Puisi-puisi Dee Hwang # Twin Flame, Jatuh Cinta, Seoul

Dee Hwang
by Dee Hwang — Desember 07, 2019 in Puisi

Tatkala.co

TWIN FLAME


“According to Greek mythology, humans were originally created with four arms, four legs and a head with two faces. Fearing their power, Zeus split them into two separate parts, condemning them to spend their lives in search of their other halves." - Plato, The Symposium.

.


Telah kubaca ribuan kisah tentangmu

Dan melipat cerita lain sebelum sampai ke sana

Kau mendengarku memanggil

Melalui banyak gatra kau menoleh di keramaian

Jejarimu yang gemas, pada embun di hutan sampai ke jendela - jendela itu, mewujud kehidupan di sisi lain


Akulah, rintik pagi di daun - daun muda

Aku wangi udara dari akar - akar yang menua

Telapak kita bertemu, dekapan dililit sampai ke pandangan

Kita terbiasa menguasai dunia, setelah saling mengenali


Kita akan mengulangnya tanpa rasa khawatir

Ini permulaan sudah jalan setiap saat

Menari atau berlari

dihuyungkan penolakan hingga baring berdiam

asal kita bersama, dimana - mana adalah tempat kita kembali


Kekasih, betapa luasnya langkah manusia

Namun di tiap kelahiran, aku rintik dan udaramu, sementara kau jejariku yang siap menadahi awan

Dalam panjang sejarah manusia yang dibelah dan disatukan, kita dikitabkan

Abadi jiwa kita atas restu semesta


JATUH CINTA

Perempuan memejam mata, dijalari rasa persis menyentuh dadanya

Dalam genggaman, satu saja bayangan—merimbuni catatan setiap waktu berbunga,

meski beberapa tahun sekali

Begitu mendebarkan!

Tak terkecap betapa

Ada yang membebatnya dengan pelukan

Hingga napasnya biru langit dan

Terjatuh ke dalam pemahamannya sendiri

Tak terbatas lagi betapa

Ada yang menidurkannya seperti bocah

Hingga bergantung ia pada cita – cita

dan tua masa menunggunya


Perempuan memejam mata

Dihembus ciuman perkenalan

Dari seorang yang tak ada dalam sejarah

Dari yang ditunggunya untuk mengajak bicara


AKULAH KOTA


Akulah kota itu; Jejak menandai

Antara setapak dan jalur tikus

Terhapus – hapus, tidak bertuan, tak ingin dikenang

Kutuai perih yang ditanam di setiap sudut rumah

Mengapungkan suara – suara biar tak cemas

“Tak ada salahnya, tak ada yang bersalah”


Akulah kota itu; Tak bisa disinggahi sembarang waktu

Bila begitu sibuk, cepatlah berbenah

‘kan kupegangi gerbang – gerbang terluar

Sembari pengalaman berkacak pinggang, pamer suasana

“Boleh bodoh, sesekali saja”


Akulah kota itu; Kusemayamkan rindu

Pada badan genting, ayuhan karet, dan tawa – tawa depan sekolah

Melenting di antara tanah bergaris dan berbatu

Kupantau anak – anak mengarus dalam sulur semak—mengintip musuh

Menandai tujuan berlari berikutnya, saban detak melepaskan jiwanya sendiri

“Biar kami yang membersamai orang – orang sedih”


Akulah kota itu; Begitu kurang

Namun penuh harapan

Kuputarkan kidung kidung demi mencari sahutan


Akulah kota itu; Begitu besar, gersang, begitu menyentuh aroma kekalahannya

Kutampung sebisa dan sebanyak mungkin cerita

Akan rintih dan retak hati

Tanpa bocor bagian dari dalam diri


LUCIOLE

;diri sendiri


Semoga cahayamu lebih terang

 ketimbang ingatanmu tentangnya


SEOUL


Di Kota, sore cepat tenggelam

Orang-orang membendung kelelahan

Wajah-wajah mentega, saling mendenting shot glass, mengucapkan selamat datang

Apa yang kita jauhi dari kehidupan sebelumnya? Konsisten pada rencana

Duduk di kursi, bicara cuaca atau

menu makan siang


Bosan

Di lantai ruang kerja semangat melambur

Patah mematah jadi tujuh

Rasa syukur membias, sanak terlepas

Cinta bukan lagi hal mewah kecuali terbayar dengan angka yang

 dikejar

Di tengah kota semua hal menjadi benar

Tidak ada yang ingin mati

sia-sia di sini


Sore cepatlah tenggelam

Di tengah kota para pelancong kehilangan akar

Meneguk hari sambil mengambin setumpuk penyesalan

Mereka terbiasa bicara dalam nada kecewa

Mencari genangan-genangan untuk dilompati

biar rasa aman menelusup di antara paras dan tarian

Tag: Puisi
Next post
Senjakala
Avatar

Dee Hwang

Related Posts