Menggugat Empati Elite kepada Rakyat
RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal 30 November 2025. Rakyat Indonesia juga tak...
Ibu, rupa ibu, kasih ibu, timang ibu, masakan ibu, omelan ibu, hanya menjadi mitos yang mengendap di dalam kepalaku. Imajinasiku selalu liar tentang ibu. Aku bisa membayangkan rupa wajah ibu sebanyak yang aku kira-kirakan, aku bisa membayangkan model rambutnya sebanyak yang aku kira-kirakan, aku bisa membayangkan postur tubuhnya sebanyak yang bisa aku kira-kirakan.
Ibu dalam imajinasiku adalah ibu dengan wajah dan postur yang memiliki banyak kemungkinan rupa. Yang konon katanya, wajahnya begitu mirip denganku. Konon katanya juga, rambutnya bergelombang sepertiku. Dan konon katanya, tak menyisakan selembar fotopun untuk menghapus jejaknya.
Bagi anak yang tak tahu ibu, Hari Ibu seakan selalu menyudutkan. Terlebih lagi, ketika semua orang memposting foto ibu mereka di seluruh media sosial. Aku merasa seperti diteror untuk ikut serta memposting sesuatu tentang ibu. Tapi apa yang bisa aku posting?
Ibu mungkin memang salah. Atau entahlah. Mungkin ayah yang salah. Namun tiada yang bisa mengelak dari kehendak takdir. Memang tak seharusnya ia lari dari tugasnya sebagai seorang ibu. Tentu. Aku sangat kecewa dengannya. Sungguh, bukan main aku benar-benar kecewa.
Maaf ibu. Jujur harus kukatakan padamu, bahwa aku tak dapat menyembunyikan kenyataan kalau akhirnya hal itu membuatku merasa sedikit kesal denganmu. Aku menjadi tumbuh tanpa kau, besar tanpa kau, dan segalanya tanpa kau. Dan apakah ibu ingat pernah melahirkanku? Pertanyaan ini sesekali muncul dalam pikiranku, Bu. Dalam harap aku selalu ingin bertemu dengan kau, setidaknya lewat mimpi saja. Aku ingin sekali bertemu dan melihat sosok ibu. Apakah ibu tak ingin menemuiku juga?
Ibu, walaupun kau tak ada, tapi bukan berarti aku tak pernah merayakan Hari Ibu. Aku selalu merayakannya, Bu. Aku merayakannya setiap hari. Setiap hari aku selalu berdoa untukmu, doa yang tak pernah putus. Aku selalu berdoa kepada-Nya, jika memang ibu masih hidup, aku berdoa agar kau senantiasa diberikan kesehatan dan kebahagiaan.
Tapi jika memang ibu sudah tiada, aku berdoa agar ibu diberikan tempat yang terbaik di alam sana. Aku selalu berdoa untukmu, Bu. Namun apakah kau di sana pernah berdoa untukku yang pernah lahir dari rahimmu itu, Bu?
Tuhan maha baik, Bu. Ia mengambilmu dariku lalu memberikanku lebih banyak Ibu yang sangat menyayangiku. Alm. Nenek, bibi-bibi, kakak perempuan, dan semua ibu yang sudah menganggapku seperti anaknya sendiri. Juga orang-orang yang sangat menyayangiku, Bu. Aku bersyukur sekali.
Ibu, aku akan menebus dosa-dosamu. Yang lalai dan lari dari kewajiban sebagai seorang ibu. Aku sudah bertekad, Bu. Bahwa aku tidak akan pernah meninggalkan anakku kelak nanti. Aku tak akan pernah mengikuti jejak kesalahan yang pernah kau lakukan, walau apapun alasanmu. Aku akan merawat anakku kelak dengan baik, dengan kasih sayang seorang ibu, aku tak ingin anakku bernasib sama denganku. Aku tentu akan sangat menyayangi anakku kelak nanti, Bu.
Ibu, terima kasih sudah sempat melahirkanku. Terima kasih. Karena berkatmu, aku bisa merasakan hidup. Aku akan berjuang untuk hidupku sendiri, Bu. Aku akan menjadi ibu yang bertanggung jawab untuk anakku kelak. Bu, di manapun kau berada sekarang, aku selalu berdoa yang terbaik untukmu.
Aku percaya, semua ibu adalah ibu yang hebat tak peduli ia bertanggung jawab atau tidak dengan tugasnya sebagai seorang ibu. Tapi kita semua adalah perempuan, Bu. Yang digariskan hidupnya untuk melahirkan seorang manusia. Melahirkan kehidupan baru. Yang dimuliakan untuk menjadi seorang ibu.
Terima kasih, Bu. Kau telah memberikanku pelajaran hidup yang sangat berharga. Dan terima kasih, karena jika kau tidak memberikanku awal cerita yang seperti itu, mungkin aku tak akan pernah bisa berjuang untuk hidupku sendiri. Selamat hari ibu, Bu. Selamat hari ibu untuk seluruh ibu dan seluruh perempuan yang kelak menjadi seorang ibu. [T]
RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal 30 November 2025. Rakyat Indonesia juga tak...
DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi Devi menempatkan bumi sebagai manife...
PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut berakar pad...
SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang ditampilkan justru wajah-wajah nyata, s...
“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens), menempatkan tindakan ekologis ‘menana...
GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung, tetapi aktivitas di lingkungan sekolah justru ber...
MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur. Mereka meletakkan tas, sembari menarik nafas panjang, sambil menikm...
Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru SMP Negeri 1 Singaraja pada Selasa, 21 A...
JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan dari Generasi Z memanfaatkan gawa...
KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT, telah memberi dampak positif dalam menjaga kesehatan ekosistem laut dan pesi...