling besar potensi pengarang sastra Bali modernya. Mereka punya sekumpulan anak muda yang militan atau sing ngelah gae (mungkin), lalu membangun atmosfir positif dengan rajin mengikuti dan menggelar acara sastra. Semoga atmosfir sastra Bangli kian panaskan sastra di Bali, itu saja cukup... [T]