Bicara soal fotografi, tentu perbincangan
tak jauh-jauh tertuju pada yang namanya kamera. Saat melihat orang menenteng
kamera, khususnya ketika saya memikirkan bagaimana membuka tulisan kali ini,
entah kenapa ingatan jadi tertuju pada pengalaman masa kecil. Betapa saat itu, saya
merasa kamera menjadi barang mahal yang tak sembarang orang bisa memakainya.
Jika bukan wartawan, pastilah ia fotografer. Jika ia fotografer, tentu foto-foto
yang dihasilkan bukan sembarang foto.
Memang, begitu naif pikiran saya kala itu,
hampir sama naifnya dengan pikiran yang beranjak dewasa kini, ketika kian lazim
menatap orang penantang-penenteng membawa kamera. Entah memang bisa membidik
dengan benar atau hanya sekadar gaya. Namun pada mereka yang menenteng kamera dalam
acara teaterlah saya masih meyakini, bahwa orang-orang ini pasti benar-benar
fotografer. Bagaimana tidak? Jika cuma fotografer sekadarnya, dijamin 100% ia
takkan memilih teater sebagai objek foto. Jangankan memoto, datang saja belum
tentu ingin.
Misal ia adalah fotografer sekadar pingin
cari cewek, cewek seperti apa yang bisa difoto dalam pertunjukan teater yang
kebanyakan ditutupi make up? Iya, kalau memainkan karakter perempuan pesolek,
kalau memerankan tokoh nenek-nenek? Betapa sial nasib mereka. Lain lagi dengan
fotografer sekadar cari uang, teater tentu tak akan mampu memberi mereka
peluang materi selain hanya ucapan terima kasih. Apalagi fotografer sekadar
eksis di instagram. Jelas, teater bukanlah pilihan objek yang tepat jika
dibandingkan dengan view pemandangan, acara budaya dan tradisi yang
mahapariwisatanya bagi kelestarian Bali.
Dari sekian banyak fotografer yang bertebaran
ini, adalah Agus Wiryadhi Saidi salah satu fotografer yang senantiasa hadir
secara sukarela untuk mengabadikan pentas teater. Pada 28 November lalu, pada
diskusi ‘Pertimbangan Fotografis dalam Pentas Teater’ acara Parade Teater
Canasta 2019, kami cukup beruntung menyimak Guswier ngobrol ihwal proses
kreatifnya selama 15 tahun dalam mendokumentasikan pertunjukan teater.
Secara implisit, Guswier menjelaskan bahwa
foto teater bukanlah sebatas foto dokumentasi atau foto berindah-indah yang menggambarkan
kegarangan atau kegantengan wajah aktor di atas panggung. Lebih dari itu, foto
teater adalah foto peristiwa di atas peristiwa yang melahirkan peristiwa.
Artinya, teater yang notabene merupakan
pemanggungan peristiwa sehari-hari, bertransformasi jadi peristiwa baru baik
di mata penonton dan fotografer. Ketika dibekukan dalam mata kamera, ia hadir
sebagai bentuk peristiwa tersendiri lagi.
Dalam konteks ini, kerja fotografi teater
sebenarnya beda tipis dengan fotografi jurnalistik yang kerap diungkapkan
sebagai satu gambar sejuta kata. Foto teater juga berupaya untuk melahirkan sejuta
kata atau narasi lain di luar apa yang ‘tampak’ dalam fotonya. Bagaimana posisi
bidik foto jurnalistik misalnya, yang fokus pada sepatu tentara dan senjata api
dengan berjubel rakyat yang duduk saling peluk sebagai latarnya, begitu pula
kualitas yang hadir dalam pertimbangan fotografer teater dalam menentukan
pilihan bidiknya di tengah permainan aktor, set properti, dekor dan komposisi pentas.
Lebih khusus lagi, pada kerja fotografi
teater, hadir tawar-menawar fotografer dalam menyesuaikan cahaya, desain
panggung, penonton dan durasi pentas. Jika diumpamakan, fotografi teater
merupakan seni melukis cahaya dalam medan perang berdurasi, sesuai durasi
pentas teater. Sementara dalam fotografi jurnalistik, perang bisa berhari-hari
lamanya, disertai kemungkinan tewas yang senantiasa menghantui sang fotografer.
Sedang pada foto teater, tewasnya fotografer adalah selama pentas berlangsung,
ia tak mendapatkan foto yang membuat dirinya puas. Lebih-lebih setelah pentas,
ada pemain teater yang minta foto kepadanya, ‘Pak.. tadi bapak foto saya, kan?’
‘Ha? Ehm… ah.. ehm.. coba ta cek dulu di
kamera, ya..’
Lalu…..
Tewas.
Demikianlah, foto jurnalistik dan foto
teater punya kecenderungan yang mirip namun tak sama. Yang paling berbeda
mungkin adalah apresiasinya di ruang publik. Hingga kini, kian banyak
penghargaan yang dibuka untuk kerja-kerja foto jurnalistik, seperti Pulitzer,
NPPA, Picture of The Year International dan lain sebagainya. Ini tentu jauh berbeda
dengan foto teater yang notabene seringkali disikapi sama dengan foto dokumentasi
biasa. Bukan hanya oleh penikmat foto saja, bahkan oleh seniman teater dan
pihak penyelenggara pentas sendiri. Buktinya, seberapa banyak sih digelar acara yang khusus
mendiskusikan fotografi dalam teater atau memberi ruang karya seni fotografi
teater untuk berhadapan pada panggung publik?
Dalam ingatan saya sendiri, sedari tahun
2011, hanya ada dua acara yang secara khusus menghadirkan karya fotografi teater
di Bali. Pertama adalah pameran foto pentas ‘Kereta Kencana’ karya Iuginne
Iunesco yang diselenggarakan oleh Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha. Pameran
foto yang bertempat di Kampus Bawah Undiksha Singaraja ini menyajikan foto-foto
karya fotografer yang sempat membidik pentas Kereta Kencana dalam acara Parade
Teater Arti Foundation 2011. Hardiman Adiwinata, sebagai sutradara pentas
sekaligus inisiator pameran saat itu meyakini, bahwa teater tak boleh hanya
berhenti pada panggung semata. Fotografi justru merupakan satu medium yang
berpotensi melahirkan narasi-narasi lain di luar konteks pertunjukan teater itu
sendiri.
Kedua adalah pameran Fotografi “Teater
Kita: Panggung Baru” pada tahun 2014 yang diinisai oleh tiga fotografer Bali,
yakni Agus Wiryadhi Saidi, Phalayasa Sukmakarsa dan (alm) Ida Bagus Darma Suta.
Pameran yang digelar di Six Point Restaurant & Bar, Denpasar ini jadi
penting artinya dalam konteks fotografi teater Bali saat itu, mengingat pilihan
ruang restorant yang tak biasa dipilih sebagai tempat pameran. Justru pada
ruang restaurant inilah, hadir semacam interaksi liyan di luar penonton yang
pernah menyaksikan teater dalam foto yang dipamerkan.
Lain daripada itu, event fotografi
pertunjukan hanya hidup pada lomba-lomba saja. Parahnya, lomba-lomba ini justru
hanya sebatas lomba, yang tak jauh beda penyelenggaraannya dengan lomba fashion
show, karaoke, atau mc tingkat sekolah. Hanya mengejar piala, tanpa ada gagasan
dan wacana. Event yang tampak begitu gagap berhadapan dengan publiknya.
Bagaimana tidak gagap? Jangankan ada kurasi dan pertanggung jawaban lomba,
jurinya pun tak jelas siapa. Tiba-tiba saja ada lomba, tiba-tiba saja nama-nama
juara terpampang di instagram, tiba-tiba saja penyerahan piala dan tiba-tiba saja
hilang. Lalu apa yang bisa diharapkan dengan penyelenggaraan event yang
tiba-tiba saja semacam itu?
Makin ironis kiranya jika dibandingkan
dengan bentuk-bentuk kerja teater yang berkembang hari ini, seperti program
teater arsip yang dilakukan oleh Dewan Kesenian Jakarta yang mengeksplorasi
arsip sebagai bahan pertunjukan dan acara teater. Ada pula kerja berbasis
fotografi seperti yang dilakukan Radar Panca Dahana. Yang dalam salah satu esai
pertunjukannya, sempat menggunakan foto sebagai sumber data dalam rangka
membedah pentas tanpa pernah sekalipun melihat pertunjukannya secara langsung.
Atau pada kerja seniman teater Riyadhus Shalihin dengan naskah Cut Out-nya yang
ditulis berdasar pada dokumentasi foto sejarah dan lukisan Indonesia. Dari
kerja-kerja ini, teater tak lagi dibatasi pada kepentingan membuat pertunjukan
semata, melainkan mewujud dalam berbagai produk kerja seni seperti pameran,
workshop, diskusi pun sebagai metode menciptakan pertunjukan baru yang berdasar
pada arsip. Salah satu arsipnya, ya
fotografi tadi.
Kini, sudah lima tahun berlalu sejak pameran foto terahkir “Teater Kita: Panggung Baru” digelar. Saya yakin, foto-foto di kantung kawan-kawan fotografer teaterpun banyak yang sudah berbiak lagi. Demikian pula dengan kehadiran fotografer muda yang kian marak menghadiri dan mengabadikan acara-acara teater, seperti Putu Sayoga, Syafiudin Vifick, Wayan Martino, Dodik Cahyendra, Hadhi Kusuma, dan kawan-kawan lainnya. Dalam diam dan kesenyapannya, mereka senantiasa mengisi ruang-ruang kosong dalam pertunjukan teater. Tentu jadi pertanyaan yang penting kemudian untuk diajukan pada hadirin, penyelenggara, dan khususnya seniman teater yang kerap diabadikan pertunjukannya. Tak adakah yang bisa direspon dari kerja-kerja fotografi teater kita sampai hari ini? Atau jangan-jangan memang sudah cukup puas oleh kerja fotografi teater, yang hanya berhenti pada tanda jempol di FB dengan komentar, ‘toooooopppp’ saja? [T]
Denpasar,
2019