Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
Apakah sesuatu yang setengah-setengah hanya melulu dipandang sesuatu yang buruk? Yang tak lengkap bahkan yang tak siap? Mungkinkah sesuatu yang setengah itu dipandang sepenuhnya? Atau, adakah cara-cara yang berbeda untuk membaca kemungkinan-kemungkinan yang setengah-setengah itu?
Segudang pertanyaan akan hal yang setengah di atas mungkin saja akan lebih banyak atau bahkan lebih sedikit, jikalau melakukan pembacaan terhadap Kacak Kicak, satu-satunya kelompok teater boneka di Bali saat ini (menurut sepengetahuan saya sendiri).
Begini,
Membaca Teater Boneka Kacak Kicak adalah membaca sesuatu yang setengah-setengah. Tidak ada yang lengkap, jadi atau pun utuh di setiap penampilannya. Jauh sebelum kita berbicara bagaimana boneka itu dimainkan atau dipertontonkan saat Parade Teater Canasta (27/10), dari awal pembentukan kelompok ini sudah dimulai dengan ide yang setengah-setengah. Hal ini bisa dilihat pada kutipan pernyataan berikut:
"Kicak berarti anak-anak dalam bahasa Pedawa. Satu desa Bali Aga di Buleleng, Singaraja. Kacak tidak memiliki makna, hanya kata tambahan sebagai penguat Kicak. Semoga saja kacak kicak memiliki makna baru dari perjalanan kelompok kecil ini"
Pemirsa lihat? Eh maaf. Pembaca lihat? Setengah-setengah! Setengah ada artinya, setengah lagi tidak. Pernyataan tersebut diambil dari postingan tulisan pertama kelompok ini ketika mulai memperkenalkan dirinya ke publik. Apakah pemilihan setengah-setengah itu buruk? Belum tentu.
Jika tak ada ide yang setengahnya lagi, mendengar kata Kicak bagi sebagian orang Jepara atau Trenggalek akan menjadi sesuatu yang familiar alias sangat sering didengar. Hal ini karena Kicak bagi orang Jepara adalah sebuah jajanan yang nikmat disantap untuk mengawali hari. Dan bagi orang Trenggalek, Kicak taklebih dari sekadar makanan dari olahan singkong.
Ditambahnya kata Kacak yang tak berarti kocak (lucu), kucuk (program tv) atau kacuk (bahasa orang Palembang yang berarti bersetubuh) membuat penyebutan kelompok ini enak dilafalkan, ya meskipun nirmakna alias takberarti apa-apa, meskipun tujuan awalnya kelompok ini ingin memiliki makna baru dalam perjalanannya. Itu setengah yang pertama.
Setengah yang kedua adalah dari anggota kelompok ini. Jika dilihat dan dicari tahu dengan seksama dan dengan tempo yang sesingkat-singkatnya, kelompok ini adalah setengahnya dari kelompok lain. Benar, kelompok teater ini tak memiliki kelompok yang benar utuh alias pinjam sana pinjam sini anggotanya. Pinjam dari Teater Kalangan-lah, dari Kelompok Sekali Pentas-lah atau bahkan dari kelompok yang rimbanya entah di mana.
Tapi, dengan memperlakukan cara setengah-setengah ini taklantas membuat kelompok ini teramat sulit mengorganisir kelompok, malah kebalikannya. Perihal eksplorasi ide, tubuh, bahkan wacana ia akan mengalir dari pembawaan dan pembacaan hal yang dipentaskan anggotanya masing-masing.
Setengah yang ketiga adalah perihal ide. Kita tahu bersama bahwa dalam seni tak ada sepenuhnya hal yang benar-benar baru, melainkan dari mozaik-mozaik ide dan pengalaman yang telah berlalu.
Hal yang sama terjadi dalam kelompok ini. Ide penggunaan boneka tak sepenuhnya datang dari Kacak Kicak, melainkan setengahnya berasal dari teater boneka lain pasca lokakarya teater boneka. Lalu apakah setengah-setengah ini buruk? Atau mestinya tak dilakukan kelompok ini? Bisa jadi tidak, berangkatnya kelompok ini pasca lokakarya tersebut malah menjadikan teater boneka semakin berkembang dan membawa sedikit kebaruan, paling tidak jika tolok ukurnya adalah kelompok teater di Bali. Sing keto?
Setengah yang keempat dan menjadi setengah yang terakhir adalah pertujukan yang dihadirkan kelompok ini. Selain pertunjukan yang dibawakan saat Parade Teater Canasta yang setengah pementasannya adalah pementasan sebelumnya, kelompok ini membawa kebaruan setengahnya lagi- dengan menggunakan bantuan LCD proyektor dan beberapa arsistik panggungnya. Selain itu, setiap pertujukan yang dibawakan kelompok ini selalu menghadirkan sesuatu yang setengah.

Ada hal-hal yang kita layaknya disuapi realitas dan memiliki makna denotatif, setengahnya lagi penonton atau kita diberi kesempatan untuk menginterpretasikannya. Mulai dari artistik panggung dengan sesuatu yang digantung yang bagi sebagian orang membingungkan adalah sebuah cara yang saya nilai meminta kita mengisi setengahnya. Setengah yang kita anggap saja adalah kekosongan membuat kelompok teater ini tidak KWMI alias kaya wacana minim implementasi.
Kekosongan itu sepenuhnya bisa diisi oleh setiap penontonnya yang bisa saja dihubungkan dengan kepingan-kepingan masa lalunya sehingga kekosongan itu tak sepenuhnya kosong. Apa iya ini yang sering diucapkan Biksu Tong Sam Cong dalam Kera Sakti bahwa kosong adalah berisi dan berisi adalah kosong? Sekali lagi, bisa saja.
Setengah tulisan ini pun adalah setengah sesuatu yang pernah dihadirkan kelompok ini baik dari tulisan maupun pementasan. Setengah lagi adalah pembacaan saya yang setengah-setengah. Bahkan bisa jadi, pembacaannya saya hanya seperempat, seperempat lagi adalah pembacaan para pembaca. Bisa jadi. Sing keto? Lalu, jika kita balik ke pertanyaan di awal, bagaimana kalian membacanya? Setengahnya sudah saya tuliskan. [T]
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...