“Jesus Bless You” – Tentang Saya dan Agama
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
“Kasih ibu melebihi kebaikan malaikat manapun” (Merayakan Ingatan, Mahima 2019)
Bahkan sebagai seorang dokter sekalipun, saya sempat kaget saat menyadari satu fenomena biologis yang terjadi pada seorang wanita hamil. Demi menjaga asupan gula yang mencukupi untuk janin yang dikandungnya, kadar gula darah dalam tubuh seorang wanita hamil dijaga relatif agak tinggi dibandingkan populasi wanita yang tidak hamil. Hal ini dapat terjadi melalui sebuah mekanisme yang disebut dengan resistensi insulin. Siapa yang telah melakukan skema cerdas ini?
Apa yang telah membuat reseptor (penerima) pada sel hati, otot dan lemak seorang wanita hamil tak lagi optimal peka terhadap insulin (resisten)? Tak ada yang tahu hingga kini. Insulin adalah hormon yang mengurusi gula yang kita konsumsi untuk kemudian efektif dikonversi menjadi energi dan sisanya lalu disimpan menjadi cadangan energi. Mungkin sebuah perjalanan panjang evolusi organisme, telah menghasilkan sebuah strategi yang sedemikian cerdik seperti ini.
Dan hebatnya, saat si bayi lucu lahir, hormon insulin pada si ibu kembali bekerja sebagaimana mestinya. Namun, strategi ini tak selalu akurat. Pada beberapa wanita hamil, “permainan bahaya” ini telah melewati batas garis aman, maka ia lalu mengidap diabetes akibat kadar gula darahnya yang melambung melampaui nilai normal dan berisiko menyebabkan komplikasi. Seorang ibu, telah berkorban bahkan pada tingkat biomolekuler untuk sebuah rancangan pelestarian umat manusia.
Saya termasuk orang yang sangat terkesan dengan sosok seorang ibu. Karena saya selalu mengingat satu kisah masa kecil bersama ibu. Bukanlah kisah tentang indahnya liburan bersamanya atau kejutan hadiah ulang tahun darinya. Saat itu, di hari libur sekolah, saya yang baru kelas empat SD, menggenggam setermos es lilin, berlari berlompatan di antara pematang sawah untuk dijual kepada mereka yang nanggap upah memotong padi milik petani kaya di desa. Dari petak sawah yang agak kejauhan seseorang memanggil-manggil nama saya, oh ibu, ibu ada diantara mereka penanggap upah menuai padi. Pastilah ibu sudah berangkat pagi-pagi buta sebelum saya terjaga, menembus kegelapan pagi yang sunyi dan dingin. Hamparan emas pepadian di lereng pegunungan yang dingin itu telah menautkan kasih ibu dengan rasa rindu hati saya yang kelak akan terus bersemi di setiap musim.
Saat bertugas sebagai dokter di pedalaman, saya menyaksikan sendiri kisah heroik seorang ibu yang tak hanya tersembunyi dalam keremangan biomolekuler semata. Calon ibu muda itu, telah sampai pada hari-hari terakhir menjelang kebahagiaannya yang tertinggi sebagai seorang ibu dan sebagai mahluk kelas mamalia. Tak lama lagi, ia akan melahirkan seorang bayi lucu dan segera akan menyusui dari kedua payudaranya yang gemuk subur berair deras. Terbayang olehnya hisapan bayi mungil merah yang entah siapa mengajarinya. Sebuah misteri yang sering kita abaikan.
Hari bahagia itu tiba-tiba dalam sekejap berubah menjadi malam penuh horor. Bayi yang dikandungnya diluar dugaan berposisi sungsang. Badannya keluar duluan, kepalanya tersangkut pada jalan lahir ibunya. Persalinan normal adalah jika kepala bayi dilahirkan terlebih dahulu, lalu bagian tubuh yang lain akan menyusul dengan mudah. Ini terjadi karena bagian tubuh bayi yang terbesar adalah bagian kepala. Bayi malang itu telah menggantung cukup lama, seolah-olah seseorang yang telah menjalani hukuman gantung dari tubuh ibunya. Lunglai dan telah berwarna seputih tembok. Si ibu, dalam nyeri, takut dan harapan yang hampir putus, terus memohon pertolongan dari tatapan matanya yang kian melemah. Keajaiban, memang sesuatu yang nyata dapat terjadi. Saya yakin, Tuhanlah yang turun tangan membebaskan si bayi malang dari “hukuman gantung”-nya. Keduanya selamat, si ibu dalam letih tetap tabah tersenyum saat si bayi merah mengecap-ngecap air susunya yang nyaris saja basi.
Seorang ibu, ia tak pernah risau, akankah kehamilannya atau persalinannya akan merenggutkan nyawanya kelak? Ia juga bahkan tak pernah peduli, akankah anaknya nanti berbakti atau durhaka? Ia hanya fokus ingin, janin yang dikandungnya terus menerjang sekuat-kuatnya, bayi yang dilahirkannya menangis sekeras-kerasnya atau anaknya tumbuh menjadi remaja dan dewasa dalam bahagia.
Maka, begitulah sebuah kisah lain, pada suatu malam yang getir. Dewi Kunti, ibunda para pangeran Pandawa, pada remang malam yang cuma diterangi pelita kecil tak jauh dari Kurusetra, terduduk penuh harap. Ia memohon dengan sangat kepada Sang Karna putra Batara Surya, yang duduk tegak di depannya, untuk tak meladeni duel dengan adikknya, pangeran Arjuna yang tampan. Meski Sang Karna telah menyadari mereka bersaudara satu ibu, namun ia tak mungkin berkhianat pada keluarga Kurawa yang telah memberinya hidup.
Tanpa ragu-ragu ia menjawab, “Biarkan kami berperang! Ibu tak usah risau, entah aku atau Arjuna yang akan mati, ibu tetap memiliki lima orang anak...” Sebelum isak tangis Dewi Kunti terdengar, air matanya telah mengucur deras membasahi pipi hingga pakaiannya. Cukup kerukunan anak-anaknya, sedemikian bersahaja keinginan seorang ibu. [T]
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
ADA semacam protes di media sosial, kenapa wayang wong, sebagai kesenian klasik adiluhung yang baru saja ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda, justru dipe...
SEPAK bola kampung kini hanya fosil ingatan. Mungkin karena kampung selalu dirundung revolusi yang dialirkan zaman. Sawah-sawah, bahkan kebun yang dulu menjadi arena laga sepak bol...
KINI sudah masuk tahun ajaran baru. Sejumlah kampus sudah bersiap-siap menghadapi mahasiswa baru. Tentu, semua tahu, hari-hari pertama mahasiswa baru disibukkan dengan orientasi ka...
BEGITU puluhan penari memasuki panggung di depan Tugu Singa Ambara Raja, sore menjelang senja di Singaraja terasa lebih berwarna dari biasanya. Warna-warna itu bukan hanya memancar...
Judul Buku: Sayap Anjing (Kumpulan Cerpen) # Penulis: Triyanto Triwikromo #Halaman: 144 pages # Penerbit: Buku Kompas # Tahun: 2003 # ISBN: 9797090914 (ISBN13: 9789797090913) /...
BULELENG Festival (Bulfest) dibuka 2 Agustus ini dan akan berlangsung 6 Agustus 2016. Ini Bulfest keempatkali sejak digelar pertamakali, Agustus 2013. Di Bali, Bulfest memiliki gem...
Ini pengalaman ketika saya mengajar di sebuah sekolah dasar di Alor, NTT, sebagai guru dalam program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal). SEPERTI b...
MISI belum tuntas! Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan terus bikin kegiatan. Setelah terlaksananya acara Festival Puisi Bangkalan, 20-21 Mei 2016, kini tengah bersiap-siap mengge...
SIAPA saja yang suka memuji dan mengagung-agungkan Bali, pasti bertemu subak. Mereka yang berniat mengikuti alur jejak watak manusia Bali, seyogyanya juga mengakrabi subak. Bagaima...