Pemuja dan Pujaan
Anwam
Siwi, demikian pengarang kidung Lungsir Petak atau Murtining Jagat Bangli
menyebut dirinya dalam pupuh demung bait ke sembilan. Anwam adalah sebutan
untuk mengganti kata Nyoman. Sedangkan kata Siwi adalah singkatan yang dapat
dipecah menjadi dua silable [suku
kata]: Si dan Wi. “Si” singkatan dari Singgin, dan “Wi” singkatan dari
Wikarman. Singkatnya, pengarangnya adalah Nyoman Singgin Wikarman.
Karya ini selesai ditulis pada hari Senin [Soma], Umanis [perhitungan 5 hari atau panca wara], Wuku Sungsang, pada bulan paro terang [sukla paksa], sasih ke-enam [posya], tahun saka 1913 [murtining bhumi rong tunggal] atau pada tahun 1991 M. Jika ditelusuri, tepatnya pada hari Senin, tanggal 9 Desember 1991. Menurut catatan yang terdapat di bagian belakang naskah, Nyoman Singgin Wikarman lahir pada tanggal 31 Desember 1947, itu berarti kidung Lungsir Petak diselesaikan saat berusia sekitar 43 tahun.
Palguna
[1998] menyebut sastra, tidak berhenti pada pengertian kesusastraan, tapi juga
ajaran. Bukan kebetulan jika kalimat tersebut dapat digunakan sebagai peta
untuk menelusuri “hutan” bernama kidung Lungsir Petak. Konsekuensi memasuki
hutan itu jelas ada, pilihannya antara kembali atau menghilang. Bagi yang
kembali, tugasnya adalah menyampaikan segala yang ditemukan di dalam hutan
kepada yang belum atau akan memasuki. Bagi yang menghilang, ada dua
kemungkinan, pertama dia sedang menelusuri hutan lebih dalam, kedua dia
tersesat. Namun tidak jarang, orang yang kembali tidak mengerti harus
menceritakan apa-apa. Sebab di dalam hutan, dia tertidur.
Kawula
adalah kata yang digunakan oleh Anwam Siwi untuk menunjuk dirinya. Terjemahan
kata ini ke dalam bahasa Indonesia adalah hamba, saya, atau aku. Kata Kawula
umumnya digunakan untuk sebutan bagi seorang abdi. Penggunaan kata ini tentu
bukannya tanpa pertimbangan. Setidaknya kesan yang ditimbulkan adalah suara
personal penyair yang menganggap dirinya seorang abdi. Lalu, kepada siapakah
suara pengabdian itu ingin ditujukan? Ada baiknya dilihat penggalan dari pupuh
Megatruh [1] berikut.
singgih
sang hyang kawiswara maha agung, ginelaran sang hyang aji, wiwitane ngawe
kidung, karya tuna tan akikit, manawi katunan kawot
[wahai sang hyang kawiswara yang maha agung, disebut
pula sang hyang aji, sebagai sebab menggubah kidung, karya yang tidak sedikit
kurangnya, mungkin juga kurang berwibawa]
Sang
Hyang Kawiswara adalah sebutan yang diungkapkan pada bagian awal kidung Lungsir
Petak, sebagai sebab membuat kidung [wiwitane
ngawe kidung]. Kawiswara berarti kawi yang utama atau pemimpin para kawi.
Segeralah dapat diketahui, kepada siapa pujaan itu dihaturkan oleh penyair.
Kata kawi memang diterjemahkan sebagai sebutan untuk orang yang telah
melahirkan karya, atau juga untuk menyebut Tuhan sebagai pencipta. Penyebutan
yang terakhir ini, seringkali ditambahkan dengan kata sang hyang, parama, iswara, dan seterusnya. Kawiswara
dihadirkan oleh penyair sebagai sebab serta tujuan [sangkan paran]. Kepada Sang
Hyang Kawiswaralah karyanya dipermaklumkan agar tidak dikutuk [tan keneng pamastu] seraya menyebut
dirinya sebagai abdi [kawula].
Pola
pemujaan demikian bukanlah hal yang baru sama sekali, sebab telah digunakan
pada beberapa sastra kakawin, terkecuali
Ramayana. Suara-suara yang serupa, tampak pada manggala kakawin Sumanasantaka
yang menyebut Kawiswara disejajarkan dengan Sang Hyang Hyang sebagai dewa yang
bersemayam pada alat tulis kawi. Sangat sulitlah untuk didekati [atidurlabha],
karena meresap dan tersembunyi secara halus pada serbuk tanah para kawi yang diruncingkan dengan kuku. Tetapi itu tidak
mengurangi kesegaran yang ditawarkan oleh Lungsir Petak. Pengandaian sangat
mungkin dipengaruhi oleh bacaan-bacaan atau pengetahuan penyair. Adanya
kemiripan pengungkapan bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan, hal ini
dapat dilihat dengan membandingkan manggala kakawin Bharatayuddha karya Mpu
Sedah dan Mpu Panuluh dengan kakawin Kunjarakarna Dharmakatana karya Mpu Dusun.
Lalu apakah Anwam Siwi serta merta berarti membaca Sumanasantaka, sebab ada
kemiripan pengungkapan? Tentu itu adalah kasus lain lagi.
Wajarnya,
Kawiswara adalah salah satu gelar yang sering dihindari, atau dianggap tidak
pantas dipakai oleh penyair ketika berbicara tentang dirinya sendiri
[Zoetmulder, 1994: 187]. Selain gelar itu, ada gelar kawiwara, kawindra, dan kawiraja yang mendapat perlakuan yang
sama. Maka jelaslah bahwa kawi sebagai pemuja, menghaturkan pemujaannya berupa
karya yang penuh kekurangan [karya tuna
tan akikit] kepada Kawi sebagai pujaan.
Jika
kawi mempersembahkan sesuatu kepada pujaannya, itu berarti ada jarak di antara
pemuja dengan pujaan. Jarak itulah yang mengajarkan rindu. Rindu menjadi
penggerak seorang penyair untuk melakukan perjalanan ke laut maupun gunung.
Pada tempat-tempat itulah umumnya seorang kawi berdiam dan mencoba menggapai langö. Yang dimaksud dengan langö, adalah keindahan yang sublim.
Pencarian langö oleh kawi disebut alanglang kalangwan. Sangat
memperihatinkan jika perjalanan itu berujung pada keputusasaan, sebab yang
namanya pencarian tidak selalu menemukan.
Bukan Karena Tahu
Mengapa
Anwam Siwi menggubah kidung Lungsir Petak? Pertanyaan itu diajukan untuk
menuntun ke arah jawaban alasan-alasan yang melatarbelakangi Lungsir Petak
terlahir. Alasan itu dapat dicari di dalam tubuh Lungsir Petak. Oleh sebab itu,
pada bagian ini, perlu dicatat salah satu bagian dari kidung ini sebagai
berikut.
sarana
bhakti metu karsa ngawe kidung, norana sangkaning uning, ngiket sastra adi
luhung, angdoh sastra kawi, angdoh uger-uger mango
[sebagai sarana bhakti maka lahirlah keinginan membuat
kidung, bukan karena tahu, membuat karya sastra yang baik, jauh dari sastra
kawi, jauh pula dari aturan pencari keindahan]
Eksplisit
pernyataan Anwam Siwi, bahwa Lungsir Petak terlahir bukan karena ia merasa
tahu. Melainkan sebagai sarana bhakti. Jelas rasa bhakti itu ditujukan kepada
Kawiswara yang dipujanya pada manggala. Pernyataan “bukan karena tahu” itu
mengungkapkan yang dikatakan, sekaligus menyiratkan yang tidak terucapkan. Pada
tataran kata secara harfiah, kata-kata itu menyatakan sebagaimana adanya.
Namun, secara implisit, sesungguhnya juga menyatakan yang sebaliknya. Akan
sangat sulit untuk menyusun kata-kata yang demikian, jika saja Anwam Siwi tidak
mengerti apa yang dikatakannya. Juga tentu akan sulit memenuhi aturan pada
lingsa yang dituntut oleh pupuh Megatruh.
Jika
dilihat pergantian pupuh yang terdapat di dalam kidung ini, ada sebanyak 21
kali pergantian. Hanya saja, Megatruh digunakan dua kali sepanjang kidung ini
yakni pada awal serta akhir. Pupuh Durma juga digunakan sebanyak dua kali. Maka
jika dilihat berdasarkan nama-nama pupuhnya, ada 19 pupuh yang digunakan.
Masing-masing pupuh itu ditandai penggunaannya dalam penyebutan di dalam
kidung: winursita Ki Megatruh [Megatruh], Ki Demung anganti mangke [Demung],
tekeng adri den ahayu [Adri], aliting jarum tatas denta [Jerum], raden panji
ngawe lango [Panji], tuhandulu penuh asmarani [Smaradahana], laraning sang
nandang lara [dandang], kembang maring kalanguan [Kumambang], turunganing alis
ijo [Alis-alis Ijo], ginada ngantos [Ginada], angapus kadurmanggalan [Durma],
dadi apa kapungkur [Pangkur], ulah basur ngawe weci [Basur], kadi tikus
kapantingan [Tikus Kapanting], papa nraka ingambuhi [Gambuh], ing sumanggen
durmanggala [Durma], sekarura kembang santun [Warga Sari], Ki Megatruh nyineb
kawi [Megatruh].
Megatruh
sebagai pembuka dan penutup mungkin saja mengandung suatu maksud tertentu bagi
Anwam Siwi. Tentang hal itu, sama sekali belum ditemukan jejak di dalam Lungsir
Petak yang dapat digunakan sebagai bahan untuk sekedar berhipotesa. Jika nama
pupuh ini dianggap sebagai jejak yang ditinggalkan oleh Anwam Siwi, lalu apa
maksudnya? Pencarian terhadap maksud itu, tampaknya hanya akan berujung kepada
kesia-sian semata. Namun demikian, perhatian secara khusus terhadap pemilihan
pupuh ini tidak juga dapat dihindarkan. Meskipun akhirnya hanya akan
menghadirkan pendapat-pendapat yang ex silentio,
percobaan mestilah dilakukan.
Sebagai
petunjuk awal, ada baiknya jika Megatruh ini dipecah menjadi dua kata
sebagaimana dipahami dalam bahasa Jawa Kuna: Mega dan Truh. Mega berarti awan,
sedangkan Truh berarti hujan gerimis. Solusi lain yang bisa ditawarkan adalah
pembagian menjadi Megat dan Ruh atau antara Megat dan Truh. Kata Megat dalam
hal ini berarti memutuskan. Hanya saja, tafsir ini tentu memiliki kelemahan
jika dilakukan perbandingan antara kata Mega serta Megat. Ada fonem yang
berbeda antara kedua kata itu yakni fonem “e”. Fonem itu sesungguhnya akan
menjadi jelas jika ditulis dengan menggunakan aksara Bali yang membedakan
penggunaan keduanya dengan pangangge aksara suara: taleng untuk vocal é, dan
pӗpӗt untuk vocal ӗ. Jika kata Megat dipadukan dengan Ruh
yang equivalen dengan wruh [tahu]
maka artinya adalah memutus pengetahuan, sedangkan jika dipadukan dengan kata
Truh berarti memutus hujan. Semuanya sama-sama memungkinkan, meskipun dalam
tafsirnya sebagai “memutus hujan” semestinya ditulis Megattruh dengan double fonem /t/. Penghilangan fonem
konsonan ganda yang mengakhiri dan mengawali satu kata bukan suatu yang aneh
dalam karya sastra. Dalam hal ini, catatan dari Peter Worsley dkk [2014] ketika
mengkaji kakawin Sumanasantaka dapat dijadikan rujukan penting. Lain dari pada
itu, penelusuran pemilihan pupuh Megatruh tetap tidak mendapatkan hasil yang
memuaskan. Terkecuali, dalam tulisan ini pilihan tetap dijatuhkan pada
terjemahan Awan Hujan [Mega Truh], sebab awan hujan itulah yang melalui
sirkulasi tri kona, utpati-stiti-pralina.
Selain
pemilihan pupuh itu, pemilihan kata-kata dalam penyusunan bait-bait Lungsir
Petak tampak juga tidak sederhana.
warnanen sira sri bhupati, patitising sarat, ratna manik raden dhanu,
nurageng rat siniwi, wibuhing bala brtya, tyaga ring swadharma, maka mukya wipradi, dipati mwang tanda mantra wira
wirosa ngemit siniwi,
wihikan sabrtya kapwa anungkul, kulagotra subhakti, tinuru kadharmestan, tan wihang ring
swadharma, marmanira amukti, tininggalin mrana lan lapa
Ada
sebanyak empat bait puh demung sawit yang terjalin sebagaimana ditunjukkan
dalam dua bait di atas. Untuk melihat hal ini, bisa dibandingkan dengan petikan
Ramayana berikut.
guha
peteng tang mada moha kasmala, maladi yolanya mageng maha wisa
wisata
sang wruh wikanang jurang kali, kalingan ing sastra suluh nika prabha.
[bagai gua gelap kesombongan kebingungan dan kekotoran
pikiran itu, ketidakbaikan adalah ular besar beracun, tenanglah ia yang
mengetahui datangnya masa kehancuran, sebab ‘berlindung’ pada sastra yang
bersinar]
Demikian
jika Lungsir Petak dan Ramayana dibandingkan dalam hal tekhnik pemilihan
kata-katanya. Setidaknya, ini membuktikan bahwa ungkapan ‘bukan karena tahu’
oleh Anwam Siwi adalah ungkapan yang diajarkan oleh tradisi. Dan sebagaimana
tradisi, ungkapan itu juga menyembunyikan pengetahuan tentang ‘ketidaktahuan’.
Sebagai akhir dari tulisan ini maka ungkapan Agastia [1987] yang agak panjang
ketika membicarakan perihal Sastra, Keindahan, Kelepasan dipinjam.
Dalam studi sastra Jawa Kuna, existensi sang Penyair [baca: Kawi] menjadi hal yang sangat menarik. Mulai dari idea, filsafat hidup sampai pada kedudukan dan fungsinya dalam masyarakat adalah beberapa hal yang sangat menarik untuk diteliti. Apabila pada kesempatan ini kita mengadakan llirikan terhadap hal tersebut, sudah tentu antara lain dimaksudkan untuk lebih menumbuhkan “gairah kreativitas” para penyair kita. “Gairah kreativitas” yang bertumpu pada suatu filsafat hidup. [T[