SEEKOR paus terlihat
mencolok. Tubuhnya dipenuhi tombak. Paus itu meregang nyawa. Menunggu waktu
sebelum akhirnya takluk di tangan para nelayan. Kelak, saat sampai di tepi
pantai, dagingnya akan dibagikan pada yang ingin.
Paus itu, menurut dugaan
saya, adalah paus sirip. Paus yang memiliki ukuran yang cukup besar,
dibandingkan kerabatnya yang lain.
Paus itu begitu
mencolok. Sehingga saat memasuki ruang galeri Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Pendidikan Ganesha (FBS Undiksha), mata akan langsung tertuju ke
sana.
DIBURU LAGI - KARYA I KADEK JONING PRAYOGA dalam Pameran Seni Rupa Mahasiswa Undiksha, Desember 2019
Sejak Kamis (26/12)
lalu, mahasiswa yang kini ada di Semester VII jurusan Pendidikan Seni Rupa
Undiksha, menggelar pameran seni rupa. Mereka wajib menghadirkan karyanya.
Entah kriya keramik, kriya kayu, kriya tekstil, desain komunikasi visual, kriya
logam, grafis, prasimologi, atau fotografi. pameran itu rencananya akan
berlangsung hingag Kamis (2/1) nanti.
Salah satu karya yang
menarik disimak adalah karya I Kadek Joning Prayoga berjudul “Diburu Lagi”.
Benda-benda daur ulang diolah sedemikian rupa hingga menyerupai paus yang
tengah diburu. Ada kengerian, tragedi, kegelisahan, sekaligus kritik dalam
karya itu.
Paus yang kini
populasinya tengah terancam, diburu kembali dengan alasan budaya. Padahal,
mamalia laut itu tengah berjuang. Perubahan iklim secara sistematis memberi
dampak pada hewan ini. Belum lagi masalah sampah yang kerap ditemukan di dalam
perut paus yang mati terdampar.
Soal perburuan paus,
setidaknya ada dua negara yang melegalkannya. Indonesia dan Jepang. Di
Indonesia, perburuan terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tepatnya di
Lembata. Setiap tahunnya paus diburu secara tradisional. Paus biru dan paus
hamil, terlarang untuk diburu.
Sementara di Jepang,
tahun ini pemerintah melegalkan perburuan untuk kepentingan komersial.
Sebelumnya Jepang telah melakukan moratorium sejak tahun 1986 silam. Meski
begitu, perburuan tetap berlangsung dengan dalih penelitian. Mengutip tirto.id,
pada 2018, ada 333 ekor paus yang ditangkap oleh Jepang dengan dalih
penelitian. Tapi pemburu paus diduga menjual hasil tangkapannya untuk diambil
dagingnya.
Tahun 2019, Pemerintah
Jepang membuka keran izin perburuan untuk 227 ekor paus yang hanya boleh diburu
sejak Juli sampai Desember 2019. Kuota sebanyak 227 ekor itu diperuntukkan bagi
Paus Minke 52 ekor, Paus Bryde 150 ekor, dan Paus Sei 25 ekor. Mirisnya Paus
Sei masuk dalam daftar merah perburuan yang diterbitkan International Union for
Conservation of Nature (IUCN).
Lewat karyanya itu,
Joning secara lugas dan tegas menyampaikan kritik dan kegelisahannya terhadap
aktifitas perburuan paus ini. Paus yang kini harus berjuang bertahan di tengah
tekanan perubahan iklim dan munculnya pulau-pulau sampah di laut lepas, kini
harus bertahan pula dari perburuan yang dilegalkan.
Kegelisahan tentang alam
juga dihadirkan lewat karya I Putu Hendy Prabangkara. Hendy menghadirkan karya
berjudul “Perjuangan Untuk Merdeka”.
Sebatang kayu dililit
oleh seekor naga. Sementara tiga orang lainnya, berusaha membunuh naga
tersebut. Salah seorang diantaranya membawa bendera For Bali yang lekat dengan
gerakan Tolak Reklamasi Teluk Benua.
Karya Hendy jelas lahir
atas kegelisahannya terhadap rencana reklamasi di Bali Selatan itu. Orang-orang
itu, tentu saja para aktivis yang berjuang melawang naga. Saya menduga, naga
itu merupakan metafora dari pengusaha kakap yang ada di Indonesia. Tak sulit
memahami naga yang dimaksud. Bila penasaran, silahkan searching kata
kunci 9 naga Indonesia di google.
Selain kritik ada juga
kemungkinan-kemungkinan baru yang ditawarkan para perupa. Salah satunya karya
berjudul Ringkasan Injil milik Yohanes Soubirius De Santo.
Prasi yang biasanya
hanya menggambarkan kisah pewayangan, kini menghadirkan kisah-kisah Kristiani.
Yohanes menuangkan Ringkasan Injil atau Doa Rosario dalam prasi. Total ada 20
lembar prasi yang dibagi dalam empat kelompok kisah.
Kisah pertama berjudul
Mysteria Gloriosa, yang merupakan peristiwa mulia dalam Kitab Injil. Kisah
kedua, yakni Mysteria Gaudiosa yang merupakan peristiwa gembira. Kisah ketiga
adalah Mysteria Dolorosa yang berarti peristiwa sedih. Kisah terakhir adalah
Mysteria Luminosa yang artinya peristiwa terang.
“Karya ini menggambarkan
dari kelahiran Yesus sampai wafatnya Yesus. Saya ingin menggali peluang baru.
Makanya saya angka tema kristiani, tapi menggunakan teknik dan material tradisi
seperti prasi. Biasanya kan hanya kisah pewayangan seperti
arjuna wiwaha atau ramah shinta. Saya mencoba memasukkan nuansa keyakinan
saya,” ujar Yohanes.
PERJUANGAN UNTUK MERDEKA - KARYA I PUTU HENDY PRABANGKARA
RINGKASAN INJIL - KARYA YOHANES SOUBIRIUS DE SANTO
Dalam pameran ini,
sebenarnya ada pula sejumlah karya yang kurang matang. Sebut saja “Dream
Catcher” karya Margia Saspina. Karya ini terkesan cari aman baik dari segi
penataan maupun bentuk. Upaya menghadirkan dream catcher sebagai
sebuah karya masih belum berhasil. Menghadirkan dream catcher sebagai
motif tenun atau motif batik, tentu lebih relevan.
Selain itu karya
videografi I Gede Ari Prasta juga cenderung cari aman. Ari memilih menghadirkan
karya berjudul “Video Profil Pendidikan Seni Rupa”. Melahirkan karya berupa
videografi advertising atau film pendek, jelas lebih mengena.
Kondisi itu diakui Dosen
Jurusan Pendidikan Seni Rupa Undiksha, Dr. Hardiman, M.Si. Menurut Hardiman,
para perupa idealnya harus menguasai bahan atau alat dalam berkarya, dan harus
menyampaikan pesan dalam karyanya. Masalahnya, perupa yang berpameran, masih
ada yang belum menuntaskan penguasaan terhadap bahan dan alat.
“Jadi akhirnya yang
diselesaikan, perkara bagaimana dia menguasai bahan dulu. Muatan dalam
karyanya, terbaikan. Ya karena sibuk menguasai bahan,” katanya.
Menurutnya banyak karya
yang belum matang secara teknis. Masalah ini pun berdampak sistemik pada
persoalan pesan yang belum sampai kepada penikmat seni.
Hardiman menduga masalah
itu muncul karena kendala waktu. Para mahasiswa harus menempuh mata kuliah seni
khusus selama satu semester. Pada semester yang sama, mereka juga harus
mengikuti Program Pengalaman Lapangan (PPL) selama 3 bulan. Sehingga waktu dan
intensitas berkarya pun terbatas.
“Tahap awal pasti akan
berhadapan pada kendala bahasa (pesan). Yang penting selesai dulu. Selesai
bukan sebagai pencapaian, tapi selesai untuk memenuhi kewajiban saja,” ucap
Hardiman.
Para mahasiswa setidaknya memiliki kesempatan sekali lagi untuk mematangkan penciptaan karya. Setidaknya itu bisa dilakukan pada semester mendatang. Apabila memilih jalur pengkajian, mereka harus menyelesaikan skripsinya secara matang. Sementara bila memilih jalur penciptaan, mereka harus berkarya lagi dan melakukan pameran kembali untuk menyelesaikan tugas akhir. [T]
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...