‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
Ada jaman dimana patung Bali membaca lontar.
Ya banyak. Tersebar di berbagai belahan dunia.
Begitulalah yang tertangkap seniman patung di Bali era tahun sebelum kemerdekaan. Era sebelum Belanda masuk Bali, sekolahan non-formal dan proses pembelajaran tradisional di Bali banyak memakai lontar. Kegiatan baca tulis bermedia lontar. Inilah yang menginspirasi munculnya berbagai jenis patung kayu periode tahun 1930-an dengan tema pembaca lontar (lontar reader).
Sekitar tahun 1872 Belanda menguasai Bali Utara, dan akhirnya tahun 1906 sepulau Bali dikuasai, membuat Belanda mengolah akal menjadikan Bali destinasi pariwisata. Pariwisata membawa banyak perubahan perilaku masyakarat Bali, bukan lagi sebuah pertanyaan. Termasuk seni patung di Bali yang sebelumnya tidak terbayangkan menjadi mata pencarian sampai kini, dijual di galeri, toko seni dan pasar seni, bahkan diekspor dalam peti kemas.

Sekarang bagaimana nasib patung Bali baca lontar?
Seiring menghilangnya kemampuan baca tulis lontar di Bali, patung bertema baca lontar juga lenyap.
Mungkin: Pematungnya tidak membuat patung membaca lontar karena tak ada lagi pemandangan pembaca lontar di tengah masyarakat. Atau, jangan-jangan pematung sekarang malu karena patungnya baca lontar tapi dia sendiri tidak baca lontar?
Sekarang masih tersisa jejak berbagai patung Bali baca lontar lewat jejaring lelang online. Sebut saja salah satunya yang sangat besar: Christie's Auctions & Private Sales (Rumah Lelang Christie's) pun menjual patung Bali baca lontar. Laku cukup mahal. Padahal dulu "hanya cendera mata biasa". Tapi begitulah, kualitas "cendera mata biasa" era itu dibuat tangan harus dan serius generasi seniman sejaman berdirinya Museum Pitamaha, zaman dimana seniman tradisionalnya tidak berbohong mengurangi mutu walaupun sekedar "cendera mata biasa".
Ada yang celaka menjual patung Bali baca lontar?
Tidak. Yang celaka bukan hanya patung Bali baca lontar dijual, lontarnya warisan juga banyak dijajakan jadi cendera mata. Dijual pada pelancong.
Hooykaas (1979) mengenang bagaimana lontar dijual jadi cendera mata ketika Bali dibuka menjadi destinasi pariwisata, sekitar tahun 1914 secara formal. Terkhusus bagaimana menjamur, dimana-mana, lontar warisan dijajakan pada wisatawan bersamaan dengan era pengembangan jalan raya dan transportasi digenjot untuk mendukung pariwisata Bali tahun 1920-an.
Tulis Hooykaas:
"After the construction of metalled roads and iron bridges in Bali and the building of a hotel at Denpasar and a pasanggrahan in the hills at Kintamani by the Dutch Royal Mail Shipping Line KPM, tourists began to visit Bali. They proved eager buyers for the palmleaf MSS which the Balinese offered for sale."
[Setelah pembangunan jalan keras dan jembatan baja di Bali dan pembangunan sebuah hotel di Denpasar dan pasanggrahan di perbukitan di Kintamani oleh KPM - Jasa Pejalanan Kapal Laut dan Paket milik Pemerintah Belanda, wisatawan mulai mengunjungi Bali. Mereka terbukti berminat membeli manuskrip lontar yang ditawarkan orang Bali untuk dijual].
Pemerintah Belanda bersama para cendikiawan Bali terjaga. Ini alarm bahaya untuk segera melakukan tindakan penyelamatan sebelum semua lontar Bali ludes diperjualbelikan sebagai cendera mata dan diboyong wisatawan asing yang datang dari antah berantah. Singkat cerita, digagaslah penyelamatan lontar, dan dibangun perpustakaan Gedong Kirtya.

Hookyaas menambahkan:
"In 1928 the Government, waking up to the situation, created a foundation (Kirtya) for the preservation of local MSS. A three-room building was erected in a corner of the grounds of the puri of the Anak Agung of Buleleng, himself a keen collector of MSS. In one room the copyists worked, in the second their copies were stored, and the third was reserved for interested readers, who came in a steady stream, as I witnessed almost daily for over two years (August 1939 to December 1941). Unquestionably thousands of Balinese visitors found their way to that reading-room, though perhaps less than one orientalist a year used the facilities offered by the Kirtya."
[Pada tahun 1928 Pemerintah (baca: Pemerintah Kolonial Belanda), terjaga dengan situasi tersebut, mendirikan sebuah yayasan (Kirtya) untuk pelestarian manuskrip lontar lokal. Sebuah bangunan tiga kamar didirikan di sudut halaman puri Anak Agung Buleleng, yang merupakan kolektor manuskrip lontar yang sungguh. Dalam satu ruangan para penyalin lontar bekerja, di ruang kedua salinan mereka disimpan, dan dalam ruangan ketiga disediakan untuk para pembaca (pengunjung) yang tertarik, yang datang dengan arus kunjungan deras tiada henti, ketika saya menyaksikan hampir setiap hari ada pengunjung selama lebih dari dua tahun (Agustus 1939 hingga Desember 1941). Tak diragukan lagi, ribuan pengunjung Bali menemukan akses membaca lontar di ruang baca itu, meskipun mungkin kurang dari satu orientalis (orang asing) dalam setahun menggunakan fasilitas yang ditawarkan oleh Kirtya].
Ya, saya baru tersentak ketika membaca kesaksian Hooykaas, salah satu alasan kuat Perpustakaan Lontar Gedong Kirtya dibangun karena pariwisata dikhawatirkan menjadi ajang berjualan lontar warisan. Untungnya, sebagaimana kesaksian Hooykaas, ribuan pengunjung Bali berkunjung ke Gedong Kirtya di tahun 1939-1941. Saya juga menjadi berpikir dan menduga-duga kenapa cukup banyak lontar di griya-griya di Buleleng disalin sekitar tahun itu? Mungkinkah Gedong Kirtya menjadi pemicu penyalinan lontar di Buleleng di tahun sekitar itu? Berdasar kesaksian Hooykaas dan juga informasi lokal di Buleleng, memang Kirtya dimasanya adalah pusat pertemuan para cendikiawan saling mengkopi berbagai lontar yang kami warisi di Buleleng sampai saat ini.
Ironis memang, pariwisata bukan hanya membuat kemunculan patung-patung Bali membaca lontar, tapi juga membuat manusianya menjual lontar. Untunglah ada intelektual sadar manuskrip bergegas melakukan upaya nyata penyelamat lontar di Buleleng dan penuh dedikasi membangun Gedong Kirtya.
Catatan Harian, 17 Desember 2019.
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...