Apakah sesuatu yang setengah-setengah
hanya melulu dipandang sesuatu yang buruk? Yang tak lengkap bahkan yang tak
siap? Mungkinkah sesuatu yang setengah itu dipandang sepenuhnya? Atau, adakah
cara-cara yang berbeda untuk membaca kemungkinan-kemungkinan yang
setengah-setengah itu?
Segudang pertanyaan akan hal yang setengah
di atas mungkin saja akan lebih banyak atau bahkan lebih sedikit, jikalau
melakukan pembacaan terhadap Kacak Kicak, satu-satunya kelompok teater boneka
di Bali saat ini (menurut sepengetahuan saya sendiri).
Begini,
Membaca Teater Boneka Kacak Kicak adalah
membaca sesuatu yang setengah-setengah. Tidak ada yang lengkap, jadi atau pun
utuh di setiap penampilannya. Jauh sebelum kita berbicara bagaimana boneka itu
dimainkan atau dipertontonkan saat Parade Teater Canasta (27/10), dari awal
pembentukan kelompok ini sudah dimulai dengan ide yang setengah-setengah. Hal
ini bisa dilihat pada kutipan pernyataan berikut:
"Kicak berarti anak-anak dalam bahasa
Pedawa. Satu desa Bali Aga di Buleleng, Singaraja. Kacak tidak memiliki makna,
hanya kata tambahan sebagai penguat Kicak. Semoga saja kacak kicak memiliki
makna baru dari perjalanan kelompok kecil ini"
Pemirsa lihat? Eh maaf. Pembaca lihat?
Setengah-setengah! Setengah ada artinya, setengah lagi tidak. Pernyataan
tersebut diambil dari postingan tulisan pertama kelompok ini ketika mulai
memperkenalkan dirinya ke publik. Apakah pemilihan setengah-setengah itu buruk?
Belum tentu.
Jika tak ada ide yang setengahnya
lagi, mendengar kata Kicak bagi sebagian orang Jepara atau Trenggalek akan
menjadi sesuatu yang familiar alias sangat sering didengar. Hal ini karena
Kicak bagi orang Jepara adalah sebuah jajanan yang nikmat disantap untuk
mengawali hari. Dan bagi orang Trenggalek, Kicak taklebih dari sekadar makanan
dari olahan singkong.
Ditambahnya kata Kacak yang tak berarti
kocak (lucu), kucuk (program tv) atau kacuk (bahasa orang Palembang yang
berarti bersetubuh) membuat penyebutan kelompok ini enak dilafalkan, ya
meskipun nirmakna alias takberarti apa-apa, meskipun tujuan awalnya kelompok
ini ingin memiliki makna baru dalam perjalanannya. Itu setengah yang pertama.
Setengah yang kedua adalah dari anggota
kelompok ini. Jika dilihat dan dicari tahu dengan seksama dan dengan tempo yang
sesingkat-singkatnya, kelompok ini adalah setengahnya dari kelompok lain.
Benar, kelompok teater ini tak memiliki kelompok yang benar utuh alias pinjam
sana pinjam sini anggotanya. Pinjam dari Teater Kalangan-lah, dari Kelompok
Sekali Pentas-lah atau bahkan dari kelompok yang rimbanya entah di mana.
Tapi, dengan memperlakukan cara
setengah-setengah ini taklantas membuat kelompok ini teramat sulit
mengorganisir kelompok, malah kebalikannya. Perihal eksplorasi ide, tubuh,
bahkan wacana ia akan mengalir dari pembawaan dan pembacaan hal yang
dipentaskan anggotanya masing-masing.
Setengah yang ketiga adalah perihal ide.
Kita tahu bersama bahwa dalam seni tak ada sepenuhnya hal yang benar-benar
baru, melainkan dari mozaik-mozaik ide dan pengalaman yang telah berlalu.
Hal yang sama terjadi dalam kelompok ini.
Ide penggunaan boneka tak sepenuhnya datang dari Kacak Kicak, melainkan
setengahnya berasal dari teater boneka lain pasca lokakarya teater boneka. Lalu
apakah setengah-setengah ini buruk? Atau mestinya tak dilakukan kelompok ini?
Bisa jadi tidak, berangkatnya kelompok ini pasca lokakarya tersebut malah
menjadikan teater boneka semakin berkembang dan membawa sedikit kebaruan,
paling tidak jika tolok ukurnya adalah kelompok teater di Bali. Sing keto?
Setengah yang keempat dan menjadi setengah
yang terakhir adalah pertujukan yang dihadirkan kelompok ini. Selain
pertunjukan yang dibawakan saat Parade Teater Canasta yang setengah
pementasannya adalah pementasan sebelumnya, kelompok ini membawa kebaruan
setengahnya lagi- dengan menggunakan bantuan LCD proyektor dan beberapa
arsistik panggungnya. Selain itu, setiap pertujukan yang dibawakan kelompok ini
selalu menghadirkan sesuatu yang setengah.
Kacak Kicak di Parade Teater Canasta 2019
Ada hal-hal yang kita layaknya disuapi
realitas dan memiliki makna denotatif, setengahnya lagi penonton atau kita
diberi kesempatan untuk menginterpretasikannya. Mulai dari artistik panggung
dengan sesuatu yang digantung yang bagi sebagian orang membingungkan adalah
sebuah cara yang saya nilai meminta kita mengisi setengahnya. Setengah yang kita
anggap saja adalah kekosongan membuat kelompok teater ini tidak KWMI alias kaya
wacana minim implementasi.
Kekosongan itu sepenuhnya bisa diisi oleh
setiap penontonnya yang bisa saja dihubungkan dengan kepingan-kepingan masa
lalunya sehingga kekosongan itu tak sepenuhnya kosong. Apa iya ini yang sering
diucapkan Biksu Tong Sam Cong dalam Kera Sakti bahwa kosong adalah berisi dan
berisi adalah kosong? Sekali lagi, bisa saja.
Setengah tulisan ini pun adalah setengah
sesuatu yang pernah dihadirkan kelompok ini baik dari tulisan maupun
pementasan. Setengah lagi adalah pembacaan saya yang setengah-setengah. Bahkan
bisa jadi, pembacaannya saya hanya seperempat, seperempat lagi adalah pembacaan
para pembaca. Bisa jadi. Sing keto? Lalu, jika kita balik ke pertanyaan di
awal, bagaimana kalian membacanya? Setengahnya sudah saya tuliskan. [T]
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...