Rumor Demo 4 November - Provokasi Media dan Jurnalisme Damai
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
“Kasih ibu melebihi kebaikan malaikat manapun” (Merayakan Ingatan, Mahima 2019)
Bahkan sebagai seorang dokter sekalipun, saya sempat kaget saat menyadari satu fenomena biologis yang terjadi pada seorang wanita hamil. Demi menjaga asupan gula yang mencukupi untuk janin yang dikandungnya, kadar gula darah dalam tubuh seorang wanita hamil dijaga relatif agak tinggi dibandingkan populasi wanita yang tidak hamil. Hal ini dapat terjadi melalui sebuah mekanisme yang disebut dengan resistensi insulin. Siapa yang telah melakukan skema cerdas ini?
Apa yang telah membuat reseptor (penerima) pada sel hati, otot dan lemak seorang wanita hamil tak lagi optimal peka terhadap insulin (resisten)? Tak ada yang tahu hingga kini. Insulin adalah hormon yang mengurusi gula yang kita konsumsi untuk kemudian efektif dikonversi menjadi energi dan sisanya lalu disimpan menjadi cadangan energi. Mungkin sebuah perjalanan panjang evolusi organisme, telah menghasilkan sebuah strategi yang sedemikian cerdik seperti ini.
Dan hebatnya, saat si bayi lucu lahir, hormon insulin pada si ibu kembali bekerja sebagaimana mestinya. Namun, strategi ini tak selalu akurat. Pada beberapa wanita hamil, “permainan bahaya” ini telah melewati batas garis aman, maka ia lalu mengidap diabetes akibat kadar gula darahnya yang melambung melampaui nilai normal dan berisiko menyebabkan komplikasi. Seorang ibu, telah berkorban bahkan pada tingkat biomolekuler untuk sebuah rancangan pelestarian umat manusia.
Saya termasuk orang yang sangat terkesan dengan sosok seorang ibu. Karena saya selalu mengingat satu kisah masa kecil bersama ibu. Bukanlah kisah tentang indahnya liburan bersamanya atau kejutan hadiah ulang tahun darinya. Saat itu, di hari libur sekolah, saya yang baru kelas empat SD, menggenggam setermos es lilin, berlari berlompatan di antara pematang sawah untuk dijual kepada mereka yang nanggap upah memotong padi milik petani kaya di desa. Dari petak sawah yang agak kejauhan seseorang memanggil-manggil nama saya, oh ibu, ibu ada diantara mereka penanggap upah menuai padi. Pastilah ibu sudah berangkat pagi-pagi buta sebelum saya terjaga, menembus kegelapan pagi yang sunyi dan dingin. Hamparan emas pepadian di lereng pegunungan yang dingin itu telah menautkan kasih ibu dengan rasa rindu hati saya yang kelak akan terus bersemi di setiap musim.
Saat bertugas sebagai dokter di pedalaman, saya menyaksikan sendiri kisah heroik seorang ibu yang tak hanya tersembunyi dalam keremangan biomolekuler semata. Calon ibu muda itu, telah sampai pada hari-hari terakhir menjelang kebahagiaannya yang tertinggi sebagai seorang ibu dan sebagai mahluk kelas mamalia. Tak lama lagi, ia akan melahirkan seorang bayi lucu dan segera akan menyusui dari kedua payudaranya yang gemuk subur berair deras. Terbayang olehnya hisapan bayi mungil merah yang entah siapa mengajarinya. Sebuah misteri yang sering kita abaikan.
Hari bahagia itu tiba-tiba dalam sekejap berubah menjadi malam penuh horor. Bayi yang dikandungnya diluar dugaan berposisi sungsang. Badannya keluar duluan, kepalanya tersangkut pada jalan lahir ibunya. Persalinan normal adalah jika kepala bayi dilahirkan terlebih dahulu, lalu bagian tubuh yang lain akan menyusul dengan mudah. Ini terjadi karena bagian tubuh bayi yang terbesar adalah bagian kepala. Bayi malang itu telah menggantung cukup lama, seolah-olah seseorang yang telah menjalani hukuman gantung dari tubuh ibunya. Lunglai dan telah berwarna seputih tembok. Si ibu, dalam nyeri, takut dan harapan yang hampir putus, terus memohon pertolongan dari tatapan matanya yang kian melemah. Keajaiban, memang sesuatu yang nyata dapat terjadi. Saya yakin, Tuhanlah yang turun tangan membebaskan si bayi malang dari “hukuman gantung”-nya. Keduanya selamat, si ibu dalam letih tetap tabah tersenyum saat si bayi merah mengecap-ngecap air susunya yang nyaris saja basi.
Seorang ibu, ia tak pernah risau, akankah kehamilannya atau persalinannya akan merenggutkan nyawanya kelak? Ia juga bahkan tak pernah peduli, akankah anaknya nanti berbakti atau durhaka? Ia hanya fokus ingin, janin yang dikandungnya terus menerjang sekuat-kuatnya, bayi yang dilahirkannya menangis sekeras-kerasnya atau anaknya tumbuh menjadi remaja dan dewasa dalam bahagia.
Maka, begitulah sebuah kisah lain, pada suatu malam yang getir. Dewi Kunti, ibunda para pangeran Pandawa, pada remang malam yang cuma diterangi pelita kecil tak jauh dari Kurusetra, terduduk penuh harap. Ia memohon dengan sangat kepada Sang Karna putra Batara Surya, yang duduk tegak di depannya, untuk tak meladeni duel dengan adikknya, pangeran Arjuna yang tampan. Meski Sang Karna telah menyadari mereka bersaudara satu ibu, namun ia tak mungkin berkhianat pada keluarga Kurawa yang telah memberinya hidup.
Tanpa ragu-ragu ia menjawab, “Biarkan kami berperang! Ibu tak usah risau, entah aku atau Arjuna yang akan mati, ibu tetap memiliki lima orang anak...” Sebelum isak tangis Dewi Kunti terdengar, air matanya telah mengucur deras membasahi pipi hingga pakaiannya. Cukup kerukunan anak-anaknya, sedemikian bersahaja keinginan seorang ibu. [T]
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
Hai Gess! Kenken Kabare, Gess? Nu inget nyoblos, Gess? Calon Tunggal di Buleleng jani, Gess. Memusuh jak KOTAK KOSONG, Gess. Musuh ngenah aluh ngelawan! Musuh sing ngenah, kaden al...
Sekilas MEA ASEAN sebagai pasar tunggal kemudian disebut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), seperti dimuat pada laman Kementerian Luar Negeri RI (www.kemlu.go.id), Selasa 17 Maret 20...
BELAJAR dari figur dan tokoh perempuan, itulah barangkali pesan utama dari buku kumpulan cerpen berbahasa Bali terbaru I Made Suarsa, “Luh-Luh”. Buku ini memuat 19 cerpen yang kese...
Dear para jomblo di muka Bumi ini, Aku adalah kawanmu yang masih setia. Menjomblo bersama kalian adalah sebuah anugerah tak terbatas. Terima kasih karena kalian juga masih setia...
TIDAK banyak yang mengira bahwa kini masyarakat Eropa ternyata malas dalam mempelajari bahasa asing. Meski perkembangan pendidikan di Eropa sangatlah pesat, siapa sangka bahwa mere...
Prodi Pendidikan Seni Rupa, FBS, Undiksha, Singaraja, menggelar pameran bertajuk “Qilin” (Membaca Sosial Budaya Warga Pecinan Kota Singaraja) di Neka Art Museum, Jalan Sanggingan C...
SARJANA. Bak mobil yang telah turun kastanya dari kebutuhan tersier menjadi kebutuhan primer. Sarjanapun, maknanya semakin memudar. Terlalu banyak sarjana modern yang merasa sal...
ANDA pernah jatuh cinta? Baiklah, yang sudah pernah jatuh cinta sebelumnya pasti akan mengerti tentang pembahasan kali ini. Jika belum pernah, sayang sekali, anda hanya akan bisa...
Cerpen: Komang AstiariAKU rindu kampung halaman. Aku rindu nenek. Kepergiannya masih menyakitkan bagiku, batinku belum mampu menerima dia sudah pergi, selamanya. Apakah Tuhan mengg...